
Dududududu
Briel mendengar suara orang bersenandung di kamar mandi. Ia juga mendengar suara gemericik air dari sana. Ia mengerjapkan matanya, juga menajamkan indra pendengarannya. Ia melihat ke arah jendela yang lupa ia tutup. Ternyata hari sudah mulai terang, walau masih remang–remang. Briel mengerang. Ia mengangkat tangan untuk merenggangkan orot–otot yang terasa kaku. Ia juga mematahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lehernya terasa begitu tegang karena masih belum terbiasa tidur di sofa.
"Rajin sekali dia sekarang sudah mandi padahal kemarin dia bangun siang. Bahkan aku bangun terlebih dahulu," gumam Briel. Ia heran tatkala mengetahui Gea mandi awal, pagi ini.
Briel membuka pintu ke balkon. Ia berjalan ke luar untuk menghirup udara segar. Ia sangat menyukai udara di pagi hari yang begitu segar. Ia memandang pemandangan yang ada di bawah sana. Masih banyak lampu yang masih menyala.
Singkat cerita, ia segera melakukan pemanasan sedikit di sana. Olah raga pagi selalu ia lakukan sebagai suatu rutinitas yang tidak boleh terlewatkan. Segala macam bentuk workout ia lakukan untuk menjaga kesehatannya. Secara tidak langsung pun bentuk badannya mengikuti apa yang telah ia lakukan. Tinggi, tegap, kokoh, berotot, dan tentunya sangat proporsional.
Setelah berbagai gerakan ia lakukan, keringat mengalir membasahi tubuhnya. Ia melepas kaos oblongnya yang basah karena keringat. Ia masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar mandi, Gea telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia melihat ke arah gantungan. Ia lupa membawa baju ganti yang akan ia kenakan.
"Yahh … aku lupa bawa baju ganti lagi," keluh Gea.
Di sana ia melihat hanya ada satu handuk berukuran sedang.
"Apa aku gunakan ini saja ya? Gak mungkin 'kan aku memakai lagi bajuku yang sudah kotor?" pikir Gea.
Gea mengintip di balik pintu. Ternyata di kamar itu kosong.
"Kebetulan sekali." Gea berpikir, itulah kesempatan yang bagus untuk berjalan menuju walk in closet. Ia kembali masuk lalu melilitkan handuk pada tubuhnya. Ia berjalan mengendap–endap ke luar.
"Aakkhh...!"
Gea menjerit lalu kembali masuk lagi ke kamar mandi. Ia terkejut tatkala melihat Briel berjalan masuk ke kamar dari arah balkon. Bukan karena kaget melihat badan Briel yang bagus, dengan perut yang seperti balokan–balokan es batu berbentuk kotak–kotak, namun ia malu karena ia ke luar hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Briel pun tak kalah terkejutnya dengan Gea. Siapa sih pria yang tidak tercengang tatkala melihat wanita cantik berdiri di depannya hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya?
Akan tetapi, Briel juga heran saat Gea malah kembali berlari ke dalam kamar mandi.
"Aneh ya, kenapa ia tak lari saja menuju walk in closet? "
Hal itu juga terpikirkan oleh Gea. Ia merutuki kebodohannya yang malah memilih kamar mandi sebagai tempatnya bersembunyi dari rasa malu.
"Duh kalau begini, bagaimana aku bisa berjalan ke luar untuk berganti pakaian?"
"Bang! Masih di sana?!"
"Iya. Kenapa?"
"Bang pilih ambilin aku pakaian atau ke luar kamar?"
"Pilih kamu saja yang ke luar!" goda Briel yang iseng dengan Gea.
__ADS_1
"Bang, jangan bercanda deh! Gak lucu tauk!" Gea kesal, karena di tengah rasa malu melanda, Briel malah berucap demikian.
"Baiklah saya yang ke luar!"
Setelah mendengar suara Briel yang memilih untuk ke luar kamar, Gea memutuskan untuk kembali berjalan. Namun ....
"Heemm …."
Bukannya ke luar kamar, Briel malah berdiri bersandar pada dinding pembatas antara kamar dan kamar mandi. Jantung Gea berdetak kencang. Ia menoleh ke samping. Gea yang terkejut pun menjerit dan segera berlari menuju walk in closet.
Di sana Briel tertawa sekencang–kencangnya sampai memegangi perutnya yang terasa keras karena tertawa. Menurutnya ada suatu kesenangan tersendiri tatkala ia berhasil menjahili Gea.
"Abang!!!!"
Teriakan Gea yang terdengar jelas di telinga Briel. Briel tertawa semakin kencang. Rasa kesal Gea begitu membuncah. Kesal yang bercampur dengan rasa malu. Sungguh rasanya ingin membuang Briel ke laut.
Selepas memakai pakaiannya, Gea keluar dengan muka betenya. Ia mendengus kesal. Wajahnya ditekuk dan bibirnya maju beberapa centi. Bahkan ia menatap Briel tajam. Tetapi yang ditatap tak merasa bersalah sedikitpun. Briel malah melenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket tanpa memperdulikan Gea yang dirundung rasa kesal.
🍂
Gea meletakkan roti panggang ke atas piring untuk sarapan pagi ini. Ia mengambil roti tawar dan sekotak susu putih lima liter–an dari persediaan di runah kontrakan yang ia bawa. Ia sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Bahkan kehadiran Briel tak ia gubris.
"Masih marah?"
"Astaga …. Dasar Anak Kecil!" ucap Briel yang tengah mengambil sepotong roti lalu memasukkan roti itu ke dalam mulutnya dalam sekali suapan.
"Senyum dong senyum!" Briel mencubit kedua pipi Gea. Gea menepis tangan Briel. Briel tak kuasa menahan tawanya karena tingkah laku wanita yang ada di hadapinya ini.
Gea berdecak kesal. Ia tak terima diketawain seperti itu. Ia mengambil sepotong roti itu lalu memasukkannya ke dalam mulut Briel yang tertawa lebar.
"Uhhukk uhhuk …!"
Briel tersedak. Gea pun menertawainya juga.
"Astaga …." Briel berusaha menelan roti itu. Ia mengambil segelas susu lalu meminumnya hingga rasa seretnya segera hilang.
"Parah kamu Gey!" Briel tak menduga akan mendapatkan balasan seperti itu dari Gea. Tak bisa dipungkiri kalau ia juga kesal karena kejahilan Gea. Ia menatap Gea kesal. Gea hanya menjulurkan lidah.
"Gak enak kan dijahili, Bang? Makanya jangan suka jahilin orang lain."
"Memang! Tapi pengecualian untuk menjahilimu." Briel terkekeh.
Gea memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan sarapan mereka.
"Bang …." panggil Gea.
Briel menjawabnya dengan gumaman sambil menoleh ke arah Gea. Ia menunggu kelanjutan ucapan Gea.
"Bang, Gea ijin untuk bekerja ya, Bang."
"Kenapa harus kerja? Bukankah di rumah saja sudah enak? Kebutuhanmu juga akan saya cukupi. Ini …."
Briel menyerahkan satu black card miliknya untuk Gea beserta beberapa kartu ATM dan kartu kredit lainnya yang ia ambil dari dompet.
"Ini semua untukmu. Semua ini bisa kamu belanjakan untuk apapun yang kamu mau atau memenuhi kebutuhan yang kamu butuhkan."
Briel kurang setuju dengan keputusan Gea yang memilih untuk kembali bekerja. Sebenarnya ia ingin memiliki istri yang menunggu dan menyambutnya di rumah waktu dirinya pulang bekerja.
Ges menatap suaminya itu.
"Bang, bukan masalah uang. Namun masalah kecintaanku dengan pekerjaanku. Akupun yakin, bahwa kamu pasti sangat mampu untuk menghidupiku.Tapi untuk saat ini, aku masih ingin bekerja walaupun gajiku tidak seberapa," ucap Gea dengan wajah yang terlihat memelas.
"Dan aku juga masih ingin menggunakan kedok ini untuk menutupi identitasku, Bang," lanjut Gea dalam hati.
Briel masih terdiam. Ia masih belum memutuskan.
"Bang …." Gea bergelayut di lengan Briel dan menggerakkannya. Suara rengekannya begitu mengganggu Briel.
"Baiklah, saya ijinkan!" putus Briel, walaupun sebenarnya ia keberatan dengan keputusan Gea.
"Yeeyy!"
Tanpa sadar Gea langsung memeluk Briel erat. Rasa senangnya membuat urat malunya hilang entah kemana. Briel mengulas senyum tipis. Ternyata hatinya ikut bahagia ketika melihat Gea bahagia.
"Ma–maaf, Bang."
Gea melepaskan pelukannya. Ia sangat malu karena refleks memeluk Briel erat. Briel tertawa melihat pipi Gea yang merona karena malu. Lagi–lagi karena gemas, ia mengacak pelan rambut Gea. Wajah Gea terasa menghangat. Gea segera merapikan rambutnya.
Tanpa berlama–lama, Gea pamit untuk berangkat bekerja. Ia sendiri tidak mau terjebak di dalam kecanggungam yang ia ciptakan sendiri. Briel hanya menggeleng–geleng ringan. Bibirnya tertarik ke atas. Ia memandangi punggung Gea yang menghilang di balik pintu.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕