
"Orang itu bukan dia!"
"Maksudnya?"
Briel penasaran akan apa yang telah Adam informasikan padanya. Adam yang menjeda ucapannya semakin membuatnya penasaran.
Teror yang ia alami bukanlah teror biasa. Apalagi keadaannya sekarang perut Gea sudah mulai membesar. Meski Gea mempunyai keahlian bela dari yang mumpuni, namun semakin sulit ruang gerak Gea saat ini. Dia bertanggung jawab akan keselamatan kedua orang terpenting di hidupnya saat ini.
"Tak ada pergerakan lebih dari Davin. Ia masih aibuk mengembangkan bisnis bawah tanahnya agar aman dari serangan polisi dan semakin berkembang pesat. Sebenarnya bisnis ilegal ini mampu membawanya kembali ke jeruji besi. Namun tak semudah itu kita membobol pertahanannya karena mereka gak sendiri. Mereka banyak dan banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk membongkar bisnis bawah tanah itu."
Adam menjeda ucapannya. Ia merasakan tenggorokkannya begitu kering. "Ehem ehem tamu tuh harusnya disuguhi dengan minuman segar dan makanan riangan ini," sindir Adam dengan sedikit melirik ke arah Briel.
Briel memutar bola matanya malas. "Ck tak usah banyak permintaan. Kerjaan belum beres sudah minta upah! Ambil sendiri sana!"
Sungguh, di keadaan yang seperti ini Adam teramat mengesalkan baginya.
"Gak amnesia kan?!" sindir Briel. "Biasanya saja main nyelonong tanpa permisi giliran begini saja sok manja." Briel mulai ngedumel.
Perkataan Briel sukses membuatnya melirik kesal. Masih sama. Di keadaan yang sudah dibuat penasaran, Briel selalu sewot jika dijeda terlalu lama.
"Iya iya...!" ucap Adam singkat. Ia mengalah. Tujuan awalnya hanya untuk membuat Briel kesal.
Adam menghela napas berat. "Tapi bukan itu intinya. Intinya dia bukan dari Davin. Namun dari orang lain. Dan siapa dia belum bisa diketahui. Akan tetapi mereka menyebutnya dengan Madam L." lanjut Adam.
Briel mengerutkan dahinya. "Madam L? Siapa dia?" tanya Briel. Istilah itu terdengar asing di telinganya. Baru kali ini ia mendengar nama itu disebutkan.
"Iya Madam L. Hanya nama itu. Yang kuketahui Madam L tidak pernah menampakkan wajahnya ke siapapun. Bahkan kepada anak buahnya. Ia benar–benar menyembunyikan identitasnya."
Kekhawatiran itu perlahan membesar. Nyatanya banyak orang yang mengancamnya terutama Gea. Karena ia tahu, semenjak Gea membongkar identitasnya, semakin banyak pula orang yang mulai masuk ke dalam kehidupannya. Apalagi identitas lawan yang tertutup membuatnya sulit untuk mendeteksi siapa dia.
"Lalu apa hubungannya dengan Gea? Padahal selama ini yang kuketahui dari masa lalu Gea tak ada kaitannya dengan banyak hal?" Briel mulai mengingat banyaknya informasi yang ia dapatkan dari kehidupan Gea di masa lalu, tentunya dengan bantuan Larz, detektif andal yang sering ia hubungi.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Sepertinya ada beberapa informasi yang mungkin terlewat ketika kita menelusuri kehidupan Gea."
Briel mengangguk–angguk. Kali ini banyak sekali hal yang melayang–layang dalam otaknya yang semakin membuatnya pusing.
"Hufft baiklah. Nanti coba aku tanya ke Gea tentang hal ini. Siapa tahu dia pernah bermasalah dengan orang itu."
Briel merasa harus mencari tahu dari berbagai aspek agar jawabannya dapat terlihat perlahan.
"Hmm"
Adam setuju dengan apa yang Briel lakukan. Selama itu pula, ia akan terus menggali informasi dari berbagai sumber.
🍂
"Kak Hendri"
"Apa Gey?" sahut Hendri yang masih sibuk mencari suatu barang di dalam rak. Ia hanya melirik sekilas lantaa melanjutkan aktivitas yang sebelumnya ia lakukan.
Gea tengah berpikir. Kekhawatiran yang ia tangkap sekilas dari percakapan Briel dan Adam siang tadi terekam jelas di pikirannya.
"Menurutmu dia siapa Kak?" Gea menatap Hendri dengan tatapan yang meminta jawaban. Hendri berjalan ke meja kerjanya, meletakkan dokumen yang ia cari lantas terdiam sesaat.
"Kurang ajar! Sepertinya dia mulai bertindak. Aku harus segera bertindak sebelum dia berulah lebih jauh!" ujar Hendri dalam hati. Tangannya mengepal erat dengan rahang yang mulai mengeras.
"Kak?!" Gea mulai mengeraskan suaranya. Gelagat yang Hendri tunjukan terlihat aneh baginya.
"Ha?" ucap Hendri spontan lantaran terperanjat. Ia menatap mata Gea yang menuntut penjelasan lebih darinya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Hendri.
"Kakak menyembunyikan apa dariku?" Gea menatap Hendri dengan gagapan menyelidik.
__ADS_1
"Menyembunyikan apa? Aku hanya berpikir dan mencoba mencari sambungan benang merah Gey. Kamu ini ...." Hendri berusaha meyakinkan Gea. Hatinya harap harap cemas sebab Gea bukanlah wanita yang muda dikelabuhi.
Gea mengangguk mengerti. Masuk akal, pikirnya.
"Untung saja," batin Hendri lega. "Namun aku harus memastikannya terlebih dahulu," tekadnya dalam hati.
"Menurut Kakak siapa?"
"Aku tak tahu Gey. Nanti coba kakak bicarakan dengan Bima. Dan kamu berhati–hatilah Gey. Situasi ini sangat berbahaya untukmu!"
Gea mengangguk. Ia setuju dengan berbagai kalimat yang terlontar dari mulut Hendri. Yang jelas, bukan nyawanya yang ia khawatirkan saat ini. Namun nyawa buah hatinyalah yang menjadi prioritasnya. Itu artinya keselamatan nyawanya sangat penting lantaran calon bayinya masih hidup bergantung dari tubuhnya.
🍂
//
Hola haii semua
Maaf ya lama gak up huhuhu 🤧
Ada beberapa hal yang harus Asa selesaikan dikehidupan saya. Makasih ya udah pada mau membaca dan mendukung karya Asa sampai detik ini 😭❣️❣️ Tapi tenang. bagi yang masih ingin membaca sampai habis, Asa akan tamatkan novel ini sampai tamat dan tuntas.
Sebenarnya jika diberi kesempatan, Asa dah ada ide untuk membuat cerita sendiri untuk Adam, Runi, Bima, dan Hendri. Tapi gimana yak 😭 bingung. Menurut kakak–kakak semua bagaimana?
Berikan pendapat kalian di kolom komentar ya
terimakasih semua
muacch 🤗🤗🤗
🍂
__ADS_1
//
Jangan lupa bahagia ❣️❣️