Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
92. Ribut Lagi


__ADS_3

"Mau pesen apa?"


"Apapun deh, yang penting kenyang. Kan kamu yang traktir aku makan."


"Ish ish … pesanlah sesuai yang ingin kamu makan, Run," tegas Gea. Ia ingin Runi memakan makanan sesuai seleranya. Runi menatap Gea.


Yeahh. Mereka sekarang telah sampai di pusat perbelanjaan. Mereka berada di sebuah resto yang ada di sana. Mereka ingin mengisi perut kosong mereka sebelum berjalan mencari barang yanv mereka inginkan.


"Beneran ini?" Runi menatap Gea ragu.


"Iya beneran. Udah ah … pesan apapun yang kamu mau."


Gea menyerahkan buku menu kepada Runi. Runi memilih makanan yang ia sukai. Begitupun juga dengan Gea. Pelayan yang menunggu pesanan mereka pun meninggalkan mereka.


"Gey, jujur, aku salut sama kamu, Gey. Bisa bisanya kamu sehebat itu bela dirinya."


Runi menatap Gea kagum. Gea tersenyum menanggapi ucapan Runi.


"Kan namanya belajar Run. Jadi dulu itu, aku sering belajar bela diri sama kakek di waktu kecil. Ini sebenarnya hanya rahasia aku dan kakek saja. Karena yang lain tidak tahu. Nah setelah aku masuk SMP, aku kembali mengambil ekstra bela diri."


Runi terlihat sangat kagum dengan apa yang Gea kuasai. Ia bahkan tanpa sadar bertepuk tangan ringan.


"Ah gak usah gitu juga Run, aku malu."


Gea menengok ke kiri dan ke kanan. Melihat ke orang–orang sekitar. Ada beberapa di antara mereka yang melihat ke arah Runi dan Gea. Runi terkekeh ringan.


"Tapi jujur. Kamu terlihat keren Gey. Awalnya aku begitu khawatir dengan dirimu. Namun setelah aku lihat terus, ternyata …." Runi menggeleng pelan sembari tersenyum.


"Dah jangan lebay!"


Gea mengatakannya di depan wajah Runi. Mereka berdua tertawa bersama.


Tiba–tiba datanglah seorang pelayan yang menghantar makanan pesanan mereka, menginstrusikan mereka untuk berhenti tertawa.


"Makasih ya mbak," ucap Gea. Ia mengulas senyum manisnya.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua. Mereka mulai menyantap makanan mereka.

__ADS_1


"Gey, aku penasaran deh. Kemana kamu kemarin pergi? Kenapa kamu gak masuk kerja seminggu?"


Gea menghentikan aktivitas mengunyah makanannya. Ia menatap Runi sejenak, lalu mengambil minumannya. Ia menenggak minuman menyegarkan itu.


"Kemarin aku pergi menenangkan diri. Namun ya itu karena suamiku yang tidak jujur padaku."


Gea menceritakan semua kejadian itu. Namun ia belum menyebutkan siapa suaminya. Ia masih ragu untuk menyebutkan nama suaminya.


"Siapa sih Gey suamimu?" tanya Runi penasaran.


"Sudah. Tidak usah tahu siapa suamiku untuk waktu dekat ini. Kamu bakalan syok kalau tahu siapa dia."


Gea tersenyum. Ia membayangan bagaimana jika Runi tahu siapa suaminya.


"Ah gak asik kamu, Gey!" sungut Runi. Ia benar–benar penasaran dengan siapa yang menjadi suami Gea.


Gea hanya tertawa kecil. Ia belum berniat untuk memberitahu Runi tentang siapa suami dia.


"Ah jadi inget. CEO baru kita itu astaga … dia begitu tampan berkharisma. Ingin sekali aku punya suami seperti beliau."


Runi mulai membayangkan jika ia memiliki pasangan seperti Briel. Pasti wanita yang ada di sampingnya akan merasa beruntung.


"Aww ...." Runi mengaduh. Gea memukul ringan tangan Runi dengan sendoknya. Ia kesal karena suaminya diinginkan oleh orang lain.


"Ngaco kamu. Sudah, makan. Aku lapar!"


Runi mengelus tangannya. "Iya iya …. Dasar bawel!"


"Biarin."


Gea menjulurkan lidahnya.


🍂


"Ahh kenyang …" ucap Runi sembari memegang perutnya yang terasa penuh. Ia masih terua berjalan. Wajahnya terlihat bahagia karena perutnya kenyang.


"Kamu memang aneh, Run. Namanya makan ya kenyang. Kalau gak makan namanya lapar."

__ADS_1


Runi hanya cengengesan. Ia menampilkan deretan gigi rapinya yang putih. Gea hanya menggeleng ringan.


Mereka terus berjalan, hingga mereka masuk ke dalam sebuah butik. Gea menyuruh Runi untuk memilih apapun yang Runi suka, tanpa melihat bandrol.


Tiba–tiba datanglah kedua wanita. Mereka datang menghampiri Gea dengan senyum culas. Mereka merendahkan Gea, walau hanya dengan tatapan mereka.


"Wih nak miskin mainnya sekarang elit," ejek salah satu dari mereka.


Gea yang ada di sana tanpa basa–basi mengajak Runi keluar. Ia tak mau membuat keributan di sana.


Wanita muda itu tertawa. "Orang miskin ya, jadi hanya melihat dan gak beli."


Ucapan itu membuat Gea menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap kesal dengan kedua wanita itu.


"Nyonya Clara yang terhormat dan Nona Dela yang saya banggakan, bisa tidak kalian tidak muncul di hadapanku?" Gea mengucapkan setiap katanya dengan penekanan.


Dela tertawa mengejek. "Gak salah?! Bukannya seharusnya kuman sepertimu tidak muncul di depan kami?"


"Merusak pemandangan saja!" ucap Clara dengan lirikan matanya yang merendahkan. Semua orang yang ada di sana pun menatap Gea dan juga Runi dengan tatapan yang merendahkan. Mereka bahkan saling berbisik–bisik.


"Atau jangan–jangan kamu mau mencuri?" tuduh Dela. Dan gilanya semua orang percaya dengan apa yang diucapkan Dela. Mereka semakin mencemooh gea.


Kali ini, Gea begitu geram. Ia melangkah maju ia ingin melanyangkan tamparan ke wajah mulus Dela. Dela bahkan memalingkan wajahnya karena takut telapak tangan Gea menyentuh wajahnya.


Namun niat Gea diurungkan. Ada seseorang yang menahan tangan Gea. Semua yang ada di sana dibuat tegang karena ada seseorang yang berusaha menengahi pertengkaran itu. Suara orang–orang semakin kasak kusuk. Sedangkan Runi masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


🍂


//


Siapakah dia??


Maaf ya silahkam menunggu hari berganti lagi kelanjutannya 🤭🤗🙏🙏


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2