Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Bukan Istri Idaman (Adam)


__ADS_3

"Tepat dua puluh menit!"


Adam melihat pergelangan tangannya. Napas Runi tersenggal lantaran ia harus berlari untuk sampai di lantai atas tepat waktu.


Kebanyakan kenapa ya nopel pake setting lantai atas? Gak tau lebih enak aja 😅 kalau lantai bawah ga seru wkwk


"Ini Bos, makanannya"


Runi berusaha untuk mengatur napasnya yang masih memburu. Ia menyerahkan makanannya itu pada Adam.


"Good" ucap Adam sembari menerima bungkusan makanan itu. Tidak ada sedikitpun rasa terimakasih padanya akan Runi. Tapi Runi membiarkannya.


Dalam hati Runi mengucap kata syukur lantaran gajinya bulan itu tidak jadi terpotong. Ia mampu membawanya sampai sana tepat waktu; pas, tidak kurang dan tidak lebih.


"Ambilkan piring!" titah Adam kemudian. Mereka membutuhkan piring untuk meletakkan makanan itu.


Runi melongo. Rahangnya serasa ingin ia jatuhkan. Baru saja ia dapat menghela napas, lagi–lagi Adam masih saja menyuruhnya.


"Astaga Bos, capek saya berlari untuk bisa ke sini tepat waktu. Di luar sana macet. Saya harus beralih pake ojek." Runi menjelaskan panjang lebar.


"Lagi pula kan ada office boy. Kenapa juga tidak menyuruh mereka?" protes Runi kemudian. Kakinya masih gemetar karena berlari kencang.


"Tidak ada. Mereka sudah pulang. Apakah kau tidak melihat sekarang jam berapa?" Adam meminta Runi untuk melihat jam di layar gawainya yang ia tunjukkan pada Runi.


Runi mendesah lelah. Di dalam kantor itu hanya menyisakan mereka bertiga dengan satpam kantor. Jam sekarang bukan lagi waktunya ramai.


"Baik, Bos," jawab Runi lesu. Ia berjalan dengan terpaksa. Langkah kakinya sedikit dihentakkan. Kekanak–kanakan memang. Namun sesekali tidak apa, pikirnya.


Sedangkan Briel yang menyaksikan drama tepat di depannya itu hanya menggelengkan kepalanya, heran dengan 2 insan yang tidak pernah akur seperti itu.


"Dam ... Bersikaplah sedikit lembut sama perempuan. Mereka itu rapuh."


Briel memberikan wejangan untuk Adam setelah Runi tidak ada di hadapannya. Namun Adam memutar bola matanya malas.


"Iya rapuh. Tapi itu tidak berlaku padanya. Lihat saja bagaimana cara dia buat mendebatku? Bahkan sering kali dialah yang mengibarkan bendera perang."


"Ini belum seberapa dan dia bukan calon istri idaman," lanjut Adam.


Briel menghentikan aktivitasnya. Ia menatap sahabatnya itu sejenak. Begitupun juga dengan Adam.


"Terserahlah, itu urusan rumah tangga kalian." Briel tidak mau ikut campur lagi dalam hubungan mereka berdua.


"Rumah tangga–rumah tangga. Yang ada hancur lebur kalau modelan aku bersanding dengan modelan perempuan seperti Runi."


Membayangkannya saja Adam tidak sanggup. Yang ada di pernikahan mereka hanya ada perdebatan dan perdebatan. Kata damai menjadi kata langka yang bisa saja punah.

__ADS_1


"Ehmmm ... Rupanya ada yang malah membayangkan," goda Briel. Tanpa sadar Adam telah membayangkan bagaimana jika mereka hidup bersama. Membayangkan sudah bermakna sebenarnya ada sedikit kemauan untuk berjalan ke jenjang itu.


"Waaaa ... parah kau Bri!"


Sontak Adam langsung merapalkan kata "amit–amit" berulang kali.


***


Kenyang


Kini perut mereka telah terisi kenyang. Tidak ada lagi cacing–cacing yang protes meminta untuk diberi makan. Briel meletakkan piringnya di atas meja sedangkan Runi menata piring itu menjadi satu.


"Jam berapa Dam?" tanya Briel. Ia menegakkan tubuhnya yang semula ia bersandar pada punggung sofa.


"Setengah enam Bos," jawab Adam jujur.


Briel mendesah kasar. "Astaga bagaimana ini? Sudah pasti Gea ngambeg. Sudah jam segini masih belum selesai juga." Briel menggerutu panjang lebar. Ia memikirkan nasibnya nanti jika sudah di rumah.


"Makanya kalau gak bisa nepatin jangan janjiin apapun. Ini nih jatuhnya kalau ternyata sibuk. Tanggunglah sendiri," seloroh Adam tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Enak saja kau mengguruiku. Nikah sana dulu, biar tahu rasanya."


Ucapan yang terlontar dari Adam memang ada benarnya, tapi cukup menggores harga diri Briel jika diucapkan.


Runi yang sedari tadi menyimak pembicaraan pun angkat bicara. "Bos, tadi Gea memintaku untuk menemainya belanja tapi kan aku lembur."


Briel mengusap wajahnya kasar. "Nah kan dia sampai ajak orang. Kenapa kamu tidak bilang Ruunn!" keluhnya pada Adam.


Andai Runi mengatakannya, ia pasti akan mengijinkan Runi untuk pulang terlebih dahulu.


"Ya kan saya tidak tahu, Bos. Kalau Anda bertanya pasti akan saya jawab," kilah Runi.


"Berhenti dengan bahasa formal. Aku muak mendengarnya."


Briel memang setidak suka itu kala orang terdekatnya atau pun Gea menggunakan bahasa formal di luar jam kerja terhadapnya, sekalipun itu bawahannya. Tidak ada alasan khusus, hanya tidak suka saja.


"Iya Bos saya–"


"Berhenti menggunakan bahasa formal atau gajimu berkurang satu nol!"


Briel memotong ucapan Runi, tidak membiarkan Runi menghabiskan ucapannya sampai akhir.


Runi mengkerut. Ternyata ancaman Briel lebih seram dari ancaman Adam. Potongan gaji seperti apa yang mengubah nilai gajinya berubah drastis, bagaikan bumi dan langit.


"Ya ya ya ya ... Aku menyerah," putus Runi pada akhirnya. Ia tidak ingin mengambil risiko dengan mempertaruhkan gaji.

__ADS_1


🍂


Mereka telah usai makan. Ternyata cafe itu menyajikan makanan yang membuat Gea berselera untuk menyantap makanan.


"Kak mau ikut bersamaku atau langsung pulang?" tanya Gea. Tangannya sibuk membersihkan sisa makanan yang menempel di bibirnya dengan tisu.


"Ya aku ke rumahmu dulu dong, Gey." Hendri ingin melihat keponakannya. Terakhir ia melihat mereka, si kembar masih berada di dalam inkubator.


Gea mengangguk mengerti. "Oke."


Mereka berjalan beriringan menuju mobil Hendri. Ia tidak mengijinkan Gea membawa mobilnya sendiri. Barang belanjaan Gea tadi sudah mereka masukan ke dalam bagasi mobil.


"Eh maaf, maaf."


Gea terhuyung ke belakang. Tidak sengaja seseorang berpakaian serba hitam dengan kacamata dan topi hitam menabraknya.


"Iya tidak apa, Mas. Lain kali hati–hati," ucap Gea. Ia memaklumi kecerobohan pria itu. Lagi pula ia tidak terluka sedikitpun. Minuman yang di bawa oleh pria itu pun juga tidak menumpahi tubuhnya.


"Lain kali hati–hati, Mas!" Hendri menahan marah. "Kamu ga papa Gey?" tanyanya pada Gea kemudian.


"Ga papa. Udah, Kak. Lagi pula aku tidak kenapa–napa." Gea berusaha menenangkan hati Hendri itu.


"Maaf," ungkapnya sekali lagi lantas pergi meninggalkan mereka.


"Dasar tidak punya mata. Ada orang jalan jelas–jelas, masih aja menabrak." Adam menggerutu. Kecerobohan itu mampu merugikan orang lain. Jika sudah dirugikan, kata maaf tidak bisa membantu apapun atau mengembalikannya seperti semula.


Hendri menggiring Gea masuk ke salam mobilnya.


🍂


"Dam n itt!!" umpat Briel setelah ia menatap layar gawainya. Guratan kemarahan terlihat jelas di rahang tegas Briel. Seketika kemarahan Briel membuat Adam dan Runi saling menatap satu sama lain.


"Ada apa Bri?"


"Aku harus pergi!"


Hanya itu yang diucapkan Briel. Ia meninggalkan Adam dan Runi dengan penuh tanda tanya. Briel begitu tergesa hingga membuatnya tidak sempat untuk hanya sekadar menjelaskan sedikit.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jagan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2