Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
38. Apakah Kamu Menyesal?


__ADS_3

Gea keluar dari kamar mandi. Dia berjalan dengan lilitan handuk di tubuhnya. Ia mengambil paper bag yang ada di atas ranjang.


"Wih … benar–benar sudah disiapkan sama dia."


Gea sudah tidak heran kenapa Briel bisa menyiapkan kebutuhannya. Baginya, menyiapkan hal seperti itu adalah hal yang mudah bagi orang yang mempunyai jenjang sosial seperti Briel. Hal yang mereka inginkan, asalkan ada uang dan kekuasaan, semua akan menjadi lebih mudah. Ia tahu kalau Briel adalah orang yang berpengaruh. Gea bisa melihat dari pembawaan Briel yang berbeda dari kebanyakan orang.


Celana jins dengan baju atasan bercorak kotak–kotak menjadi pilihan outfit yang disediakan hari ini. Parasnya tetap saja cantik, walau tanpa polesan make up di wajah sedikitpun.



🍂


Sudah cukup lama Briel menunggu Gea di mobilnya. Baru kali ini dia harus menunggu orang lain, padahal biasanya dialah orang yang paling ditunggu. Hari ini ia mengalami hal yang sangat terbalik dari biasanya. Berulang kali Briel mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mukanya mulai terlihat kesal. Baginya sepuluh menit menunggu sama halnya dengan setengah jam, terasa begitu lama.


"Ngapain aja sih dia? Kenapa dia lama sekali?"


Briel mulai menggerakkan kakinya karena bosan. Suara hentakan kecil kakinya membentuk suatu suara yang semakin lama tempo itu semakin cepat.


"Baiklah, sepertinya aku harus kembali menjemputnya."


Briel sudah tidak tahan dengan rasa bosan yang menghantuinya kali ini. Ia memutuskan untuk menghampiri Gea.


Dari tangga, Gea melihat Briel datang menghampirinya. Briel berjalan dengan gaya coolnya. Jas berwarna bone dengan kaos putih yang Briel pakai, membuat Briel terlihat lebih fresh. Kacamata hitam telah bertengger manis di hidung mancungnya. Gea tercengang, namun bukan karena terpesona akan ketampanan Briel melainkan karena Briel yang berjalan menghampirinya.



"Eh … bukannya Abang tadi mau menungguku di mobil. Kenapa sekarang ke sini?" tanya Gea.


Alih–alih menjawab, Briel malah melontarkan pertanyaan pada Gea. "Astaga … apa saja yang kamu lakukan? Kenapa lama sekali?"


Gea tercengang. "Ha? Lama dari mananya? Perasaan baru sepuluh menit berlalu? Itupun karena aku berjalan melewati tangga."


Yeahh … begitulah pikir Gea. Ia memilih melewati tangga karena ia ingin turun sekaligus berolahraga ringan dengan berjalan.


Briel berdecak kesal. "Lama itu! Kalau cepet itu cukup lima menit saja!"

__ADS_1


"Sudah tahu ditunggu malah turun melalui tangga!" geruntu Briel lirih.


"Kan niatnya aku mau olahraga kecil–kecilan, Bang," sahut Gea. Ternyata suara Briel masih terdengar di telinga Gea.


"Ada saja jawabannya." Briel heran dengan wanita yang ada di hadapannya ini. Ada saja alasan untuk menjawabnya.


"Dan lagi! Kalau aku aja lama, lalu bagaimana dengan cewek–cewek feminin di luar sana? Aku curiga …"


Gea menjeda ucapannya. Ia menatap Briel dengan penuh selidik. Ia bersidekap di dadanya.


"Jangan–jangan kamu belum pernah pacaran ya, Bang!" Gea mencondongkan tubuhnya ke arah Briel. "Makanya kamu tidak tahu bagaimana lamanya mereka berdandan," lanjutnya.


Briel berdecak kesal. Ia memutar bola matanya malas. Alih–alih menjawab, Briel meraup muka Gea dengan sebelah tangannya. Secara reflek, Gea menutup matanya dengan muka yang sama kesalnya. Decakan kesal keluar dari mulutnya.


"Udah jangan melantur. Mari berangkat!"


Briel mendahului langkahnya menuju ke mobil. Mereka segera berangkat menuju kontrakan Gea.


🍂


"Hai rumah!! Apa kabar?!" teriak Gea ketika ia membuka pintu rumah kontrakannya. Baru kali ini ia tidak pulang ke rumah kontrakannya. Ia berjalan masuk, sedangkan Briel masih berdiri di depan rumahnya itu.


"Loh kemana dia?" ucap Gea ketika ia sadar bahwa ia hanya berjalan sendirian ke dalam rumah. Gea berbalik lagi, menuju ke teras.


"Kenapa gak masuk? Jelek ya, Bang?" tanya Gea. Memang rumah kontrakannya ini adalah rumah kontrakan yang sederhana.


Perkataan Gea membuatnya gelagapan. Bukan itu yang ia maksud. Hatinya mengiba, ia prihatin mengetahui beginilah kehidupan Gea.


"Ck … enggak, bukan begitu. Walau bagaimanapun yang namanya rumah itu tetap sama 'kan fungsinya?"


Gea mengangguk, "ya betul. Jadi?"


"Ya sudah, kamu sudah tahu jawabannya," ucap Briel santai. Gea tidak mempedulikan jawaban Briel.


"Ayo masuk, Bang!" ajak Gea lagi. Kali ini Briel mengikutinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Briel mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan. Sederhana, adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ia lihat. Semuanya terlihat rapi, walaupun barang–barangnya bukan barang mahal.


"Ya beginilah rumahku," ucap Gea seraya masuk ke dalam kamarnya.


Briel juga mengikuti Gea masuk ke dalam kamar. Badan kokohnya ia sandarkan pada dinding di kamar Gea, sementara Gea mulai mengemasi barang–barang yang ia butuhkan. Hanya ada keheningan di antara mereka berdua.


"Apakah kamu menyesal mengambil aku menjadi istrimu?" ucap Gea sambil mulai memasukkan baju–bajunya ke dalam tas.


Pertanyaan itu muncul begitu saja dari padanya. Hidupnya yang sederhana bisa saja membuat kebanyakan pria memilih untuk meninggalkannya. Contohnya saja Davin sang mantan kekasih. Kilasan–kilasan kenangan pahit itu bermunculan.


Gea tersenyum miris. "Mungkin saja ia meninggalkanku karena aku miskin."


Begitulah pemikiran Gea. Siapapun wanita itu, pasti bisa berpikir demikian ketika ia mengetahui siapa selingkuhan kekasihnya. Dan Gea tahu, selain dia kaya, Dela memiliki paras yang tak kalah cantik. Gea tidak bisa memungkiri itu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Briel. Gea berjalan menuju ranjangnya, lalu ia duduk di pinggir ranjang, menghadap ke Briel. Briel masih memandangi Gea dengan tatapan yang sulit untuk Gea artikan.


"Apakah kamu menyesal menikahi wanita miskin sepertiku?"


Sekali lagi Gea bertanya dengan pertanyaan yang lebih gamblang. Bukannya menjawab, Briel malah berjalan ke arah meja yang ada di kamar Gea. Ia mengambil setangkai bunga krisan putih yang ada di vas bunga.


"Saya …?" tunjuk Briel pada dirinya sendiri. Gea mengangguk.


"Sa—"


Dering panggilan masuk terdengar dari gawai Briel.


"Sebentar! Saya mau mengangkat telepon dulu."


Briel berjalan menjauh untuk mengangkat telepon itu.


"Hah ... dasar si gawai lucknut!" geruntu Gea bersama dengan para pembaca karena Briel menunda jawabannya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading semua


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2