
Briel telah kembali. Ia berdiri bersandar pada meja Gea dengan memegang setangkai bunga yang sebelumnya telah ia ambil. Ia memetik satu persatu kelopak bunga krisan itu.
"E–eeh … bungaku!"
Gea tidak rela jika bunganya dirusak seperti itu. Ia juga enggan untuk membersihkan kamarnya yang pastinya akan kotor setelahnya.
"Hei—"
"Ssstt!"
Briel meletakkan telunjuknya di depan bibir Gea. Ia menyuruh Gea untuk diam saja dan melihat.
"Bersihkan sendiri nanti!" ucap Gea. Tak ada jawaban terdengar dari mulut Briel. Briel tengah asik memetik kelopak bunga itu satu persatu.
Gea menghembuskan napas kasar. "Dasar pria aneh!" geruntunya lirih.
Briel tidak peduli dengan apa yang dilakukan Gea. Setiap satu kelopak ia mengatakan iya dan setelahnya, ia mengatakan tidak, begitu seterusnya. Hingga tangannya memegang kelopak bunga terakhir bunga itu. Wajah Gea menegang. Walaupun itu bukan pernikahan impian, namun ia tidak mau dicampakan lagi.
"… tidak …"
Gea lega mendengar penuturan Briel. Briel tersenyum licik. Ia menatap Gea lalu memperlihatkan satu kelopak bunga yang ternyata masih ia pegang di tangannya. Kelopak bunga itu ia ambil bersamaan dengan kelopak bunga sebelumnya. Ia menatap Gea serius.
"Iya!"
🍂
"Bos, Nona Gea sudah menikah, tapi …" ucap dua orang pria berbadan besar kepada orang di seberang telepon.
"Tapi apa?!" bentak seseorang di sebrang telepon.
"Tapi...." kedua pria itu menjelaskan secara rinci tentang hal yang terjadi. Seseorang di seberang telepon terdengar geram.
"Siap laksanakan, Bos!" ucap mereka setelah mendengar perintah dari seseorang di seberang sana.
🍂
Setelah mendengar penuturan Briel, tidak ada gurat sedih di wajah Gea. Namun, gurat kecewa terlihat lebih dominan terlihat di wajah cantiknya. Ia memandang Briel datar. Lalu Gea tertawa hambar sambil memalingkan wajahnya. Ia sudah menduga seperti itu. Ia tersenyum miring. Siapa sih yang tidak menyesal menikah dengan orang yang tidak seharusnya, bahkan yang mereka tahu Gea adalah wanita yang miskin.
"Iya … maksud saya, iya saya tidak menyesal!" Briel tertawa lepas karena sudah berhasil menjahili Gea. Gea hanya menatap Briel datar. Briel berusaha meredam tawanya.
"Hah … saya tidak menyesal. Lagian kenapa saya harus menyesal? Toh semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin bisa diulang lagi." Briel berhenti sejenak. Ia heran saja ketika Gea mengatakan itu semua.
__ADS_1
"Memang kenapa?" tanya Briel kemudian.
"Mungkin kamu bisa saja malu karena aku miskin?" Kata–kata itu terlontar begitu saja dari bibir Gea. Ucapan Gea membuat Briel tertawa terbahak–bahak.
"Astaga … tadi malam saya sudah berjanji padamu. Kenapa harus saya sesali? Kamu miskin atau kaya, bagiku tidak berpengaruh. Tanpamu bekerja saja penghasilan saya sudah lebih dari cukup untuk mencukupi keburuhan kita berdua sehari–hari. Dan itu semua juga sudah menjadi keputusan saya."
Yeahh memang begitulah Briel. Dia bukanlah orang yang gila akan kekuasaan. Baginya, apa yang ia miliki ini adalah suatu titipan yang harus ia jaga dan pertanggungjawabkan. Kaya atau miskin sama saja. Manusia yang hidup di antara salah satu jenjang sosial itu sama–sama masih bernapas dengan oksigen geratis, dan cara makan normalnyapun sama–sama masih melalui mulut. Gea hanya tertunduk dan tersenyum simpul. Rasa hangat menelusup di dalam hatinya.
"Akkh … sudahlah tidak usah memikirkan tentang itu," ucap Briel. Ia tersenyum tulus. Gea pun lega karena pada akhirnya ia bisa dipertemukan dengan pria seperti Briel.
"Kamu tinggal di sini sendirian?" tanya Briel. Sejauh matanya memandang, ia tak melihat foto keluarga Gea tertempel di dinding rumah kontrakan itu.
"Ya, aku di sini sendirian," jawab Gea seadanya.
"Lalu dimana keluargamu?" tanya Briel yang penasaran sekaligus tertarik dengan kehidupan Gea.
Gea bergeming, sepatah katapun belum ada yang terlontar dari bibir ranumnya. Ia tak menjawab apa yang telah Briel lontarkan. Tapi mau bagaimana lagi tatkala hati berkata belum siap untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Senyum simpulnya telah berganti dengan senyuman miris tatkala mengenang bagaimana hubungan Gea dengan keluarganya.
"Suatu hari nanti kamu akan tahu tanpa aku beri tahu."
Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Gea. Ia masih enggan untuk berbagai mengenai bagaimana kisah keluarganya. Briel mengangguk paham. Ia mengerti dengan sikap Gea. Mungkin ada hal yang membuatnya belum siap untuk mengungkap siapa dia sebenarnya.
Gea menatap Briel sekilas lalu ia kembali melanjutkan aktivitas yang telah tertunda sementara. Gea masih enggan untuk bertanya siapa Briel sebenarnya. Pada akhirnya, hatinya memilih untuk menyimpan saja pertanyaan itu.
🍂
"Gey, saya ke luar dulu."
"Iya, Bang."
Briel melangkah ke luar. Ia menekan nomor yang telah terdaftar di daftar nomor yang tersimpan. Belum lama ia menempelkan gawainya di telinganya, sahutan sudah terdengar di telinganya.
"Dam, dua jam lagi aku akan ke rumah sskit. Kita berbicara di sana. Ada hal yang akan aku bicarakan denganmu," ucap Briel pada Adam, lawan bicaranya.
Kalimat itu adalah kalimat terakhir sebelum akhirnya Briel memutuskan panggilan itu secara sepihak.
Briel duduk di teras rumah Gea sambil menunggu Gea selesai mengemasi barang–barangnya.
Sementara di dalam kamar, Gea menggeruntu kesal karena ia harus membersihkan kelopak bunga yang berceceran karena ulah Briel.
"Astaga ... benar–benar ya. Sial! Pada akhirnya akulah yang membersihkan ini semua!" geruntu Gea. Ia mengumpulkan. sampah kelopak bunga itu dengan tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Selesai!"
Kamarnya telah bersih dan ia juga telah selesai berkemas. Ia berjalan ke luar rumah. Ia melihat Briel tengah duduh di kursi teras. Tatapan Briel terlihat menatap lurus ke depan sampai–sampai Briel tak menyadari kehadirannya.
"Ayo Bang!" ajak Gea. Ia tengah menenteng dua tas besar. Briel membantu Gea menenteng ras itu lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
Mereka berdua segera meninggalkan rumah kontrakan Gea.
🍂
"Bagaimana dengan dia?"
Davin bertanya pada orang suruhannya yang ia perintah untuk mencari tahu bagaimana keadaan Gea setelah ia campakan. Ia ingin mengetahui bagaimana respon Gea saat ini.
"Wajahnya terlihat sembab, Tuan. Mungkin karena terlalu lama menangis," kata orang suruhan Davin. Davin pun tersenyum miring membayangkan bagaimana wajah Gea saat ini.
"Tapi ia tidak sendirian. Ia datang bersama seorang pria yang kami sendiri tidak mengetahui siapa dia. Kami kehilangan jejak ketika mengikuti mobil mereka."
Benar adanya. Orang suruhan Davin kehilangan jejak ketika ada orang menyeberang tiba–tiba di depan mobil yang ia pakai. Hal itu membuat ia terhambat dan kehilangan jejak Gea.
"Dasar lamban!" Davin menghela napas kasar. "Cari tahu siapa pemilik mobilnya."
"Maaf, Tuan, saya lupa tidak mengamati nomor kendaraannya."
"Sial! Dasar bodoh!" umat Davin kasar.
"Sia–sia saja aku bayar kau untuk kasus ini!"
Davin tidak habis pikir, kenapa orang suruhannya begitu bodoh.
Prang
Davin memecahkan guci yang ia raih dari mejanya. Ia melangkah ke luar. Amarahnya sudah mencapai ubun–ubun. Pria itu hanya menunduk pada sang tuannya yang tengah meluap–luap.
🍂
//
Happy reading guys
jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1