
Edi mengambil laptopnya lantas memutar video yang ada di file itu. Betapa terkejutnya ia kala melihat apa isi video itu. Gurat kemarahan di wajahnya menjelaskan betapa marahnya dia.
"Kurang ajar!!!"
Prang!!!
Kemarahannya membuat Edi hilang kendali. Laptop itu terlempar hingga pecah. Dalam video itu terlihat bahwa Claralah yang membuat Annaya terjatuh. Benar–benar pintar. Di sudut ruangan itu tak ada CCTV rumah yang menyorot. Namun sayangnya, CCTV jalan tak membiarkannya lepas begitu saja. Namun tetap saja. Selama ini ia benar–benar kecolongan. Ia terlalu terlena dengan sikap baik Clara yang selama ini ditunjukkan padanya.
"Akan kucari kau sampai dapat wanita ular! Tak semudah itu kau pergi dari hidupku!"
Edi bergegas ke luar kamar. Ia menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas nakas. Roinah dan Arman hanya menatap kepergian Edi tanpa berani bertanya. Mereka tak punya hak untuk mengurusi kehidupan pribadi majikannya.
"BIMA!!!"
Tiba–tiba saja pintu ruangan Bima terbuka paksa. Bima yang semula terfokus dengan pekerjaannya pun menghentikan aktivitasnya.
Ia menyipitkan matanya. "Paman? Ada apa Paman ke sini?"
"Apa maksudmu memberiku flashdisk ini sekarang?"
Kesal. Iya kesal. Edi begitu kesal dengan Bima saat ini. Ia tak mampu menyembunyikannya.
"Aku hanya ingin memberitahu Paman."
"Sudah tidak berguna! Arrggh semua sudah terlambat. Kenapa baru sekarang Bima?"
Edi meletakkan kedua telapak tangannya di pinggangnya. Tubuhnya bergerak gelisah ke sana ke mari.
__ADS_1
"Ya aku baru menemukannya kemarin Paman. Itu pun karena aku mengecek CCTV jalan belakang rumah Paman yang mengarah ke rumah Paman."
Apa yang Bima ucapkan memang benar. Sebelumnya ia juga tak pernah kepikiran akan hal itu semua. Apa yang terjadi di masa lalu sangatlah masuk akal hingga tak bisa dicurigai pergerakannya. Apa lagi kekuasaan Edi belum sebesar sekarang. Tidak semudah itu mendapatkan data yang ia perlukan.
"Sial! Cari, temukan dia, dan seret dia ke kantor polisi. Aku meminta hukuman yang berat."
"Lah kenapa aku Paman?" Bima menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk tangannya.
"Ya kamu! Dia sudah pergi. Dan untuk itu, kamu harus bertanggung jawab."
Hanya Bima yang bisa membantunya saat ini. Keponakannya itulah yang begitu ahli di bidang itu.
Amarah begitu menguasai dirinya hingga Edi kesulitan mengendalikan emosi itu. Tua ataupun muda tak bisa menjadi tolok ukur seseorang untuk bisa mengontrol emosi mereka.
Edi menghela napas kasar. "Bim ... Paman minta bantuanmu. Temukan dia! Paman tak tahu dia ada di mana. Dia bilang mau menikah lagi. Tapi dengan Dela yang masih bisa dibilang bersamaku, itu tak akan mungkin."
Yakin, Bima akan melakukan semuanya itu. Ia hanya berharap, wanita itu belum pergi jauh.
🍂
"Angkat dong Mi ... Mami kemana sih? Sampai sekarang pun tidak ada kabar. Dasar Mami tega!"
Dela berjalan mondar mandir ke sana ke mari, gelisah kala Clara tak kunjung mengangkat teleponnya. Ia kecewa dengan Clara lantaran meninggalkan Dela begitu saja.
"Aiss bodo amatlah! Yang penting aku masih sama Papi. Hidupku gak akan sampai sengsara."
Dela membanting gawainya di ranjang yang diikuti dengan membanting dirinya sendiri, melepas penat. Matanya terpejam sembari menikmati semilir sejuknya pendingin ruangan yang ia hidupkan.
__ADS_1
Tiba–tiba saja gawainya berdering. "Ck siapa sih yang menggangguku!"
Dela meraih gawainya dengan bersungut–sungut. Ia menatap layar utama gawai itu.
"Nomor siapa ini?" Dela berpikir sejenak. Ragu, ia membiarkan gawainya berdering. Cukup lama gawai itu berdering hingga membuat ia penasaran. Dela menggeser ikon hijau di layarnya.
"Halo ini siapa?"
"Jangan pernah cari Mami. Lakukan apa yang telah menjadi bagianmu! Kalau ada yang bertanya Mami di mana, jawab saja tidak tahu!"
"Mami sekarang di ... Arrghhh!"
Dela membanting kembali gawainya itu. Tampa diberi kesempatan untuk berbicara apapun, Clara telah mematikan sambungan teleponnya. Bahkan kala Dela menghubungi nomor itu kembali, nomor itu sudah tidak aktif.
"Apa bagianku?" tanya Dela dalam kesendirian. Ia tak tahu apa maksud Clara.
"Bodo amatlah! Terserah! Mau dia nikah lagi mau apa terserah Mami! Aku mau tidur!"
Sementara itu, di tempat lain, Clara merebahkan dirinya di sebuah bath up dengan aroma terapi yang menenangkan. Ia tersenyum miring. "Aku tak sebodoh yang kalian kira," ucapnya sembari memejamkan matanya, menikmati harinya.
Menikah dengan orang lain bukanlah alasan yang sesungguhnya. Ia hanya menggunakan alasan itu sebagai kedok lantaran ia tak ingin dianggap remeh mereka semua.
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕