Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Keanehan Gea


__ADS_3

"Siapa mereka?" tanya Briel pada Bima. Setelah mengantarkan Runi ke kontrakan, mereka berkumpul di rumah Bima.


Tiba–tiba saja Bima beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati jendela yang tak jauh dari sana, membelakangi yang lainnya, lantas berbalik menatap mereka semua.


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya itu bukan Davin."


Bima menarik kesimpulan dari kejadian demi kejadian yang terjadi. Hal itu membuat Gea mengerutkan dahinya. Ia penasaran kenapa bisa seperti itu, padahal kalau dilihat lagi, hanya Davin yang berurusan dengannya.


"Kenapa bisa begitu, Kak?" celetuk Gea tiba–tiba.


"Secara logika, tak masuk nalar jika Davin melangsungkan tindakan tanpa perencanaan yang matang. Apalagi biarpun sudah bebas, ia masih diawasi oleh pihak kepolisian. Karena dia bebas dengan jaminan. Atau kalau tidak, hukumannya bisa bertambah."


"Yang jelas ada lagi orang yang mengincar kalian. Terutama kamu Gea," lanjut Bima lagi.


Briel terdiam. Berita buruk itu membuat Briel lebih waspada lagi. Mereka semua berusaha memperketat keamanan untuk Gea, lantaran tak mau ada sesuatu terjadi pada Gea dan si kecil ; Dedek Utun.


"Dam perketat penjagaan dari sisi kita. Dan kamu Hen ..." Briel beralih menatap Hendrik. "... perketat penjagaan dengan apapun yang kamu bisa."


Mereka berdua mengangguk bersamaan.


"Dan aku akan tetap mengawasi gerak gerik di sekitar kalian. Sepertinya ini masih akan berlangsung sampai dalang dari semuanya ini terkuak," ucap Bima.


Mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan Bima. Namun kendalanya adalah, kali ini mereka merencanakan lebih rapi. Maka dari itu siapa mereka tak dapat Bima dan lainnya kuak lebih mudah dan lebih awal.


"Bagaimana dengan Larz?" celetuk Adam.


"Dia ada misi penting di negara seberang. Dan kali ini tak bisa diganggu," jelas Bima. Sebelumnya ia berkomunikasi dengan Larz.


"Kalian kayak gak kenal dia saja. Detektif handal ya sibuk begitulah," celetuk Briel. Ia paham bagaimana Larz.


"Yayayayaya ... Orang sibuk," celetuk Adam tiba–tiba.


🍂


"Bayang ..." panggil Gea lirih. Ia beringsut ke arah tubuh Briel. Ia mendekap hangat tubuh Briel. Manja sekali.


"Eh eh eh ... Istriku kenapa ini?" ucap Briel heran. Namun ia tetap menyambut hangat perlakuan istrinya itu.


"Emmm ..."


Aneh. Sungguh aneh. Gea mengendus ketiak Briel. Pagi ini Gea begitu menyukai aroma tubuh Briel. Bahkan sampai ke ketiak Briel. Baginya aroma tubuh Briel sangat wangi.

__ADS_1


Yang dilakukan Gea membuat Briel sedikit menjauh; risih. Risih kali ini bukan karena jijik, namun karena dirinya yang insecure sendiri. Ia tak mengijinkan Gea untuk menghirup badannya yang menurutnya berbau asam.


Sikap Briel membuat Gea mengerutkan wajahnya; muram. "Bayang kenapa sih?" tanya Gea kesal. Ia tak suka aktivitasnya terganggu.


"Kamu yang kenapa Geyang? Aku belum mandi. Pasti bau badanku sangat asam. Jangan endus–endus ketiakku," ucap Briel. Ia tak percaya diri dengan keadaan tubuhnya sendiri. Ia masih berusaha menjauhkan Gea dari dirinya.


"Ihh Bayang!" Gea menatap Briel dengan tatapan kesal. Wajahnya terlihat kentara sekali kalau ia benar–benar bete.


Seketika Briel menelan ludahnya. "Haihh... Macan yang tertidur bangun," gumamnya dalam hati.


"Cup cup cup Sayang ... sini–sini." Briel bergerak membawa Gea ke dalam dekapannya. Ia pun membiarkan Gea melakukan apa yang Gea mau. Ia tak akan melarang Gea. Seulas senyum cerah kembali terulas di wajah berparas cantik itu. Bahkan senyumnya seperti tak akan pernah sirna walau hanya sedetikpun.


"Hmmm harum," gumam Gea yang masih terdengar jelas di telinga Briel. Lama kelamaan, Gea malah kembali menyelami dunia mimpinya dalam dekapan Briel.


"Tidur lagi?"


Perlahan Briel membaringkan Gea. Pelan, agar Gea tak terbangun karenanya.


"Kenapa dia mengendusku sedari tadi ya?"


Penasaran, Briel mengarahkan tangannya ke ketiaknya. Ia mengusapnya kemudian mengendus tangannya sendiri.


"Emmh asem kali!"


"Mandi–mandi."


Briel beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


🍂


"Dari mana Bayang?" Gea berjalan menghampiri Briel dengan menutup mulutnya yang tiba–tiba menguap. Ia mengumpulkan rambutnya, mengikatnya menjadi satu dengan kuncir rambut yang ia pakai di pergelangan tangannya.


"Beli sayur." Briel mengangkat wadah yang ia bawa, menunjukkan pada Gea. Ia ingin memasak, namun ternyata isi kulkas mereka kosong.


"Di mana belinya?"


"Pasar. Asik juga ternyata belanja di sana."


"Idihh dulu aja gak mau. Sekarang?" ledek Gea. Ia mengingat beberapa waktu lalu Briel tak begitu suka dengan keadaan pasar.


Briel hanya tersenyum. Ia menata sayur itu ke dalam kulkas.

__ADS_1


"Mau makan apa?"


Gea terdiam, berpikir ia ingin apa. "Apa aja," ujarnya.


"Baiklah ... Silahkan ditunggu Tuan Putri."


Briel menarik kursi untuk Gea. Kemudian ia berkutat pada sibuknya kompor dan penggorengan. Gea memperhatikan Briel yang sibuk itu.


"Hoamm ..." Gea mulai menguap. Menunggu membuat kantuknya datang.


"Bubuu ... Di mana kamu, Bunda datang ..."


Bosan menunggu Briel, ia mencari hewan kesayangannya itu. Gea mengeluarkan bubu dari kandangnya. Ia mengangkat kucing oren itu dan menggendongnya menuju ke dapur.


Krompyang!!!


Bunyi itu terdengar. Gea pun segera bergegas menuju ke dapur. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang terjadi.


🍂


//


Hai hai semuanyaa 🤗


maaf ya upnya tertunda terus :"


Terimakasih untuk kalian semua


Love you all 😘😘


Selamat Ulang Tahun Indonesiaaaaa


MERDEKAA🇮🇩🇮🇩🇮🇩


Semoga kalian semua sehat selalu dan selalu dalam lindungan Tuhan ya 🤗💕


🍂


//


Happy reading,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2