Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
64. Gegara selimut


__ADS_3

Hemghh


Gea menarik tangannya ke atas. Ia berusaha merenggangkan otot-otot badannya yang terasa kaku. Rasa capai dapat ia rasakan di sekujur tubuhnya setelah seharian penuh beraktivitas dan pulang larut.


"Eh ? Belum sampai rumahkah si Abang?"


Gea mengedarkan pandangannya ke setiap sudut apartemen. Hanya sepi yang ia lihat di sana. Ia tak melihat Briel di sepanjang netranya memandang. Gea memutuskan untuk masuk ke kamar. Ruangan itu gelap. Lampu masih belum di nyalakan.


Gea menekan saklar yang ada di dinding untuk menyalakan lampu kamar.


"Belum pulang mungkin ya?"


Gea mencoba melihat ke seluruh sudut kamar, tapi nihil. Briel tak ia temukan di sana. Gea mengangkat alisnya sembari mengedikkan bahunya.


Mungkin ia masih di kantor karena ada keperluan mendadak. Gea bermonolog. Memutuskan dari apa yang ia lihat.


Ia bersenandung ria, menyanyikan lagu kesukaannya 'Too Good at Goodbyes' yang dipopulerkan oleh Sam Smith. Lagu ini cukup mengingatkannya untuk tetap berdiri tegak karena sebuah perpisahan yang menyakitkan.


"Ahh mumpung tidak ada Abang, mari pakai kamar ini sesuka hatimu, Gey."


Gea menaruh sling bag nya di ranjang. Perlahan ia mulai melepas kain yang menempel di badannya satu-persatu hingga terlepas semua. Tak ada sehelai benang pun yang masih menempel di tubuhnya. Ia menaruh semua bajunya di ranjang agar tak berceceran di mana-mana. Rasa gerah yang melandanya membuatnya ingin segera membersihkan tubuhnya.


"AAAAaaaaaa..." teriak Gea.


Betapa terkejutnya Gea tatkala membalikan badannya. Ia melihat Briel telah duduk di sofa dengan tatapan yang sayu. Gea langsung berjongkok. Tangannya merangkul kakinya sendiri dengan erat. Tubuhnya yang tak tertutup sehelai kain pun terpampang nyata di depan Briel.


Briel menatap Gea tanpa kedip. Jantungnya bergemuruh dan terpacu begitu kencang. Disuguhkan dengan pemandangan indah yang baru pertama kali ia lihat membuatnya panas dingin. Susah payah ia menelan salivanya. Tenggorokkannya terasa begitu kering.


"Abanggg!!!! Kenapa masuk tidak bilang, Bang?!" ujarnya dengan suara keras.


Gea menenggelamkan wajahnya di sela lututnya. Posisinya serba salah. Jika ia berdiri dan lari, maka tubuh polosnya akan terlihat oleh Briel. Bahkan bergerak sedikit saja ia kesulitan. Pipinya terasa panas. Wajahnya telah berubah merona karena menahan malu.


Briel menghela napas kasar utuk mengendalikan dirinya yang saat ini memang sulit untuk ia kendalikan.


"Sudah dari kamu masuk ke dalam kamar ini. Aku telah berada di kamar ini terlebih dahulu."


Ucapannya terdengar santai, namun siapa sangka, di dalam dirinya yang terdalam, ia benar-benar gelisah. Hawa panas telah mengalir begitu cepat.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang, Bang?"


Sungguh. Kali ini Gea benar-benar malu. Ia tak berpakaian di depan orang lain, bahkan lawan jenisnya sendiri.


"Bagaimana aku mau bilang? Aku saja tadi tertidur di sofa ini. Sedangkan aku terbangun tatkala kamu bersenandung sembari melepas bajumu. Mau tidak mau aku terpaku saja. Kamu kan juga tidak bertanya."


Briel berbicara jujur. Itulah kebenarannya. Ia tak menyembunyikan apapun. Hal itu membuat Gea semakin malu.


"Dasar mesum!!!" umpat Gea.


β€œHeii!!! kamu sendiri yang kurang memperhatikan ada tidakkah orang di sini," bantahnya. Briel tak terima disalahkan begitu saja.


Gea merutuki dirinya sendiri. Benar kata Briel. Di sini yang salah adalah dia. Gea sembarangan melepas pakaiannya tanpa melihat dengan teliti. Saat ini, Gea berusaha memutar otaknya agar bisa segera berdiri dan memakai pakaiannya kembali.


Cukup lama Gea bergeming, tak bergerak sedikitpun. Briel menggeleng, gemas dengan sikap Gea. Briel menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Ia berjalan mendekat, semakin mendekat ke arah Gea.


"Hei!!! Jangan mendekat, please ?" pinta gea.


Gea berteriak-teriak agar Briel berhenti berjalan. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Briel terus melangkah tanpa mengingahkan teriakan Gea.


Briel berhenti tepat di depan tubuh Gea yang masih berjongkok. Jantung Gea bergemuruh. Laju detaknya demakin cepat. Ia semakin menenggelamkan tubuhnya tatkala Briel seperti mengungkungnya.


Tak disangka, Briel mengambil selimut di ranjang yang berada di belakang tubuh Gea. Ia menutupi tubuh polos Gea dengan selimut itu. Gea tercengang. Ia tak menyangka Briel memilih untuk menyelimuti tubuh Gea dari pada memangsanya langsung. Posisi Gea saat ini memang menguntungkan untuk seorang Briel. Namun melihat Gea yang seperti itu membuat Briel mengurungkan niatnya, mengendalikan dirinya sendiri.


"Untuk saat ini kamu selamat. Namun jangan harap nanti kamu selamat. Jika terulang lagi, aku tidak akan pernah melepaskanmu."


Ucapan itu membuat Gea tersadar tatkala Gea menatap Briel tanpa kedip. Senyum misterius terukir dari bibir Briel membuat Gea merinding. Gea segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus melarikan diri dari hadapan Briel.


Briel memandang Gea yang menjauh dengan senyum geli. Baginya tingkah Gea semakin menggemaskan di matanya.


Di dalam kamar mandi, Gea menutup pintu itu cukup keras.


"Bodoh kau, Gey!" rutuknya sendiri.


Mengingatnya saja sungguh membuatnya malu. Ia mengguyur tubuh dengan air dingin.


"Aaaa ... bagaimana nanti kalau aku keluar dan bertemu dengannya lagi? Sunguh ku tak memiliki keberanian untuk menampakkan diriku di depannya nanti. Astaga ..."

__ADS_1


Gea tak memiliki keberanian di dalam dirinya. Ia masih malu dengan apa yang telah terjadi. Ia kembali mengusap wajahnya yang teraliri oleh air yang mengguyurnya dari shower yang menyala.


Seusainya mengguyur tubuhnya, Gea kembali membalutkan selimut tebal ke tubuhnya. Ia tak peduli dengan selimut yang basah karena dirinya. Ia berjalan dengan langkah mengendap-endap. Bahkan Gea mengintip di balik pintu untuk melihat apakah Briel masih di sana atau tidak.


"Aman ...."


Rasa lega menyelinap ke dalam hatinya tatkala ia tidak melihat Briel di sana. Ia celingukan ke sana ke mari untuk memastikannya sekali lagi. Kemudian ia keluar dari kamar mandi. Ia berjalan ke walk in close, untuk berganti pakaian.


Lagi-lagi ia terkejut. Di sana ia malah melihat Briel tak berpakaian. Briel tengah berganti pakaian membelakangi dirinya. Gea segera membalikkan tubuhnya. Ia memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya. Ia merutuki kebetulan yang menyebalkan ini.


"Sial ... bukannya terhindar malah masuk ke dalam jebakan lainya."


Kilasan tubuh Briel yang terlihat dari arah belakang membuatnya yakin bahwa tubuh Briel sangatlah atletis. Hal itu membuat otak Gea bergerak ke mana-mana.


"Astaga .... Sadarlah, Gey!" Gea menggeleng lalu memukul pelan kepalanya sendiri. Di saat yang seperti ini ia malah memikirkan yang lainnya.


Dengan hati-hati Gea berjalan untuk kembali ke kamar mandi.


Gubrak jeduak...


Tiba-tiba saja, selimut yang melilit tubuh Gea membuatnya tersandung. Kepalanya terbentur dinding cukup keras. Ia jatuh pingsan karena benturan itu.


"Bunyi apa itu?" gumam Briel. Ia membalikkan badannya.


"Astaga!!!!"


Briel yang tengah asik berganti itu terperanjat melihat tubuh Gea terbaring di lantai. Dengan cepat ia menyelesaikan dirinya untuk berganti pakaian. Ia mendekat ke arah Gea.


Briel menyibakkan rambut yang menutupi wajah Gea. Ia melihat dahi Gea yang memerah, bahkan seperti ada penggumpalan darah luar di sana. Lalu ia membopong Gea. Briel membawanya Gea kembali ke kamar dan menidurkannya di ranjang miliknya. Gurat kepanikan terlihat jelas di wajahnya.


πŸ‚


Astaga Asa bingung mau menulis apa πŸ˜‚πŸ˜‚ Yakin dah Asa bingung. Ada yang tahu service otak konsleting di mana? 🀣 yg tahu kasih tahu Asa πŸ’ƒ


πŸ‚


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia πŸ’•πŸ’•


__ADS_2