
"Eheeem bagus sekali, bukankah kau seharusnya menyambutku tapi justru kau asik sendiri. Dasar sahabat keparat! Sia–sia saja aku datang ke mari!"
Tiba–tiba sosok pria itu muncul di hadapan mereka. Semua orang tidak percaya terutama Briel. Beberapa waktu lalu, Briel mendengar sendiri langsung dari ucapannya sendiri, bagaimana ia menolak undangan Briel via telepon.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Briel spontan. Hanya itu yang ada di dalam pikirannya saat ini, tentang bagaimana caranya bisa tiba–tiba berada di sana.
"Lusa!"
"Ck jawablah betul betul" omel Briel. Ia benar–benar tidak mendapatkan jawaban dari apa yang ia pertanyakan.
"Sudah tahu di sini saat ini, masih saja kau mempertanyakannya lagi?!" ucapnya kesal. "Punya mata dipakai, jangan hanya dijadikan pajangan," lanjutnya ngedumel. "Tenang Vie, atau pelatuk akan kutarik untukmu."
"Hiii sereem ..." ucap Adam pura–pura takut. "Widihhh tidak usah ngegas Bos," ucap Adam lagi.
Tidak ada sahutan lagi. Ia hanya menatap Adam dengan sedikit tatapan datar. Tatapan itu mampu membuat Adam sedikit menciut.
"Ya ya ya ya ... Terserah kau Bos," ucap Adam kemudian.
"Ya berarti bukan salahku. Bukankah kau sendiri yang tidak berniat datang memenuhi undanganku?"
"Iya memang begitu seharusnya. Harusnya hanya Nico dan Daniel yang datang ke mari. Kalau bukan karena calon ponakanku, aku pun tidak akan datang menemuimu hari ini," ujarnya sinis.
"Hilih!! Ngaku saja. Itu hanyalah alibimu Vie!" Briel sangat hapal dengan bagaimana tabiat Xavier padanya. Xavier, sosok sahabat yang dingin namun sebenarnya peduli.
Xavier menarik bibirnya singkat. Senyum bahagia itu tersemat di wajah tegas itu walau hanya sesaat. Briel tetaplah Briel yang sepaham itu dengan sikapnya. Hendri dan Bima hanya memperhatikan interaksi mereka lantaran mereka hanya sebatas tahu siapa dan apa latar belakang Xavier. Sedangkan Runi yang tidak tahu apa–apa hanya memperhatikan saja.
"Hai Nyonya Briel, apa kabar?" Vie menyapa Gea tanpa berjabat tangan, namun ia masih menunduk singkat, sopan, sebagai salam perkenalan.
Melihat bagaimana sikap Xavier, Gea turut menunduk singkat, menyambut Xavier. "Seperti yang Anda lihat. Salam kenal, Tuan. Rupanya Anda yang sering diceritakan oleh suami saya," ujar Gea.
"Wah wah wah ... diam diam kau mengagumiku Briel." Narsistik, itulah Xavier.
"Tidak usah kegeeran. Lagi pula aku hanya menceritakan perihal istrimu yang cantik itu." Briel tersenyum jahil. Ia mulai memanas–manasi Briel.
"Jangan menyebutnya cantik!"
"Aku heran saja... " Briel tidak peduli dengan sepasang mata yang menatapnya nyalang karena hak milik yang pantang disebut orang lain. "Kenapa bisa wanita secantik Elle bisa–bisanya mau dengan dirimu. Datar, tidak ada ekspresi pula." Briel masih berusaha membuat Vie kesal.
"Shiit! Ku rasa pelatuk ini benar–benar akan menembus kepalamu!" ucap Xavier kesal.
Lantas kemudian tersenyum miring. Secepat itu perubahannya. "Lalu bagaimana denganmu? Hei Nyonya Briel. Kenapa kamu mau menikah dengan mantan bujang lapuk ini? Bukankah di luar sana masih banyak pria muda yang lebih mempesona? Dia sudah tua, sedangkan kamu masih muda dan cantik." Xavier mengangkat alisnya sebelah.
Briel mendengus kesal. Kalimat yang tidak boleh ia sebut, dengan gampangnya Xavier menyebutnya. "Dasar, semua orang memang tidak kreatif," gumamnya dengan lirikan kesal.
__ADS_1
"Sayangnya saya terpaksa," gurau Gea. Jawaban Gea mampu membuat Briel menyipitkan matanya, tidak percaya dengan apa yang begitu saja terlontar dari mulut Gea.
"Astaga Bayang, begitu saja ngambek."
Gea memeluk tubuh Briel mesra dari samping, mencoba mengambil hati Briel kembali. Dan benar saja. Briel secepat itu luluh pada sang istri. Briel mengelus lembut tangan Gea yang melingkar di pinggangnya.
"Lalu di mana Kak Elle sekarang?" tanya Gea kemudian sembari melepas rangkulannya itu.
"Di mansion. Ia tidak bisa ikut serta denganku."
"Sampaikan salamku untuknya," ucap Gea dengan senyum tulus yang terukir indah di paras cantik itu.
Xavier hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil.
"Hei wanita cantik yang di sana, bolehkah aku berkenalan denganmu?" ucap Daniel yang sedari tadi mengamati gerak gerik Runi yang cukup menarik perhatiannya. Jiwa–jiwa cassanovanya meronta–ronta melihat wanita cantik itu. Runi yang tidak nyaman pun hanya menatap Daniel risi dengan senyum canggung.
"Hei hei hei! Jaga sikapmu, Daniel!" hardik Adam.
"Eheem!!" deham Hendri dan Bima serentak.
"Weii santai, santai. Aku hanya ingin mengajaknya bekenalan, bukan ke ranjang."
Plak
Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Daniel. Nico menggeleng melihat kelakuan Daniel.
"Hei otak jangan hanya diisi sama ranjang, ranjang dan wanita saja! Wanita baik–baik masih saja ingin kau embat juga." Nico menunjuk Runi dengan menggerakkan dagunya ke arah Runi. "Pantas saja otaknmu bodong." ucap Nico sok bijak. Padahal dirinya pun sama saja dengan Daniel.
"Bullshit!!" Daniel memutar bola matanya malas.
Ternyata, lawakan dua anak buah Xavier mampu mengundang tawa untuk mereka.
🍂
"Seperti yang kukatakan tadi, semestinya mereka yang datang. Namun nyatanya aku kasihan padamu," ucap Xavier dengan sedikit ledekan untuk Briel. Mereka duduk di ruang tamu saling melepas rindu.
"I don't care. Terlepas dari itu semua, terimakasih sudah bersedia memenuhi undanganku," ucap Briel tulus.
Xavier mengangguk "Jangan berlebihan."
Xavier mengingat–ingat apa yang ia lihat selama acara itu diselenggarakan. Ia mencium kehadiran seorang penyusup. Namun ia lekas menanganinya. Namun sialnya penyusup itu berhasil kabur.
"Aku sempat melihat penyusup berusaha masuk di pertengahan pesta dilangsungkan. Namun dia berhasil pergi sebelum kami tangkap." Xavier menceritakan apa yang ia lihat tadi.
__ADS_1
"Iya. Dan dia tidak hanya satu orang, melainkan masih ada 2 lainnya. Namun sebelum kami bertindak, ternyata ada salah seorang dari mereka melihat kami." Nico membenarkan ucapan Xavier.
"Damn it!!" umpat Briel. "Rupanya mereka mulai bertindak sejauh itu."
"Kau harus benar–benar menjaga istrimu itu, Briel!
"Iya, aku tahu itu Vie," ucap Briel serius. Ia menatap Xavier lantas memalingkan wajahnya ke arah lain.
Suasana ruangan itu hening seketika. Hanya irama samar namun teratur yang terdengar dari ketukan jari Briel pada sofa yang ia duduki.
"Briel! Apakah Gea bersama denganmu?"
Seketika pikiran mereka pecah seketika. Tiba–tiba saja Runi datang dengan wajah gugupnya, antara khawatir dan takut. Ia tidak menemukan Gea di manapun.
"Tidak. Sedari tadi aku di sini dengan mereka. Katakan padaku, di mana istriku?!"
Briel mulai khawatir dengan keadaan Gea. Ia tak mampu membendung amarahnya. Kegelisahan telah menguasai selurus kewarasannya. Runi memainkan jari jemarinya. Hatinya tidak tenang lantaran ketidakberadaannya Gea.
"A–aku tidak tahu," ucap Runi dengan suara bergetar menahan tangis.
"Badjingan!!!"
Briel murka. Tanpa berpikir panjang, ia beranjak pergi dari sana.
"Bodoh," gumam Xavier.
🍂
//
Hai hai hai
Belum tau siapa Nico dan Daniel? Kisah mereka ada di nopel di bawah ini 😉 Harusnya 3 serangkai, namun anggap saja si Keil lagi main dakon ya 😂 (sesekali mafia main dakon, biar hidupnya gak sepaneng terus)
Terimakasih 🤗
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕