
Melamun.
Itulah kegiatan yang Briel lakukan saat ini. Raganya memang ada disini namun pikirannya melayang-layang entah kemana. Ia berusaha menemukan suatu jawaban yang mengganggu di pikirannya. Briel menyandarkan punggungnya pada sofa yang ada di dalam jet pribadinya. Di tangannya telah ia pegang gelas berisi red wine. Ia menyesap wine itu sedikit demi sedikit.
"Ada apa ini? Kanapa aku merasa tidak nyaman? Apa yang akan terjadi? "
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam benaknya saat ini, silih berganti. Briel merasakan sesuatu yang aneh menelusup di dalam hatinya. Ia merasa ada suatu hal besar yang akan terjadi. Namun ia tak kunjung mengetahui jawabannya.
"Bos,"
Satu kata yang keluar dari mulut Adam hanya menjadi angin lalu bagi Briel. Ia bergeming, dengan tatapan mata yang lurus ke depan. Respon Briel yang seperti itu membuat Adam bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi dengannya?"
Pyarr
Gelas yang Briel pegang jatuh tatkala kata "Bos" keluar lagi dari mulut Adam yang disertai dengan sentuhan ringan di pundak sang atasan untuk mendapat perhatian dari bosnya itu. Ia ingin menyampaikan suatu hal penting berkaitan dengan perusahaan.
Gelas yang pecah itu membuyarkan lamunan Briel.
"Maaf, Bos."
Adam berbicara seraya membungkukkan badannya. Ia tidak enak hati telah mengagetkan bosnya, walaupun tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.
Briel mengangkat tanganya ke depan, sebatas dadanya. "Tidak apa, Dam. Tolong bersihkan saja pecahannya! Aku mau tidur dulu."
"Tapi Bos...."
Adam mengurungkan niatnya untuk memberitahu Briel. Briel sudah berlalu meninggalkan Adam di sana. Adam terheran-heran dibuatnya.
"Ada apa dengannya? Apa jangan-jangan Bos Briel mulai gila beneran lagi?" gumamnya lirih. Ia mengurungkan niatnya untuk mengatai Briel gila secara terang-terangan di depannya karena ia merasa iba melihat bosnya cukup kacau untuk saat ini. Ia tidak habis pikir bosnya akan seperti itu saat ini.
π
"Bunda.... " teriak seorang wanita yang tak lain adalah calon menantu Tere.
__ADS_1
"Iya, Sayang," ucap Tere sembari memeluk calon menantunya dengan rasa sayang.
"Aku kangen, Bun." Ia semakin memeluk erat calon mertuanya itu.
"Ah, manisnya camenku ini."
Tere mengelus pelan pipi calon menantunya itu. Sang calon menantu melemparkan senyum manisnya sebagai jawaban untuk sang calon mertua. Tingkahnya sangat menggemaskan di matanya.
"Sela, kamu ke sini sendirian?" tanya Tere. Ia mencari-cari orang yang mungkin bersama dengan Sela, namun ia tak menemukan siapapun yang datang bersama Sela.
"Iya, Bun."
"Dimana orang tuamu atau kakakmu?"
"Dad dan Mom tengah menemui rekan bisnis mereka. Kalau Abang, biasalah Bun. Dia selalu sibuk dengan urusan pekerjaannya," jelasnya seraya menyunggingkan senyum manisnya.
Tere memakluminya. Ia tidak heran jika mereka sibuk karena mereka mengurus perusahaan mereka sendiri. Sedangkan Frans tidak begitu sibuk karena ia mempunyai orang kepercayaan yang dipercaya untuk mengelola perusahaannya sehingga sering kali Frans bisa pulang lebih cepat.
Sela celingukan mencari seseorang. "Dimana Briel, Bun?"
"Bun, mungkin Briel masih ada di dalam pesawat saat ini. Kan ini masih sore, Bun. Mungkin beberapa jam lagi ia akan sampai juga."
Sela mencoba untuk berpikir positif. Dan ternyata benar. Ucapan Sela cukup menenangkan bagi Tere. Tere memeluk kembali calon menantunya itu. Dengan senang hati Sela menerima pelukan hangat itu.
"Emmm⦠semoga kalian benar-benar berjodoh," ucap Tere sambil terus memeluk Sela.
"Wah wah wah... kenapa ayah gak diajak ikut berpelukan nih?"
Ucapan seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Frans membuat mereka berdua saling melepaskan pelukan mereka. Mereka saling melempar senyum.
"Sudah lama, Sel?"
"Belum, Yah. Baru aja."
Sela segera mencium punggung tangan calon ayah mertuanya itu.
__ADS_1
"Kamu mau cari Briel ya? Nggak sabar pengin lihat Briel secara langsung?"
Tebakan Frans benar. Sela tersipu ketika ia mengucapkan dua kalimat tanya itu.
"Iya, Yah" ucapnya malu-malu. Frans dan Tere terkekeh melihat tingkah laku sang calon menantu yang malu-malu.
"Yah, jangan digodain dong calon menantunya. Malu tuh dia."
Frans tertawa. " Iya, Bun."
Frans mengarahkan perhatiannya kepada Sela. "Sabar aja ya. Sekitar enam sampai tujuh jam-an lagi Briel sudah sampai kok. Tadi asistennya memberitahu ayah."
"Yahh tengah malem dong, Yah?" ucap Sela.
Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Ia ingin sekali bertemu dengan Briel sebelum menikah. Harapannya telah pupus. Namun itulah yang diinginkan Briel. Ia tidak mau melihat calon istrinya sebelum ia melangsungkan pernikahannya. Tere mengelus pundak Sela dengan lembut.
"Sudah ya, mari kita masuk saja. Kita lanjut berbincang di dalam saja," ajak Frans.
"Bagaimana kabar calon besan?" tanyanya sambil terus berjalan.
"Baik, Yah. Mereka berdua sehat."
Mereka bertiga beriringan masuk ke dalam rumah.
π
"Tunggu waktuku, Gea. Besok aku akan melihatmu nangis darah di depanku."
Dela tersenyum miring. Ia tak sabar menunggu hari esok segera tiba.
π
//
Happy reading all, jangan lupa bahagia ππ
__ADS_1