
Tanpa ada yang mengetahui, Edi menghampiri dokter itu di ruangannya. Ia ingin berbicara 4 mata dengan dokter itu. Jujur saja, trauma itu masih membayang jelas dihidupnya. Kematian yang sudah terjadi pada Annaya tidak boleh terjadi pada anaknya saat ini.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk putri saya. Kalau perlu carikan dokter terbaik. Ke luar negeri pun juga tidak masalah," titah Edi dengan tatapan intimidasi. Tatapan itu menekan sang dokter untuk melakukan apa yang Edi perintahkan.
Terdengar sebuah ******* kecil yang keluar dari lubang hidung dokter itu. "I-iya, Tuan. Akan kami usahakan semaksimal mungkin."
"Namun, Tuan..." ragu dokter itu ingin mengatakan. Ia tidak ingin salah bicara.
"Katakan!" sergah Edi cepat. Ia tidak ingin terlibat dalam percakapan yang bertele-tele. Moodnya tidak sebagus itu.
"Persediaan kantong darah di rumah sakit ini tinggal 2 kantong sedangkan pasien memerlukan paling tidak 5 kantong darah. Jujur kami kesulitan untuk menemukan golongan darah yang sesuai dengan putri Anda. Golongan darah putri Anda terbilang cukup langka. Stoknya akan ada kembali mungkin 2-3 hari ke depan." Sang dokter menjeda ucapannya sejenak sedangkan Edi masih bersabar menunggu dokter itu melanjutkan ucapannya.
Deg
Golongan darah yang sama dengan Dela di keluarganya hanyalah Clara. Dan sekarang tidak mungkin meminta bantuan Clara yang sudah terkubur rapat di tumpukan tanah.
"Saya tidak yakin dengan kondisi pasien jika harus menahan selama itu. Transfusi darah harus segera dilakukan agar pasien tidak kehilangan kesadarannya penuh."
Dokter itu menjelaskan dengan hati-hati. Tak bisa dipungkiri, ia menahan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya. Kewaspadaannya meningkat 3x lipat.
Mendengar penjelasan dokter itu, amarah Edi memuncak. Sebenarnya bukan marah dengan dokter itu. Lebih tepatnya ia marah dengan keadaan dan penyesalan diri yang tidak bisa melakukan banyak hal. Namun kemarahannya terdengar sama saja ketika dilihat oleh dokter itu. Yang dokter itu tahu, Edi sangat marah padanya.
"Aaarrgghh!!"
Brak
Edi menggebrak meja. "Jika sampai gagal, tidak hanya pekerjaanmu yang terancam. Nyawa istrimu juga ada di tangan saya.
Keberanian dokter itu semakin menciut. Ia tidak mungkin mengorbankan nyawa istrinya karena kesalahannya. Ia hanya bisa pasrah. Ia berusaha, namun keberuntungan dan takdir Tuhan harus bersahabat dengannya.
Edi meninggalkan ruangan itu dengan kacau. Keadaan Dela berhasil memporak-porandakan hatinya.
"Pasang pengumuman ke seluruh kota ini. Dalam kurun waktu 1x24 jam, jika ada yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Dela, suruh datang ke rumah sakit dan diberi imbalan padanya.
Titah Edi itu mendapatkan anggukan patuh dari anak buahnya. Ia memang bukanlah seorang mafia ataupun orang yang mempunyai kekuasaan yang tertinggi. Tapi tidak bisa juga dianggap remeh. Edi cukup berpengaruh di kota itu. Iming-iming hadiah yang ditawarkan akan memikat masyarakat luas.
π
__ADS_1
"Good luck"
Sepenggal kata dari sahabatnya itu, menguatkan Gaza untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah terucap dari bibirnya secara spontan. Dokter hanya akan memberikan kendali penuh pada orang yang berhak secara penuh akan Dela. Dan ia tahu, mengakui sebagai suami adalah akses untuk ia bisa berbicara secara langsung dengan dokter yang menangani Dela.
Gaza berjalan masuk dengan langkah tanpa gentar. Ia berjalan dengan langkah pasti, menyingkirkan segala keraguan yang sebelumnya membelenggu dirinya. Kali ini ia juga akan meminta Dela secara langsung pada Edi untuk menjaga Dela seumur hidupnya.
"Di mana Tuan Wiyarta?"
"Ada di dalam. Mari ikut saya," ajak seorang anak buah yang hari itu memang Edi pinta untuk ikut ke rumahnya.
Edi mengikuti anak buah Edi. Pikirannya berkecamuk. Raganya memang di sana. Namun pikirannya gak jauh dari Dela yang kini terbaring di ranjang rumah sakit.
Tok
Tok
Seusai menutup pintu, anak buah Edi tidak menunggu Gaza masuk. Ia langsung berpamitan pergi, kembali melaksanakan tugas utamanya, memantau kalayak yang ingin mendonorkan darah mereka. Ia mengangguk hormat pada Gaza. Gaza hanya mengangguk singkat.
"Masuk" ujar Edi yang duduk di kursi kerja. Ia membelakangi pintu masuk.
Gaza berjalan mendekat dan berdiri tepat 2 meter dari tempat Edi berada.
Edi tak mau membuang-buang waktu. Ia harus kembali menemui anaknya itu. Sudah cukup ia menghandle urusannya.
Gaza menarik napas dalam dan menghembuskannya. Cukup terdengar hembusan itu di telinga Edi.
"Kedatangan saya ke sini bukan untuk menjelaskan apa yang sudah saya katakan. Tapi kedatangan saya ke sini, saya ingin meminang putri Anda. Saya ingin menjaganya seumur hidup saya tanpa ada pembatas di antara kita," ujar Gaza. Ketegasannya tidak menyiratkan keraguan.
Di balik punggung kursi yang menelan hampir seluruh tubuhnya itu, Edi tersenyum tipis. Jari telunjuk dan jempolnya memainkan dagunya yang ditumbuhi oleh rambut halus. Ia tertawa meremehkan.
"Dengan apa saya harus percaya?"
Belum ada yang bisa mematahkan keraguan Edi. Sepak terjang Dela selama ini membuatnya tidak percaya dengan ketulusan seorang pria. Apa lagi ia juga seorang pria. Tidak mudah menerima wanita berbadan dua bahkan sudah menjadi janda. Riwayat sikap Dela yang memuakan pun pasti menjadi bahan pertimbangan pria normal.
"Saya tidak bisa memberikan bukti saat ini. Namun saya akan merajut bukti itu bersama dengan keluarga kecil kami di masa depan. Anda bisa melesatkan banyak peluru tepat di kepala saya jika saya mengingkarinya."
Yakin, Gaza mengucapkan janjinya pada sang calon ayah mertua.
__ADS_1
"Apa bisa saya memegang omonganmu? Secara ..." Edi tak melanjutkan ucapannya. Ia khawatir anaknya hanya dijadikan sebagai mainan.
Gaza tersenyum miring. Miris sekali. Ia tahu kemana arah pembicaraan Edi. Sudah lama ia meninggalkan kebiasaan kelamnya itu. Jika bukan karena terpaksa pun, ia tidak sudi bekerja menjadi pemuas hasrrat tante-tante kesepian.
"Anda tidak perlu khawatir. Saya sudah selesai dengan masa lalu saya. Kita juga bisa mengecek kesehatan saya di rumah sakit nanti," tantang Gaza.
Edi mengangguk ringan.
"Dengan apa kau bisa menjamin keselamatannya?"
"Untuk keselamatan, saya tidak bisa berjanji menempatkan Dela selalu di posisi aman. Namun saya akan berusaha semampu saya agar Dela dan anak kami tetap aman."
"Good" Edi memberikan pujian. "Tapi jangan senang dulu. Keadaan Dela saat ini menjadi acuan keputusanku nantinya."
"Keberadaanmu ada di tanganku. Kesembuhan Dela menjadi penentunya. Jika Dela tidak bangun, artinya kamu gagal!" desis Edi sungguh-sungguh.
Gaza mengangguk mantap. Mereka saling berjabat tangan dan menggumamkam kata "deal".
Tiba-tiba dering panggilan masuk terdengar dari suara gawai Edi yang bergetar di pahanya.
"Apa?!"
Bak petir di siang bolong, Edi luruh seperti tak ada tulang dengan jemari yang meremas erat gawai yang masih menyala. Meja yang tak jauh dari sana membantunya menopang tubuh yang mulai rapuh. Seketika itu juga, tatapan Edi menajam, seakan menghunus jantung Gaza. Giginya bergemeletuk. Ia merasa dibohongi. Nyatanya, sekarang harapannya musnah.
"Perjanjian batal! Jangan harap hidupmu akan tenang setelah ini!! Belum kamu mulai saja, kejadiannya sudah fatal."
Edi kecewa. Kesedihan tak terhindarkan. Edi tidak bisa menerima kenyataan.
Tanpa menjelaskan apapun, Gaza pun paham situasi. Gaza juga sangat terpukul. Pertahanan dirinya seakan runtuh. Ia mengejar Edi yang menuju rumah sakit sembari mengelap kasar beberapa bulir air yang datang tanpa diundang.
Detik itu juga, Dela dinyatakan meninggal.
π
//
Happy reading gaes
__ADS_1
Jangan lupa bahagia