Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
50. Obat


__ADS_3

Hingga beberapa waktu kemudian, Briel melihat Gea masih diam di posisi semula. Briel memutuskan untuk mendekat ke arah Gea. Ia duduk di depan Gea, menatap Gea lembut. Saat itu Gea bergeming, tak memperdulikan apa yang dilakukan Briel.


Briel menatap Gea dengan sorot mata sendu. Ia tahu, pasti rasanya sangat sulit berada di posisi Gea. Ia pun juga tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia jika berada di posisi Gea saat ini.


"Menangislah, jika dengan menahan hanya akan membuatmu semakin sesak."


Briel mengatakannya dengan lembut. Ternyata penuturan Briel dapat menarik perhatian Gea. Gea menatap Briel dengan tatapan penuh tanda tanya seakan ia bertanya, apa maksudmu?


Briel hanya mengedipkan matanya pelan sambil tersenyum. Seketika pertahanan Gea hancur. Ia mulai menangis, menumpahkan segala rasa yang ia pendam sedari tadi. Ia tidak ingin terlihat lemah oleh dirinya sendiri atau bahkan orang lain. Ia ingin mencoba untuk tegar. Namun ternyata rasa tegar itu menyakitinya, membuat dadanya semakin sesak. Gea menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil terisak.


"Kemarilah!"


Briel melebih mendekatkan badannya ke arah Gea. Ia membawa Gea ke dalam dekapannya. Ia membiarkan kaosnya basah karena air yang mengalir semakin deras.


"Menangislah, selagi bisa membuatmu lega. Tumpahkanlah semuanya."


Briel membisikkan kata–kata itu di telinga Gea. Gea semakin terisak. Bahkan ia memukul dada Briel dengan brutal. Briel membiarkan Gea melakukan hal yang dia mau untuk melampiaskan apa yang Gea rasakan. Ia menahan rasa sakit akibat pukulan Gea yang ternyata tenaganya tidak main–main.


"Hari ini aku akan membiarkanmu menangis sepuasnya, namun biarlah tangis ini berakhir untuk hari ini. Di masa mendatang jika engkau menangis, maka air mata bahagia yang menghiasi hidupmu," ucap Briel dalam hati.


Briel masih setia mengelus lembut punggung dan kepala Gea untuk menenangkan Gea. Semakin lama, tangis Gea berangsur–angsur mereda. Gea mendusel–duselkan kepalanya di dada Briel untuk menyeka air matanya, kemudian …


Sruttt


Gea menggunakan kaos Briel untuk membersihkan ingusnya. Hal itu membuat Briel jijik.


"Iyuhhhh … Gey, jorok sekali dirimu!"


Gea menjauhkan tubuhnya dari dekapan Briel lalu tertawa lepas. Ekspresi jijik Briel sangat menghiburnya. Briel langsung melepas kaos yang ia pakai dan melemparkannya ke lantai. Gea tertawa semakin menjadi. Alhasil Briel hanya bertelanjang dada. Tato bintang di perutnya pun terlihat di pandangan Gea di perutnya yang memiliki abs seperti roti sobek. Muka Gea memerah. Ia menahan malu karena baru kali ini ia melihat pria bertelanjang dada dalam jarak yang dekat. Sebisa mungkin Gea menyembunyikan perasaan malunya agar Briel tidak menyadari perasaan malu Gea.

__ADS_1


"Waah... Parah kamu Gey, kamu pikir baju saya lap, atau tisu?" Briel mendengus kesal.


Gea tertawa. "Mungkin memang karena bajumu terlihat seperti tisu dimataku, Bang."


Gea masih belum bisa meredam tawanya. Aneh bukan, beberapa saat yang lalu Gea menangis sesenggukan, sekarang ia sudah bisa tertawa lepas. Tawa Gea membuat Briel semakin terpesona. Ia tersenyum melihat Gea sudah bisa tertawa.


"Tertawalah! Tertawalah sepuasmu di masa mendatang. Saya hanya akan mengijinkan dirimu tertawa. Jikapun kamu harus menangis, maka hanya tangis bahagia saja yang boleh mengisi harimu."


Hal itu terdengar seperti janji di telinga Gea. Tawa Gea pun mereda. Ia menatap Briel dengan harapan yang besar seakan sorot matanya mengucapkan kata, benarkah? Namun Briel hanya mengulas senyum tulus di wajahnya.


"Lepaskan pria seperti dia!" ucap Briel dengan serius. Ia benar–benar mengatakan itu semua dari dalam hatinya. Ia tak mau Gea bersedih lagi. Ternyata melihatnya bersedih membuat hatinya ikut sesak walaupun ia belum mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.


"Darimana kamu tahu?" tanya Gea. Ia telah mengerti arah pembicaraan Briel.


"Tidak penting dari mana saya tahu. Sekarang pikirkan kebahagiaanmu. Keterpurukanmu membuat mereka semakin bahagia. Tunjukkanlah bahwa dirimu lebih bahagia tanpanya."


Gea mematung, sambil menatap Briel. Ia juga menerawang bagaimana kehidupannya selanjutnya. Wajahnya menyendu lagi.


Gea mendekat ke arah Briel. Ia langsung memeluk Briel, membenamkan wajahnya pada dada bidang itu. Seketika air matanya luruh lagi. Briel juga merasakan dadanya basah karena air mata Gea.


"Jangan mengusapkan ingusmu ke badanku," gurau Briel yang membuat mata Gea membulat seketika.


Pukk


Briel meringis kesakitan. Gea memukul dada Briel dengan tangannya cukup keras kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari dekapan Briel. Gea terkekeh kecil.


"Lalu bagaimana caranya? Aku masih belum memiliki obat untuk menawarkan racun yang sudah merambat," ucap Gea sambil menunduk.


Tiba–tiba Briel menggenggam kedua tangan Gea. Gea berjengit kaget.

__ADS_1


"Izinkan aku menjadi obatmu. Biarkan aku mengobatimu, menjadi penawar rasa sakitmu dan mengganti rasa sakit menjadi suatu kebahagiaan di hidupmu. Mari kita membuka lembaran kita, menorehkan cerita di pernikahan kita."


Seketika semua kata 'saya' telah menghilang dan berubah menjadi 'aku'. Briel tak menyadari perubahan pilihan kata yang ia pakai.


"Apakah kau yakin, Bang?" ucap Gea dengan mata berkaca–kaca.


Briel mengangguk yakin. Gea menghambur ke dalam dekapan Briel. Aroma maskulin menguar dari tubuh Briel, seakan memberikan ketenangan tersendiri baginya. Kenyamanan dapat ia rasakan di sana.


"Bersabarlah menungguku, Bang. Aku masih membutuhkan waktu untuk memulihkan diriku. Apakah kamu sanggup?"


Sebenarnya napas yang keluar tatkala Gea berbicara membuatnya geli karena napas Gea menerpa dada bidangnya secara langsung.


Gea mendongakkan kepalanya. "Jika tidak, lepaskan aku."


Jarak kedua wajah mereka sangat dekat. Briel menatap lekat wajah Gea, mengamati wajah sembab namun cantik di hadapannya ini. Napas mereka saling menerpa wajah mereka walau jaraknya masih sejengkal.


"Ya, aku sanggup. Mari kita sama–sama belajar untuk membuka hati kita dan saling menerima."


Akhirnya keraguan Gea pun hilang. Ia mengangguk dengan mantap. Tak terasa wajah Briel semakin mendekat ke wajahnya, mencuri apa yang belum pernah ia lepaskan. Namun Gea tak memberontak. Perlakuan Briel membuatnya tenang. Briel mengecup Gea dengan penuh kasih sayang, bukan nafsu belaka.


"Baiklah segera tidur. Maaf dan terimakasih," ucap Briel. Kata maaf ia ucapkan karena ia mencuri sesuatu dari Gea dan terimakasih, karena Gea tidak menolak dan mau membuka hati untuknya.


Briel segera melepaskan Gea. Ia tidak mau kelepasan untuk saat ini. Masih banyak hal yang belum terselesaikan. Terutama di hati mereka berdua.


Gea mengangguk. Ia menarik selimut lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2