
Suara bisikan terdengar di sana sini tatkala Gea mulai memasuki gedung kantor. Awalnya Gea ingin mengabaikannya. Namun lama kelamaan suara bisikan dari para karyawan itu mengganggunya, apalagi karyawan wanita. Mereka terlalu bersemangat untuk menimbulkan desas desus yang mengganggu telinga itu.
Bagaimana tidak mengganggu? Mereka berbisik sambil sesekali meliriknya. Bahkan sesekali Gea mendengar namanya terucap di antara bisikan itu.
"Ck... Kenapa sih mereka? Ada apa denganku?" tanya Gea dengan dirinya sendiri. "Ah bodo amatlah. Kan aku gak salah apa–apa dan ga macam–macam."
Gea mencoba mengabaikan semuanya lagi. Ia berjalan menuju ruangannya.
Di sisi lain, Runi yang baru datang, tak sengaja mendengarkan gosip–gosip tetangga dari dua karyawan yang baru bertatap muka. Ia menyempatkan diri untuk menguping pembicaraan mereka.
"Eihh ternyata Gea tak seperti yang kita bayangkan," ucap Lala pada temannya.
"Hah? Gimana maksudnya?" tanya Lili. Ia belum mengetahui apa–apa. Ia baru saja sampai.
"Iya maksudnya, kamu tahu kan kalau Gea itu wanita yang baik, rajin pula."
"Heem terus?"
"Katanya nih …. Gea ada main sama Bos kita."
"Hah? Bukankah katanya si Bos dah menikah?" Ia terkejut mendengar penjelasan temannya itu. Sementara semangat temannya semakin membara untuk membeberkan informasi yang ia dapat.
"Iya memang sudah menikah. Dan Gea jadi gula–gulanya si Bos."
Gula–gula yang mereka maksud adalah wanita simpanan.
"What? Yang benar saja! Selama ini kan Gea wanita yang baik. Gak percaya ah. Masak dia begitu?" ucapnya tak percaya.
"Heii Mujiah! Ati orang mah kagak ada yang tahu! Siapa tahu kan sikap polosnya hanya untuk menutupi kebusukannya?" ucapnya untuk menguatkan pendapatnya. Ia sering memanggil lawan bicaranya dengan nama yang terlintas begitu saja di pikirannya.
"Bahkan nih ya, kemarin ada yang melihatnya naik ke mobil orang kaya juga."
Lili terlihat tengah berpikir. Ia masih berada di antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana tidak? Gea yang ia kenal adalah orang yang baik. Bahkan ia pernah dibantu mencari kos kosan saat pertama kali ia bekerja di sana.
"Masak sih? Gak percaya aku tuh."
"Terserahlah percaya apa tidak. Ayo masuk. Nanti kalau sampai Bos tahu kita bisa dipecat."
Mereka berdua menuju ke ruangan mereka. Lili masih tidak percaya dengan apa yang Lala katakan. Namun ia diam. Sedangkan Runi keluar dari tempat persembunyiannya. Ia geram karena sahabatnya digosipkan seperti itu. Hal itu sangat melenceng dari fakta yang ada.
__ADS_1
"Kurang ajar mereka. Tidak tahu aja siapa Gea. Ini gak bisa dibiarkan. Aku harus segera mencari Gea."
🍂
"Hemgh …. Hemgh …." Gea menahan mual. Entah mengapa pagi ini ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Sebelumnya ia tak pernah mual di pagi hari walapun ia dalam keadaan hamil. Namun pagi ini ia malah merasa mual saat ia mencium bau parfum karyawan lain yang lewat di depannya.
"Tumben mual," gumam Gea dalam hati.
"Hemgh …. Hemgh... "
Rasa mual itu kembali menyerangnya. Gea menutup mulutnya dengan sebelah tangan sembari berlari ke toilet. Ia memuntahkan semuanya di toilet. Hanya cairan bening yang keluar. Namun rasanya lebih lega.
"Ahh akhirnya."
Gea mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di sana. Ia memegang pegangan pintu, ingin keluar dari sana. Tapi ....
"Eh bener gak sih gosip mengenai Gea?"
Gea menghentikan langkahnya saat ia mendengar samar orang yang tengah membicarakannya. Ia ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Gosip dia jadi gula–gula?"
"Kayaknya sih bener. Ada saksi juga yang melihat dia sering keluar masuk ruangan si Bos."
"Iyakah?"
"Heem."
"Fix berarti kalau begitu."
Mereka berdua terdiam.
"Benar ya …. Penampilan bisa menipu."
"Iya benar."
"Mana aku tadi melihat dia mual–mual lagi. Apa jangan–jangan dia hamil lagi?"
"Bisa jadi tuh. Tapi pertanyaannya, dia hamil sama siapa?"
__ADS_1
Si lawan bicara menghentikan aktifitasnya mencuci tangan. Sedangkan Gea yang ada di balik bilik masih bersabar menunggu apa yang mereka bicarakan sampai akhir, walau hati ingin melempar orang.
"Iya kan dia juga tertangkap basah masuk ke mobil mewah horang kaya."
"Busetdahh laku sekali dia."
"Iya makanya itu. Ihhh"
Gosip semakin panas layaknya acara gosip yang kalu keras di dunia entertainment. Gea membulatkan matanya. Ia geram dengan fakta yang benar–benar sudah ambyar.
"Eheem"
Gea yang berada di balik bilik toilet pun keluar. Ia berdeham cukup keras karena geram dengan apa yang dibicarakan kedua wanita itu sembari bertepuk tangan.
Kedua wanita yang tengah membasuh tangan yang tadinya sempat tertunda itu pun berjengit kaget. Mereka seperti maling yang tertangkap basah. Namun hanya sementara. Selebihnya mereka memandang Gea rendah.
"Wah rupanya tak usah repot–repot membicarakannya di belakang, Si," ucapnya pada Susi, temannya, dengan tangan yang bersidekap.
"Benar sekali Re. Kita malah membicarakannya langsung di depan mukanya," ucap Susi pada Rebe.
"Tak ada utang dosa pun," ucap mereka berdua dengan tawa ejekan yang mengglegar.
Gea tertawa hambar. Suara tawanya yang bahkan terdengar lebih keras dari suara Susi dan Rebe membuat dua wanita itu terdiam.
"Gila," gumam Rebe sinis.
"Ha!!! mulut kalian rupanya sudah kayak resleting dol ya .... Atau jangan–jangan filter kalian sudah rusak? Gak mampu ke tukang servis?! Kasihan …." ucap Gea tak kalah pedasnya.
Mereka berdua melongo. Mereka geram dengan kata–kata yang terlontar dari mulut Gea. Rebe yang pada dasarnya orang yang terbilang kasar pun melayangkan tangannya mengarah ke pipi mulus Gea. Gea tersenyum miring. Ia dapat membaca gerakan Rebe saat itu. Ia bersiap untuk menangkis tamparan itu, tapi ….
"Gea!" panggil Runi tiba–tiba.
Gea tersenyum miring. Sedangkan Rebe kesal karena tangannya tertahan. Amarahnya sudah berada di ubun–ubun, bersiap meledakkan amarahnya.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕