
Briel mencari–cari di mana keberadaan Gea. Ia kesulitan menemukan ruangan di mana Gea disekap. Terdapat banyak ruangan yang tentunya membutuhkan waktu untuk menemukannya.
Briel mulai membuka pintu ruangan–ruangan itu satu persatu. Namun tak ada tanda–tanda keberadaan Gea. Bahkan samar–samar suara percakapan pun tidak ada.
Wajah Briel semakin panik. Beberapa ruangan telah ia telusuri namun hasilnya nihil. Ia mendesah sesal. Ingin sekali ia menggulingkan rak besi yang ada di sana, namun kewarasannya melarangnya melakukannya atau kehadirannya akan disadari. Briel berlari kembali dengan langkah yang cukup tenang, meminimalisir suara derap kakinya.
"Geyang ... Di mana kamu, ha...? Aku harus segera menemukanmu!" gumam Briel dalam hatinya selama ia berlari. Matanya awas dan mempertajam pendengarannya untuk menjaga dirinya sendiri.
"Hmm ... Atau kalau tidak, mungkin aku akan menarikkan pelatuk ini ke rahimmu terlebih dahulu?"
Seketika Briel berhenti. Ia mendengar suara itu samar. Lebih tepatnya dari sebuah ruangan di depannya.
"Damn it!" geramnya marah. Tangannya mengepal. Perlahan ia mendekat ke arah ruangan itu, mengendap–endap.
"Jangan macam–macam macam keparat!!" ucap Nico yang terdengar jelas di telinga Briel. Lantas bersamaan dengan suaraitu, terdengar suara benda yang terbuat dari besi terjatuh.
"Hahahaha tiga, dua ..." Davin mulai menghitung mundur. Tangannya mulai menarik pelatuk pistol itu. Gea memejamkan matanya pasrah sedangkan Daniel dan Nico tak bisa berbuat apa–apa, menatap sesal aktivitas di depannya itu. Senjata yang mereka pegang tidak berfungsi apapun saat ini.
"...satu"
DOR!!!
🍂
Sementara itu di villa itu, para orang tua gelisah melihat semuanya tidak ada di villa. Mereka mengkhawatirkan bagaimana keadaan Gea dan calon cucu mereka.
"Bagaimana mungkin Gege bisa diculik sedangkan penjagaan di sini ketat?!" ucap Tere sembari menangis. Sedangkan Frans memeluk Tere dari samping, mencoba menenangkan Tere dengan sentuhan lembut nan menenangkan. Tidak bisa menghentikan kekacauan hatinya namun setidaknya sedikit memberikan ketenangan.
"A–aku juga tidak tahu tante. Tadi aku meninggalkannya sendirian lantaran aku ke dapur untuk mengambil sesuatu. Namun ternyata dia sudah tidak ada di sana," ucap Runi sembari memeluk Tere. Air mata terus menetes di wajah sendu wanita itu.
Layaknya seorang ibu kandung, Tere memeluk hangat Runi dengan penuh kasih sayang. Hatinya kacau, namun hati wanita di depannya itu juga kacau.
"Yah... Ayah! Susul Briel dan yang lainnya," pinta Tere dengan tatapan sendu yang penuh dengan kekhawatiran.
"Tidak semudah itu, Bund. Kita tunggu mereka. Xavier ada di sana. Dia lebih dari cukup untuk mengatasi ini semua."
Frans sadar. Jika ia bertindak, yang ada malah merepotkan mereka semua. Memang benar kakinya sudah sembuh, namun bukan berarti bisa dengan mudah menggunakan ilmu bela dirinya. Bukannya membantu, ia takut nanti menimbulkan masalah di sana. Lagi pula semua anak buahnya juga turut serta dengan Briel dan lainnya, lantaran yang ada di vila itu tinggal beberapa saja untuk antisipasi hal yang tidak diinginkan di vila itu.
"Iya benar kata Besan. Kita doakan yang terbaik untuk anak–anak kita agar mereka kembali dengan selamat," timpal Edi mencoba memberikan pengertian untuk Tere.
🍂
DOR!!
Gea semakin merapatkan pejaman matanya. Namun anehnya ia tidak merasakan sesuatu. Bahkan ada benda yang menembus kulitnya pun tidak sedikit pun.
__ADS_1
"Apakah aku sudah tiada? Bagaimana dengan anakku?" gumamnya dalam batinnya dengan mata yang masih terpejam.
"Upss"
Briel bergumam. Ia muncul dari balik pintu dengan pistol yang ia putar. Ia menatap Davin remeh. Sebelum timah panas itu menyentuh istrinya, Briel menembakkan pistol yang sejak tadi ia bawa. Tembakannya jitu, tepat sasaran, pada tangan Davin yang memegang pistol itu.
Darah mengalir dari tangan Davin. Pistol itu terjatuh, sedangkan Gea yang semua terpejam mulai membuka matanya perlahan. Ia tersenyum lega melihat suaminya telah berada di sana. Mata sepasang suami istri itu saling beradu. Gea menatap Briel penuh harap, agar Briel segera melepaskannya dan membawanya keluar dari sana.
"Bagaimana? Mengejutkan bukan?" Briel menaikkan sebelah alisnya.
Davin menatap Briel dengan tatapan tajam. Rahangnya tertutup rapat menahan amarah.
Dor!!
Daniel meluncurkan timah panas ke tangan anak buah Davin yang berniat mencelakai Briel. Bunyi ringan gerakan menarik pelatuk itu terdengar di telinganya. Bahkan Nico pun turut bergerak, menghabisi nyawa yang lainnya.
"Thank brother," ucap Briel tulus. Ia tak menyadari serangan tak terduga dari anak buah Davin. Lantas menatap Davin dengan senyum miring.
"Davin, Davin. Sudah berapa kali kau mencoba mengusik kami, namun selalu gagal. Apakah kamu tidak bosan? Atau kamu memang sudah bosan hidup?"
Tiba–tiba saja terdengar tawa yang tidak lazim.
"Hmm aku tidak mengusikmu. Aku hanya ingin menyapa kalian saja. Wahh pede sekali kalian."
Davin menggeleng lambat dengan tersenyum miring. Ia tidak ingin terlihat kalah di mata mereka walau sudah terlihat nyata, posisinya tidak menguntungkan.
Briel memberikan penekanan diujung kalimat itu. Ia tidak habis pikir. Sudah kalah namun mengelak kalah.
"Sebenarnya ... aku hanya ingin bermain–main denganmu, terutama dengan adik kecil. Dia harus diajak bermain sejak dini. Anak kecil harus diajak bermain ... Bukan begitu Baby?"
Dengan kurang ajarnya Davin membelai wajah cantik Gea yang terlihat kusut.
"Heii!! Turunkan tanganmu bangsat!!"
"Wow wow woww... Aku tidak melukainya Dude!"
Davin sengaja mematik amarah Briel. Dan sesuai dugaan, amarah Briel terpatik oleh sebatang korek api. Tanpa mereka sadari, kaki Davin bergerak melemparkan pistol yang jatuh tak jauh dari badannya hingga sekarang telah berada di sebelah tangannya. Dan itu adalah bagian dari rencananya.
Secepat kilat ia ingin menembak rahim Gea.
"Aarrgh!!"
"Shitt!" umpat Davin.
Lengan Gea tertembak, membuat kulit yang bersih itu bersimbah darah. Gea berusaha menyelamatkan bayinya dari serangan Davin dengan sisa tenaganya untuk menggerakkan kursinya.
__ADS_1
"SIALAN!!!"
Briel tidak bisa mentoleransi tindakan Davin. Ia berlari lantas menghantam tubuh Davin dengan tentangan maut. Baku hantam terjadi di sana. Daniel dan juga Nico mengatasi anak buah Davin yang ada di sana. Sedangkan di sisi lain, Gea semakin menahan rasa sakit yang ia rasakan.
"Tuhan, tolong pertahankan dan selamatkanlah anakku," pintanya dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, Xavier datang. Ia meluncurkan timah panas pada kaki Davin, tak hanya sekali namun beberapa kali. Seketika Davin tumbang. Kakinya tak mampu menahan tubuhnya sendiri.
Xavier berlari berjalan santai ke arah mereka.
"Loser!" ucapnya lirih setelah ia berada tepat di depan Davin.
"Urus dia! Aku akan bawa istriku ke rumah sakit! Terserah kamu apakan dia. Yang jelas, hilangkan dia tanpa jejak sedikitpun!"
Tidak ada belas kasihan sedikitpun di benak Briel. Menyakiti istrinya berarti harus menangung konsekuensinya.
"Apakah kau yakin tidak ingin melihatnya?"
"No!"
Briel menatap Davin dengan tatapan datar. Suaranya singkat namun begitu dalam.
"Lakukan sesukamu!"
"Oo dengan senang hati."
Aura mematikan itu menguar kembali. Sudah dipastikan, Xavier tidak akan membiarkan korbannya hilang nyawa begitu saja. Ada harga yang harus dibayar. Semuanya telah berhasil mereka eksekusi. Semua lawan telah berhasil dikalahkan.
"Gey ... Hey... bertahanlah sayang!" ucap Briel sembari melepas ikatan Gea. Ia berusaha menyadarkan Gea agar mata Gea tidak terpejam. Mata Briel memanas. Ia berusaha keras menahan air matanya.
"Terimakasih Bayang," ucapnya di tengah kesadarannya yang mulai menipis lantaran rasa sakit yang terasa menyakitkan itu.
"Shuutt! Jangan banyak bicara!"
Entah mengapa, hatinya teriris mendengar ucapan Gea. Pedih, bahkan hancur melihat orang yang dicintainya terluka seperti itu.
Briel merengkuh tubuh ringkih itu, berlari sekuat tenaga, memberikan kecepatan secepat cepatnya agar istrinya segera mendapatkan pertolongan.
"Tuhan ... kumohon, selamatkanlah mereka."
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗 💕💕