
Ceklek
Briel membukakan pintu kamar untuk mereka berdua. Ia merindukan kamar itu. Terlalu lama berada di rumah sakit, membuat mereka jenuh dan merindukan ranjang empuk berukuran besar yang nyaman.
"Maaf ya, Baby Boys, kamar kalian belum siap, belum dihias sedemikian rupa. Jadi kalian di sini dahulu ya bersama kami," ucap Briel lembut kepada kedua buah hatinya. Ia tidak sempat untuk memikirkan semuanya itu. Rencananya ia dengan Gea ingin membeli keperluan dan peralatan untuk bayi setelah acara 7 bulanan kamarin. Namun petaka terlanjur menimpa mereka yang membuat mereka mengalami hantaman yang besar membuat rencana mereka kandas.
Briel menciumi wajah kedua bayinya secara bergantian. Ternyata mengurus 2 anak sekaligus mengharuskan mereka untuk berlaku adil tanpa berat sebelah. Dan itu merupakan pr untuk orang tua bayi kembar.
"Emmememememem"
Briel merapatkan bibirnya. Ia menggerakkan jambang halusnya di tangan si kecil, membuat si kecil menggeliat–geliat kecil lantaran permukaan yang cukup kasar membuat Nino risi.
Briel meletakkan si kecil di ranjang kingsize itu. Dengan hati–hati, Briel melepaskan gendongan bayi itu pelahan. Ia menidurkan Nino perlahan agar Nino tetap nyaman meski dipindahkan.
Ia menimang Nino agar Nino tidak menangis tatkala ia membaringkan Nino. Ia meletakkan Nino tepat di tengah ranjang agar tetap aman untuk Nino meski Briel tidak begitu menjaganya.
"Sekarang gantian Kakak Rio."
Briel berjalan menghampiri Gea. Ia berdiri tepat di harapan Gea. Tangannya dengan gesit membantu Gea melepas gendongan itu. Sebelah tangan Gea menyangga tubuh Rio agar tubuh mungil itu tidak terjatuh.
"Bayang, bantu aku..." pinta Gea yang masih menyangga tubuh Rio dengan sebelah tangan. Ia ingin agar Briel mengambil alih Rio ke dalam dekapannya.
"Ututututu Rio ..."
Briel mengangkat tubuh Rio, menggendongnya seperti koala. Ia membaringkan Rio perlahan di dekat Nino yang matanya kini telah terpejam. Aktivitas tidur mereka masih begitu banyak, hampir sepanjang hari mereka habiskan untuk tidur. Bayi lahir prematur memang lebih banyak tertidur dari pada bayi yang lahir normal.
"Geyang, mandilah terlebih dahulu. Biar baby twins aku yang jaga. Kamu gerah kan?"
"He'em Bayang. Gerah banget nih. Seluruh badan rasanya lengket."
Gea menggerakkan kerah bajunya berulang kali untuk mempersilahkan angin masuk menerpa kulitnya, mengurangi rasa gerah yang ia rasakan.
"Ya sudah. Aku tunggu ya. Atau..." Briel mengedipkan kedua matanya genit. "... kita mandi bareng saja. Baby twins kan anteng, tertidur pula. Kita jadi lebih leluasa untuk menghabiskan waktu untuk berdua walau untuk sesaat." Briel mengedipkan sebelah matanya.
Plak
Gea menepuk dada Briel cukup keras hingga membuat Briel mundur beberapa langkah. Bukan karena rasa sakit yang membuat Briel mundur, namun ia kaget mendapatkan serangan tiba–tiba.
"Aww Sayang," keluh Briel manja.
"Ck sudah tua tidak usah manja Bayang," ledek Gea dengan gurauan sembari tertawa kecil. Usia Briel memang tak lagi muda.
"Jangan salah. Semakin aku tua, semakin aku mempesona."
Tanpa permisi, Briel mencuri bibir ranum milik Gea singkat. Namun Gea mendorong lembut tubuh Briel hingga tubuh kokoh itu menjauh dari padanya.
"Bayaang ... " ucap Gea manja.
__ADS_1
"Apa hmm??"
Briel menggenggam pergelangan tangan Gea lembut. Tatapan matanya menatap lekat sepasang manik indah di depannya itu. Dalam, hingga kalau bisa ia ingin melihat seberapa dalam hati Gea untuknya.
"Minggir Bayang, aku ingin mandi"
"Aku ikut ya, mumpung mereka tidur," rayu Briel.
Gea menggeleng cepat. " Tidak boleh. Nanti kalau mereka bangun bagaimana?"
"Tidak akan bangun. Mereka menurut Geyang, mereka pasti dengar apa kata Ayah mereka." Briel mencari berbagai alasan hanya untuk merayu Gea.
"Kata siapa?" Gea meremehkan apa yang Briel katakan. Mana mungkin bayi berumur beberapa bulan sudah mengerti apa mau orang tuanya.
"Kataku dong, Sayang," ucap Briel percaya diri.
Gea menatap kedua mata Briel. Ia menggerakkan alis dengan melebarkan bibirnya ke samping.
"Ah sudahlah. Aku mau mandi."
Namun tangannya dicekal oleh Briel. Briel masih berusaha keras agar ia bisa menikmati waktu berdua setelah sekian lama mereka tidak melakukannya.
"Geyang... Cepat kok, gak ngapa–ngapain."
Briel masih mencoba merayu Gea.
"Nah maksudnya itu ... itu saja."
Briel menunjukkan muka memelasnya, berharap Gea mengabulkan permintaannya.
"Ya ya ya ya ...?" ucap Briel
"Hmm boleh... Janji??"
Briel mengangguk antusias.
"Aaaa" Gea berteriak tertahan. Tiba–tiba saja Briel mengangkatnya lantas membawanya berlari masuk ke dalam kamar mandi. Pada akhirnya apa yang Briel inginkan terwujud.
🍂
"Aaakkh hati–hati Bayang ... Pelan–pelan saja... Sakit ..." rintih Gea menahan sakit.
"Tahan sedikit, Sayang, tinggal sedikit lagi..."
Briel membantu Gea melepaskan baju yang Gea pakai. Sungguh kesalahan yang tidak ingin Gea ulang lagi. Tidak seharusnya Gea memilih kaos berkerah untuk ia gunakan saat itu. Kaos itu terlalu sulit untuk dilepas. Bahkan menimbulkan rasa sakit pada tangannya jika tidak hati–hati.
"Ngeyel sih ... Untung saja aku ikut mandi bersamamu. Kalau aku tidak ikut, bagaimana kamu melepaskan bajumu itu hmm??"
__ADS_1
Briel mengomel. Tujuan awal dia ingin ikut Gea mandi adalah untuk membantu Gea melepaskan bajunya. Setelah ia pikir–pikir, baju yang Gea gunakan lebih sulit untuk dilepaskan.
"Nah sudah," ucap Briel kala kaos yang Gea kenakan kini telah berada di tangannya.
"Terimakasih Bayang." Gea berucap tulus. Ia mengecup bibir Briel tulus sebagai ucapan terimakasih. Briel tak melepaskannya, malah semakin memperdalamnya.
Tangan Gea bergerak memukul dada bidang Briel, meminta agar Briel melepaskannya.
"Bayang, jangan sekarang. Ingat janjimu tadi, Bayang."
Briel kecewa. Hasrat yang menggebu siap untuk diluncurkan namun harus terhentu begitu saja.
"Kan kamu yang memulai, Geyang." Wajah Briel memelas.
"Maaf Bayang. Kan aku hanya berterimakasih. Kamu saja yang mesum, Bayang."
Niat Gea hanya simple namun ternyata kenyataannya tidak sesimple itu apa lagi menyangkut dua pemikiran manusia yang berbeda.
"Idih ngatain suaminya mesum. Tidak mesum tidak akan pernah ada Rio sana Nino."
Briel terkekeh. Ia menyentil ringan dahi Gea.
"Iya deh iya Ayah mesum," gurau Gea. Ia melanjutkan aktivitas mandinya.
Sedangkan Briel tetap mandi bersama Gea tanpa melakukan apapun, meski mati–matian ia menahan hasrat yang kian menjadi. Hal itu membuat kepalanya pusing.
"Sepertinya aku butuh bodrexx" Briel memijit–mijit pelipisnya.
"Eh?? Buat apa Briel?" Gea menyipitkan matanya heran.
"Diminumlah. Pusing kepalaku akibat ulahmu."
"Kok aku?" protes Gea. Gea tidak merasa melakukan kesalahan sedikitpun.
"Sudahlah, tolong garukkan punggungku," pinta Briel. Ia memutar tubuhnya membelakangi Gea.
"Ooooeeeekk"
Siall, mereka menangis bersamaan. Belum selesai mereka mandi, namun nyatanya kedua buah hati mereka tidak ingin ditinggalkan sendirian meski mereka berdua bersama. Tanpa menyelesaikan mandi, mereka berdua bergegas keluar dari kamar mandi menghampiri kedua buah hati mereka.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1