
Gea berjalan menyusuri trotoar di sore itu. Ia berjalan sendirian di sana. Briel tengah meeting dengan client–nya. Sudah dipastikan akan pulang cukup malam. Gea yang tak betah menunggu terlalu lama memutuskan untuk pulang sendiri.
Kali ini Gea kekeuh ingin menikmati harinya dengan pulang sendirian tanpa diantar oleh sopir yang Briel perintahkan untuk mengantar Gea pulang. Namun begitu, Briel tak akan membiarkan istrinya pulang sendiri tanpa pengawasan. Gea menggunakan jaket hitam berkerudung dengan topi dan kacamata hitam. Ia menatap jalanan yang cukup ramai itu sembari berjalan santai.
"Ahhh … lama sekali aku tak berjalan santai seperti ini."
Gea menghirup dalam udara yang di suguhkan di sekitarnya. Senyuman manis mengembang di wajahnya. Ia mengamati lalu lintas di sekelilingnya.
Grep
Tiba–tiba saja ada pria tak dikenal membungkam mulut Gea.
"Emmm …."
Gea bergumam, meronta, meminta dilepaskan. Namun apa daya. Kekuatan pria itu lebih kuat, ditambah dengan obat bius yang ia gunakan untuk membungkam Gea membuat tenaga Gea melemah. Gea tak bisa melawan pria itu.
Pria itu tersenyum miring, karena target telah berada di tangannya. Ia membopong Gea masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil sudah ada 2 orang temannya yang sudah menunggu. Mereka membawa Gea ke suatu tempat.
Salah seorang dari mereka memainkan gawainya. Ia berusaha menghubungi tuannya. Ia mengaktifkan loudspeaker tatkala panggilan itu terhubung.
"Tuan, target telah berada di tangan kami," ucap pria itu pada orang di seberang telepon. Ia tersenyum puas karena apa yang ia kerjakan berjalan dengan semestinya.
"Cepat, bawa ke markas! Pastikan tidak ada orang yang membuntuti kalian!"
"Baik, Tuan."
Panggilan itu pun diakhiri. Ia menyimpan kembali gawai itu di sakunya.
"Bawa ke markas!"
Sang pengemudi mengangguk. Ia mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang lebih cepat ke markas agar pergerakannya tam diketahui.
🍂
"Bawa dia masuk ke dalam!" perintahnya pada anak buahnya. Anak buahnya itu kembali membopong Gea ke dalam markas.
Mereka mengikat tangan dan kaki Gea menggunakan tali tanbang dengan erat. Mereka tak ingin Gea lepas begitu saja.
"Sudah?" ucap salah satu kepada yang lain.
Yang lainnya mengangguk sebagai jawabannya. Mereka keluar meninggalkan Gea sendirian di dalam.
"Aihh dasar! Untung saja aku berusaha tak menghirup obat bius itu!" gumam Gea lirih. Ia membuka matanya setelah pria–pria itu pergi.
__ADS_1
"Aku hirup sedikit saja, sudah dipastikan aku tak tahu apa yang akan terjadi."
Waktu pria itu membungkam Gea, sekuat tenaga Gea berusaha tak bernapas agar tak menghirup obat bius itu. Ia sudah memperkirakan bahwa kain yang digunakan untuk membungkamnya telah diberi obat bius. Gea berpura–pura pingsan agar lebih meyakinkan. Ia ingin mengetahui siapa orang yang selama ini membuntutinya. Apakah dia memang Davin, atau yang lainnya.
Di perjalanan, Gea mendengarkan percakapan di antara mereka. Dan akhirnya dia pun tahu, bahwa dalang dari semuanya adalah Davin. Ia mengenal baik bagaimana suara Davin dari suara panggilan yang di loudspeaker.
"Cih, dasar banci! Beraninya main culik saja!" umpat Gea untuk Davin. Ia geram dengan tingkah Davin yang semakin menjadi.
Pintu pun terbuka. Gea segera memejamkan matanya kembali. Suara derap langkah kaki dari sepatu yang dikenakan orang itu terdengar jelas di telinganya. Gea berusaha keras untuk bersikap setenang mungkin seperti orang yang tengah pingsan agar sandiwaranya tak diketahui.
Perlahan suara itu terdengar semakin jelas, dekat dan semakin mendekat. Lalu kembali hening tatkala terasa ada seseorang berhenti tepat di depannya.
"Tenang, Gey, tenang!" gumam Gea dalam hati untuk mengingatkan dirinya sendiri. Ia harus berusaha setenang mungkin. Gelisah sedikit saja, semuanya akan berakhir.
Gelak tawa seorang pria terdengar di ruangan itu. Tawa itu terdengar gila.
"Akhirnya kamu berada di tanganku kembali, Gey," ucapnya di sela tertawanya.
"Sialan! Benar–benar dia! " batin Gea geram.
Davin berusaha meredam tawanya itu. Ia berjongkok mengamati wajah cantik Gea dengan mata Gea yang terpejam. Ia membelai lembut wajah Gea.
"Aihh singkirkan tangan najismu itu!" perintah Gea dalam hati. Ia jijik dengan sentuhan itu. Ingin sekali ia menepis tangan itu. Namun keadaan belum memungkinkan. Ia tak mau dirinya dalam bahaya karena ulahnya yang gegabah.
"Astaga …. Kenapa aku baru sadar kalau kamu berlian yang sesungguhnya? Untuk apa aku menikahi Dela kalau pada akhirnya ternyata kamulah ahli waris yang sesungguhnya."
Davin menertawakan kebodohannya. Yang ia tahu, posisi anak kandung lebih kuat dari anak tiri. Itulah yang Davin tahu. Tapi Davin tak mengetahui jika Dela juga anak kadung Edi Wiyarta. Yang ia ketahui Dela hanyalah anak tiri Edi Wiyarta.
Davin memang gila harta. Apalagi setelah ia tahu bahwa perusahaannya mengalami sedikit kemunduran. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan keadaan perusahaannya. Dan dia berhasil menstabilkan perusahaannya kembali setelah berhasil menikahi Dela.
"Awalnya aku ingin menikahimu karena kecantikanmu. Namun sayangnya saat itu kamu menolakku secara terang–terangan. Harga diriku terlukai!"
Terselip amarah di setiap kata yang terlontar dari mulut Davin. Entah mengapa rasa penolakan itu teramat menyakitkan baginya ketika ia mengingatnya. Ia sendiri bahkan tidak tahu rasa apa itu. Padahal yang sesungguhnya, Davin memang mencintai Gea. Sayangnya, cinta itu tertutup oleh nafsu yang membara dalam diri Davin.
Davin menyampaikan keluh kesahnya pada Gea yang ia kira pingsan. Ia tak mengetahui bahwa Gea sebenarnya hanya berpura–pura. Davin kembali berdiri. Ia berputar 45 derajat ke arah lain dengan kesal.
"Dan datanglah Dela, yang ternyata adalah kakakmu. Dia datang menggodaku lebih dulu. Dan ternyata yang khilaf itu nikmat." Davin mulai menceritakan apa yang terjadi. Tawa hambar terdengar jelas di telinga Gea.
"Kukira sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Namun ternyata aku bodoh!"
Davin kembali berjongkok. Ia menatap lekat wajah Gea. Tangannya mulai membelai lembut wajah Gea kembali.
"Dan hari ini, aku akan menjadikanmu sebagai milikku Gey! Se–la–ma–nya!" gumamnya lirih penuh penekanan.
__ADS_1
"Cihh .... Tidak akan pernah! Dalam mimpimu saja aku tak sudi!" batin Gea.
Ingin sekali ia meludahi wajah Davin. Sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Diam–diam tangan itu mengepal erat di belakang tubuhnya. Tangannya yang terikat tak memungkinkannya untuk melawan Davin. Yang ada bisa daja dia mati konyol di sana.
"Persiapkan pernikahan dadakanku dengan Gea!" seru Davin pada anak buahnya yang ada di sana.
"Baik, Bos!" seru anak buahnya serentak.
Davin tersenyum miring.
"Tunggu Sayang…. Sebentar lagi impianmu untuk menikah denganku waktu itu akan segera terwujud. Cepatlah sadar, agar semuanya segera terlaksana!"
Davin bangkit berdiri. Dia pergi meninggalkan Gea sendirian di dalam markas dengan tangan dan kaki yang terikat.
Suara pintu tertutup pun terdengar. Gea kembali membuka matanya. Ia menatap tajam di mana Davin menghilang di balik pintu.
"Bedebah sialan! Badjingan!" umpat Gea untuk Davin.
"Arrgh ... aku menyesal pernah sebodoh itu!"
Gea menertawakan kebodohannya karena pernah setulus itu mencintai Davin. Bahkan membiarkan dirinya hanyut dalam sakit hati yang Davin ciptakan. Tidak tahunya, Davin memiliki otak licik dibalik perlakuan manis di kala itu.
"Terimakasih Tuhan karena waktu itu aku tak jadi menikah dengannya."
Seketika rasa syukur itu mengalir dalam benaknya, melegakan jiwanya. Ia tak tahu apa jadinya jika seandainya Tuhan mengijinkan dirinya untuk menikah dengan Davin. Ia tak bisa membayangkan betapa sakitnya bersanding dengan Davin seumur hidupnya.
"Aku harus keluar dari sini!"
Tekad Gea sudah bulat. Ia tak ingin berakhir di tempat itu. Tak rela dirinya berakhir pada kegelapan yang membelenggunya seumur hidupnya.
🍂
//
Bagaimana Gea menyelamatkan dirinya? 🤭🤭
dudududu 🏃♀🏃♀🏃♀🏃♀
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕