
Di dalam ruangannya kini Runi menyantap makan siangnya dengan sebuah gawai yang ia sangga dengan tumpukan dokumen yang cukup banyak. Sesekali mimik wajahnya terlihat sedih, terkadang tersenyum, terkadang bahkan ia tersipu malu. Di saat yang bersamaan, sesekali tangannya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Haiyaa hu hu hu hu ... Kenapa endingnya harus seperti ini sih ..." Runi mengusap air matanya yang keluar begitu saja lantas menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.
"... sebagus ini, semenyedihkan ini, tapi bikin secandu ini ..."
Runi kembali mengusap sisa air mata yang tersisa di kelopak matanya. Drama yang ia tonton sembari makan siang ternyata mampu mengaduk–aduk emosinya hingga ke relung hatinya. Bagaimana menyakitkannya ending dari drama itu masih terasa bahkan sampai drama itu selesai ia tonton.
Tok tok tok tok
Tiba–tiba saja suara pintu ruangannya diketuk oleh seseorang. Secepat mungkin ia mengusap sisa air matanya dengan tisu. Ia tidak ingin orang lain mengetahui hal apa saja yang ia lakukan di waktu istirahatnya. Runi menelan makanan yang tersisa dalam mulutnya secepat mungkin lantas bersikap sebagaimana mestinya.
"Masuk," ucap Runi dengan lantang.
"Permisi Bu, Anda diminta Bos Adam untuk ke ruangannya."
Deg
Seketika itu juga ia ingin menghilang dari muka bumi. Berurusan dengan Adam adalah hal yang sebenarnya ia hindari. Mau bagaimanapun juga bertemu dengan Adam hanya akan menguras energi yang cukup banyak lantaran ia harus menahan emosinya terutama jika di kantor.
"Bu ...?" panggil sang office boy lantaran tidak mendapat jawaban dari Runi.
"Aaa... Iya, saya akan segera ke sana."
" Siyap Bu, permisi," pamitnya.
Runi menghela napas kasar. Berulangkali ia menghirup napas dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan. Semuanya itu ia lakukan sebagai bentuk antisipasinya sebelum bertemu dengan Adam.
Dengan gaya yang elegan, Runi berjalan menuju ruangan Adam. Badannya tegak, pandangannya lurus ke depan dan disertai dengan langkah yang pasti. Ia bertekad untuk selalu menunjukkan sisi terbaik dirinya agar Adam tidak menemukan celah untuk Adam mencemooh dirinya.
"Selamat siang Bos Adam yang terhormat, apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap Runi tatkala ia sampai di ruangan Adam. Ia melepaskan senyum terpaksa dari bibirnya. Senyum yang tidak pernah ikhlas jika ia bertemu dengan Adam.
__ADS_1
"Ya ... tidak sih sebenarnya. Aku hanya ingin kamu membuatkan kopi untukku."
Seketika itu juga hal yang Runi lakukan sia–sia. Percuma ia datang dengan apa yang ia bisa lakukan, namun ternyata Adam memintanya untuk menggantikan tugas office boy yang memintanya untuk datang ke sana.
"Astaga Bos ... Apakah tidak ada hal lain selain membuatkan kopi? Sepertinya tadi ada seorang office boy yang sudah membuatkan Anda kopi? Benar begitu bukan?"
Runi melirik ke arah secangkir kopi yang ada di atas meja. Kopi itu masih panas. Uap itu masih mengepul, terlihat dari pencahayaan yang ada di ruangan itu.
"Iya ... Tapi itu untukmu saja. Buatkan aku dengan kopi yang baru tanpa tapi," titah Adam tidak bisa dibantah.
Runi membeliakan matanya. Ia semakin merapatkan giginya. Ingin rasanya ia menjambak rambut Adam saat itu juga. Bahkan ia ingin marah lantaran Adam memberikannya kopi sisa darinya. Enak aja, dasar kurang ajar, umpat Runi dalam hatinya.
Runi menghirup udara dalam–dalam. Ia bersikap sebagai bawahan yang terlihat ketara sekali tengah kesal dengan atasannya.
"Baik, BOS akan saya buatkan." Runi menekankan kata Bos untuk melimpahkan kekesalannya dengan Adam.
Runi meninggalkan ruangan Adam dengan hati yang panas dan dongkol. Berbagai macam umpatan ada untuk Adam. Bahkan saat dia membuat kopi itu pun, kekesalan masih saja ia tumpahkan. Dentingan sendok dan cangkir terdengar nyaring.
"Loh Bu Runi, kok Anda ada di pantry? Anda kan diminta ke ruangan Bos Adam."
"Udah! Tapi ini, dia memintaku ke sini," jawab Runi kesal.
Seketika Woro mulai berpikir yang tidak–tidak. Banyak pertanyaan melintas di pikirannya. "Apa kopi buatanku tidak enak? Apa kopi itu tidak sesuai dengan seleranya? Bagaimana dengan nasibku setelah ini?"
Semuanya itu ada di dalam benaknya, berputar–putar begitu saja.
Melihat raut wajah Woro yang cemas lantaran tahu apa yang Runi buat untuk Adam, Runi menghela napas dalam.
"Tengang saja, kamu tidak salah apapun. Sudah jadi kebiasaan Bos Adam yang sering membuatku naik darah. Dia tidak akan melakukan hal buruk terhadapmu. Percayalah padaku," ucap Runi. Ia tahu apa yang Woro pikirkan. Ia mencoba menenangkannya.
Kelegaan mengalir begitu saja dalam benaknya. Woro tersenyum lega mendengar penuturan Runi. Meskipun ia tahu bagaimana cara Runi kesal yang membuat siapa saja pasti tahu seberapa tingkat kekesalannya jika sudah kesal dengan seseorang namun ternyata Runi memiliki sisi baik yang menarik bagi siapapun orang yg berkomunikasi dengannya.
__ADS_1
"Sudahlah, saya permisi," ucap Runi lantas meninggalkan Woro.
Woro mengangguk lantas memberi jalan, mempersilahkan bagi Runi. Woro terus menatap punggung Runi yang kian menjauh. Woro menggeleng pelan sembari berdecak. "Ck ck ck ... Pantas saja Bos Adam selalu ingin membuat Bu Runi kesal. Rupanya mungkin itu yang ingin Bos Adam lihat."
Sebagai seorang laki–laki, rupanya Woro mengetahui naluri seorang pria yang bahkan tidak di sadari oleh seseorang itu sendiri namun polanya bakal bisa dilihat oleh orang lain.
"Ini dia kopinya BOS!" ucap Runi kala ia telah sampai di hadapan Adam. Runi memberikan penekanan lagi di kata "bos" ia ucapkan.
Senyum kemenangan terukir jelas di wajah Adam. Hal itu membuat Runi memutar bolanya malas secara terang–terang. Untuk apa bersembunyi jika kenyataannya Adam memang tahu bagaimana isi hatinya yang selalu memendam dendam dengan Adam.
"Hmm oke..."
Adam mulai menghirup aroma kopi hitam itu. Ia memang lebih menyukai kopi hitam di antara jajaran berbagai macam jenis kopi. Baginya kopi hitam lebih ampuh dari pada kopi yang lainnya.
"Kalau begitu, saya permisi Bos," pamit Runi lantas membalikkan badannya tanpa berniat menunggu konfirmasi dari Adam. Namun belum sempat ia melangkah, Adam menginterupsinya agar tetap berada di ruangan itu.
"Mau ke mana kau? Kau tidak boleh pergi sebelum aku memintamu untuk meninggalkan ruangan ini."
Runi memejamkan matanya mendengar sejumlah kata uang terlontar itu. "Aisss tamatlah riwayatku." Runi meringis dalam hatinya. Rupanya rencananya akan gagal seketika itu juga. Runi mulai merutuk, bukan merutuk menyesali perbuatannya, namun merutuki Adam yang belum melepaskannya sebelum semuanya usai.
Runi berbalik dengan senyum yang ia paksakan. Tangannya memegang nampan yang ia letakkan di depan dadanya.
"Kenapa mukamu seperti itu?" ucap Adam menyadari keanehan pada diri Runi. Ia menatap Runi dengan tatapan menyelidik.
"Tidak Bos."
"Aduhh tamatlah riwayatku," batin Runi yang kian cemas.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕