Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Ada Ada Saja


__ADS_3

"Aku tidak bisa seperti ini. Aku pergi dulu."


Tidak lama setelah kehadiran Daniel, Briel memutuskan untuk pergi dari sana. Ia tidak bisa terus terusan merasa seperti ini. Pergi hanya untuk membohongi diri dan membiarkan kekhawatiran semakin mendominasi. Percuma raganya berada di sana namun pikiran dan setengah jiwanya tertinggal di rumah sakit bersama dengan bagian hidupnya.


"Mau ke mana?" tanya Xavier.


"Pulang," jawabnya singkat. Ia berdiri sembari menatap ke arah ketiga orang yang lainnya secara bergantian.


"Secepat ini?" tanya Daniel. Apa yang ia lakukan belum tuntas. Ia datang ke sana karena bos mereka memerintahkan untuknya datang menemani Briel, namun pada akhirnya kala ia ada di sana Briel malah pergi begitu saja.


"Tidak cepat. Ini terlalu lama bagiku," ungkap Briel jujur. Detik demi detik yang ia lalui terasa begitu lama baginya. Ia ingin segera mengakhiri perasaan yang tiada kunjungnya itu.


Seketika itu juga Daniel mendapatkan hadiah istimewa, yaitu tatapan tajam dari Xavier yang menyambut Daniel. Seketika itu juga Daniel menghembuskan napasnya kasar.


"Yeah ... Pergilah! Namun, apakah kau tidak ingin melihat hiburan untuk sejenak?"


Daniel menawarkan pada Briel untuk melihat bagaimana kondisi Davin saat ini. Mungkin dengan begitu, Briel dapat sedikit mempercepat waktunya, atau setidaknya dia puas karena musuhnya mendapatkan bagian yang setimpal.


"Tidak perlu. Itu untuk kalian. Bukankah hal itu menjadi hal yang menyenangkan untuk kalian?"


Briel hapal betul ketiga orang di depannya itu. Mereka bertiga tidak segan–segan menghabisi nyawa musuhnya bahkan dengan jal–hal yang tidak pernah terbayangkan. Apalagi kala mereka benar–benar muak.


Mereka bertiga mengangguk. "Iya, tapi jika kau mau, kau bisa ikut bersama kami."


"Bukan kami. Kalian saja!"


Tiba–tiba Xavier menyahut perkataan Nico. Ia membenarkan apa yang dikatakan Nico. Daniel dan Nico menyipitkan matanya, mereka terheran dengan perkataan Xavier.


"Aku pulang besok pagi. Aku tidak bisa meninggalkan istriku terlalu lama," ucapnya.


Xavier mengatakannya jujur. Tidak ada sedikitpun kebohongan di kedua manik mata itu.


"Hanya membereskan cecunguk itu mudah bagi kalian. Aku tidak perlu turun tangan langsung," lanjutnya kemudian.


"Heih ... Begitu saja kau sudah kangen," celetuk Daniel.


"Kalau tidak tahu tidak usah berkomentar!" ucap Xavier sedikit ketus. "Di pikiranmu saja hanya wanita wanita dan wanita, jerkk!"


Tidak ada jawaban lain. Daniel hanya cengengesan, karena itulah fakta yang memang terjadi.


Briel terkekeh ringan. "Kau akan merasakannya kelak kala kau bertemu dengan wanita yang tepat, Dude."


"Yayayaya mungkin tidak akan mungkin bagiku." Daniel sangat percaya diri. "Para wanita cantik, sayang untuk di tolak." Daniel tersenyum mesum.


Briel mengedikkan bahunya. "Bersihkan pikiranmu Daniel!" Briel melempar korek api yang ada di sana ke arah Daniel.

__ADS_1


Briel menggelengkan kepalanya pelan. "Ada–ada saja.... yeah ... sekarang kau bisa bilang begitu. Kuharap nanti..."


Briel melebarkan kedua belah sudut bibirnya. Daniel bisa berkata seperti itu karena Daniel belum mengetahui bagaimana rasanya hidupnya berada dalam genggaman seseorang yang menjadi jiwanya.


Seusai mengatakan itu Briel pergi dari sana.


🍂


Sementara itu di sebuah jalan yang lenggang, ada sepasang manusia yang duduk saling terdiam. Bahkan untuk saling menatap pun mereka enggan.


Keheningan itu membuat malam semakin menyebalkan untuk mereka. Runi memutuskan untuk menghidupkan musik di dalam mobil. Lagi itu melantun indah. Namun lagu itu terlalu romantis apa lagi malam itu cuaca sedikit gerimis.


"Ck lagu norak!" gumam Adam yang tentunya masih terdengar jelas di telinga Runi.


Seketika Runi menyipitkan matanya. Ia menatap ke arah Adam. "Kalau tidak suka tinggal pura–pura tidak dengar!"


"Pura–pura nenek moyangmu?! Telingaku masih normal. Apa lagi kau tidak kira–kira mengatur volumenya."


Volume suara musik itu tidak keras. Namun lantaran ia tidak menyukainya, bagi Adam musik itu teramat mengganggu telinganya.


"Matiin!"


"Apa urusanmu menyuruhku mematikan musik?" Runi tidak ingin kalah ataupun berniat mengalah.


Tidak ada jalan lain. Ancaman adalah jalan ninja yang jitu untuk memenangkan perdebatan. Apa lagi suasana di jalan itu sepi dengan minim pencahayaan.


"Aihhhh menyebalkan! Ancam ancam, sedikit–sedikit ancam ancam." Runi ngedumel dalam hati.


Runi tidak memiliki pilihan lain. Ia memutuskan untuk menuruti apa kata Adam dari pada ia berjalan sendirian di malam itu. Karena bagaimanapun ia kelupaan tidak membawa gawainya. Melihat Adam bersiap dan ingin pergi ke rumah sakit menjemput Tere, Runi mengekori Adam. Ia juga ingin ke rumah sakit untuk melihat bagaimana sahabatnya.


Adam tersenyum penuh kemenangan. Posisi terdesak Runi membuat Adam mampu melihat sisi kelemahan Runi.


🍂


"Bunda" Briel mendekat ke arah Tere lantas mencium punggung tangan sang ibunda. Begitu pun juga dengan Xavier yang berjalan di belakang Briel.


"Loh kok secepat ini. Bukankah Bunda tadi menyuruhmu untuk menghilangkan penat?"


"Aku tidak perlu itu, Bun. Berada di luar terlalu lama hanya akan membuatku semakin kacau," jelas Briel.


Tere menghela napas kasar. "Baiklah kalau itu maumu, Nak. Bunda tidak akan menyuruhmu lagi." Tere mengelus pundak Briel lembut dengan senyuman hangat yang mengembang di kedua sudut bibir Tere.


"Briel, Aunty, bolehkan aku melihat bagaimana kondisi Gea?" Izin Xavier. Ia ingin melihat bagaimana kondisi istri dari sahabatnya itu sebelum ia kembali terbang untuk pulang.


"Boleh Vie, silahkan," sahut Tere. Briel hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui hal uang sama.

__ADS_1


Hanya sebentar. Tidak lama kemudian Xavier telah kembali.


"Bunda, bagaimana Bunda nanti pulang?" tanya Briel. Ia ingin memastikan sang ibunda selamat sampai rumah kembali.


"Bisa kok. Bunda sudah meminta Adam untuk menjemput Bunda. Kamu tenang saja." Tere mencoba memberikan pengertian pada anaknya. Karena bagaimanapun, dengan peristiwa kemarin membuat Briel menjadi pribadi yang lebih waspada.


"Baiklah."


Cukup lama mereka menunggu kedatangan Adam namun tak kunjung terlihat sehelai rambutpun. Berulang kali Briel menelpon Adam, namun malah semakin membuatnya kesal.


Adam tidak mengangkat panggilannya.


"Sialan! Awas saja gajimu akan aku potong!" umpat Briel merutuki keterlambatan Adam.


"Sudah–sudah, biarkan. Bunda bisa pulang sendiri kok. Bunda sudah tua. Pasti untuk pulang tu hal yang mudah."


"Tidak bisa! Bunda harus pulang dengan selamat." Briel ingin memastikan keselamatan Tere.


"Biar Aunty pulang bersamaku, Bri, sekalian aku mau pulang. Besok aku harus pulang," tawar Xavier.


Briel menghela napas lantas berkata, " Baiklah aku titip Bunda. Aku percaya padamu."


Sementara itu di jalan yang terbilang cukup sepi, ada keributan tersendiri.


"Eh eh eh eh minggir–minggir," ucap Runi panik. Mobil yang mereka pakai oleng begitu saja.


Adam berusaha meminggirkan mobilnya, mencoba memegang kendali lebih. Ia berhenti di dekat jembatan kota itu. Tak menunggu waktu lama, Adam turun dari mobil segera, begitupun juga dengan Runi.


"Shiitt!!" umpat Adam. Adam melihat sebelah ban mobilnya kempes. Pantas saja mobilnya bergoyang.


"Astaga Tuhan ... Ada–ada saja! Bisa–bisanya di saat genting begini pake acara bocor ban!" keluh Runi.


Adam berdecak kesal. "Tidak usah banyak merengut! Omelanmu hanya akan membuatku makin pusing!"


Runi mencebikkan bibirnya. Namun Runi juga terdiam meski dengan wajah yang menahan kesal.


Mereka celingukan mencari pertolongan namun tidak ada sedikitpun orang yang mau singgah sebentar membantu mereka.


🍂


//


Happy reading gaeess,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2