Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Bos Maha Benar


__ADS_3

Adam menyipitkan matanya tatakala ia melihat wajah suntuk yang Briel perlihatkan. Ia menatap Briel mengikuti ke mana pun Briel bergerak. Sadar dirinya diamati, Briel berhenti. Ia menatap ke arah Adam.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? Tidak sopan!" ungkap Briel. Ia risih diperhatikan lekat seperti itu.


"Malah tanya ke diriku. Kau yang kenapa?"


Adam tak menggubris. Tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan dari Briel, Adam malah bertanya kembali.


Briel menghembuskan napasnya kasar. "Dia mendiamkanku hingga pagi ini," ucap Briel sembari mengingat betapa judesnya wajah Gea yang terlalu kesal kala Gea menatapnya. Tidak ada senyum yang mengiringinya kala ia pergi berangkat ke kantor. Dan itu terlalu kuat memberikan efek badmood seharian di kantor. Buktinya sudah nyata. Kini Briel menekuk wajahnya bahkan baru sampai sekalipun.


Adam terheran–heran atas jawaban Briel. Tidak biasanya Gea bersikap demikian pada Briel. Yang dia tahu, Gea adalah sosok istri yang mengerti bagaimana suaminya. Banyak kata tanya di kepalanya.


Briel berdecak kesal. Baru saja ia sampai ke kantor, sudah pula ia diintrogasi. Benar–benar lengkap kekesalannya di pagi itu.


"Tidak usah kepo dengan rumah tanggaku. Urus saja urusanmu sendiri."


Briel tidak ingin ditanya lebih lanjut. Mengingatnya saja ia pun juga pusing, bagaimana ia mengembalikan kehangatan istrinya yang kini menghilang seketika.


Adam menyangga wajahnya dengan sebelah tangannya. Siku tangannya itu bertumpu pada sebuah meja. Jari jemarinya mengusap–usao dagunya. Ia menatap Briel dengan sejuta pertanyaan yang masih saja bersarang di kepalanya.


"Ya bagaimana aku tidak penasaran? Tidak biasanya sekali istrimu seperti itu. Pasalnya istrimu itu bukan Runi yang sering kali pasang wajah cuek bin judes. Kan menimbulkan banyak pertanyaan."


Cerdas Adam menjawab. Kekepoan itu pasti muncul sebab ada sebab yang tidak biasa. Tidak ada niat bagi Briel untuk menjawabnya. Ia ingin mendiamkan Adam saja.


"Lalu kenapa kau kemarin langsung pergi begitu saja?! Isss ... Kau membuat diriku lembur sampai tengah malam. Bos macam apa kau ini?!" desis Adam kesal.


Karena ulah Briel, ia harus menyelesaikan semuanya sendirian. Ia menghabiskan sisa–sisa energinya. Benar–benar membuat ia lelah. Pokoknya ia harus mendapat uang lembur dari Briel, pikirnya dalam benaknya.


Briel menghela napas kasar. Ia memutar bola matanya malas.


"Ck tidak usah sok kesal padaku. Karena semalem itulah yang membuat diriku didiamkan Gea bahkan sampai hari ini. Kau tahu? Dia bahkan sampai tidak mau menatapku meski dia tidur menyamping menghadapku," jelas Briel. Niatnya untuk enggan menjawab akhirnya pecah begitu saja. Diam–diam Adam tersenyum tipis.

__ADS_1


"berhasil," ucap Adam dalam batinnya. Ia sengaja memancing untuk Adam bercerita.


Briel mengingat sikap Gea sedari semalam. Gea terpaksa harus miring menghadap ke Briel. Andai saja ia belum memiliki anak dsn berniat untuk menjaga mereka, Gea tidak sudi untuk tidur menghadap pada Briel setelah tragedi yang tak terduga itu.


"Sepertinya jika bukan karena baby twins ia pasti malas tidur menyamping menghadap padaku." Briel memijat pelipisnya dengan jemarinya.


Briel meratapi nasib buruknya. Namun ia bersyukur, setidaknya ia tidak tidur di luar kamar. Kali ini ia harus berterimakasih pada si kembar. Jika tidak ada mereka, ia pasti merasakan bagaimana tidur dengan didekap oleh angin malam yang menusuk sampai tulang.


Respon yang mengejutkan. Tidak ada sedikitpun rasa iba yang Adam tunjukkan. Ia malah tertawa lebar melihat kesusahan sahabatnya itu yang tersiksa lantaran perilaku Gea. Bahkan tawanya itu terdengar mengglegar, memenuhi ruangan itu.


"Damn it!! Kau malah menertawakanku!"


"Sayang untuk tidak tertawa Bri ... Lagi pula apa masalahnya yang membuatmu pulang tergesa seperti itu?"


Adam berusaha keras untuk menetralisir tawanya.


"Aku mengiranya selingkuh dan yang kutuduh ternyata kakaknya sendiri, Hendri. Puas kau?! Puas puasin sana tertawa!"


Dan bukan Adam namanya jika mengindahkan kalimat Briel yang sebenarnya itu adalah sebuah larangan. Ia semakin tertawa dibuatnya.


"Aduh–aduh sakit perutku Bri. Kenapa kau sebodoh itu?" Adam memegangi perutnya yang mulai sakit karena terlalu banyak tertawa yang bahkan sulit untuk ia hentikan.


Briel berdecak kesal. "Bagaimana aku tidak terpancing, tiba–tiba ada yang mengirimiku foto Gea yang masuk ke dalam mobil yang tidak kukenal dan dengan seorang pria yang tidak terdeteksi siapa dia."


Briel masih tidak terima ditertawakan oleh Adam.


"Haihh..." Adam mencoba berhenti untuk tertawa. "Dan bodohnya kau tidak mencari tahu dulu siapa pemilik nomor itu, apa motif tujuannya dan bagaimana kebenarannya. Bodoh!" lanjutnya kemudian. Tanpa ada yang ditutup tutupi, Adam berucap sesantai itu.


Briel membeliakkan matanya. Ia menatap Adam dengan tatapan tajam. "Kau... Berani–beraninya kau mengataiku bodoh!"


"Memang pantas dong. Apa namanya kalau bukan bodoh? Nomor tidak dikenal kan? Secara nalar saja tidak masuk akal kenapa nomor baru itu bisa menghubungimu langsung memberikan informasi yang sifatnya privasi. Itu saja sudah menimbulkan kecurigaan. Dan kau dengan bodohnya percaya tanpa mencari tahu terlebih dahulu."

__ADS_1


Adam berbicara panjang lebar.


"Dan bodohnya lagi kau langsung saja pergi begitu saja tanpa bilang apapun. Makanya kalau ada apa–apa bilang. Jangan main pergi sendiri. Lihat kan akibatnya," lanjut Adam. Seharusnya Briel tidak segegabah itu untuk menghadapi sebuah masalah.


"Ck kau tidak tau bagaimana rasanya orang cemburu. Bagaimana jika kamu yang mendapat pesan itu? Informasi di mana seseorang yang kau cinta ternyata pergi dengan pria lain?"


Briel mengingat bagaimana murkanya dia kala melihat foto itu. Kemarahannya terbakar begitu saja tanpa menunggu waktu yang lama.


"Ya... Tidak tahu juga. Kan aku tidak mengalaminya," ucap Adam tanpa beban. Ia menaik–turunkan kedua alisnya. Hal itu membuat Briel mendengkus kesal.


Adam berdecak.


"Itu karena sebenarnya kau merasa bersalah dengan Gea dan kau sedang tidak percaya diri akan seberapa cintanya Gea kepadamu!" lanjut Adam.


Tepat. Apa yang Adam katakan tidak meleset sedikitpun. Rasa bersalahnya yang diimbangi dengan terlukanya kepercayaan itu, membuat dia marah begitu saja. Briel melirik–lirik ke arah Adam. Ia menyetujuinya namun tidak ada niat sedikitpun dari Briel untuk menunjukkan bahwa Adam benar akan hal itu.


"Sudah kerjakan kembali tugas kau! Cukup untuk mengintrogasiku!" Briel mulai menyibukkan diri, membuka kembali laptopnya agar mereka tidak melanjutkan pembahasan mereka yang semakin lama semakin menunjukkan jika dirinyalah terlalu kekanak–kanakan. Gengsi Briel masih terlalu besar.


Adam berdecih.


"Ya ya ya ya ... Bos selalu maha benar," gumam Adam.


Mereka memulai kembali rutinitas yang harus mereka selesaikan.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2