
Namun ternyata mimpi itu bukan sekadar mimpi. Pagi ini, tengah tertidur pulas dua insan yang sekian lama tak menghabiskan waktu bersama. Saling bergelung dalam balutan selimut yang membalut tubuh mereka berdua.
"Engghh!"
Dela menarik tubuhnya, merenggangkan ototnya yang terasa lebih pegal dari pada biasanya. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dengan mata yang belum terbuka sempurna. Bergantian leher itu ia patah–patahkan ke kanan dan kekiri untuk mengurangi ketegangan otot.
Saat itu juga ia merasa ada yang aneh. Ia merasa kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit tubuhnya. Dela terperanjat. Ia langsung menatap ke ke arah tubuhnya. Benar saja. Tubuh polosnya terpampang jelas. Selimut yang menutupi tubuhnya telah tersingkap.
"Apa ini? Berarti...?" Dela menatap ke arah samping ranjangnya. Ia melihat Davin masih tertidur pulas di sana. Deru napasnya teratur, seperti tak ingin diganggu sedikitpun.
"Bukan mimpi!" gumamnya sebentar. Lantas Dela mengedikkan bahunya sebentar. Ia berjalan ke depan meja rias, ingin mengambil handuk yang berada di punggung kursi, berniat untuk membersihkan diri.
Betapa terkejutnya ia kala melihat tubuhnya sudah tak berwujud. Tubuhnya yang semula mulus telah berubah warna menjadi polkadot.
"Davin!!!"
"Hmm" sahutnya malas. Tak ada niat sedikitpun untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Ia hanya memutar badan lantas kembali terlelap. Dela kesal dibuatnya.
"Astaga ni manusia ..." Dela mengambil napas dalam, "...banguun!!!" titah Dela sekali lagi sebab Davin yang tak kunjung meresponnya. Davin terbangun lantaran ulah Dela yang menggoyangkan tubuhnya keras. Ia merasa tidurnya terganggu.
"Ck... Apa?!" sahut Davin ketus.
"Lihat apa yang kau lakukan!"
Dela menyuruh Davin untuk melihat ke arah tubuhnya. Dengan santainya Davin menatap tubuh Dela dari atas ke bawah dengan tatapan biasa saja, tanpa dosa.
"Apa? Mau lagi? Males!"
Dela menekuk wajahnya. Sungguh ia ingin menampar makhluk di depannya itu. Wajah tanpa dosanya itu membuat darahnya naik.
"Eh dasar biadab! Lihat! Kenapa harus buat stempel sebanyak ini? Ah ...! Aku harus pergi keluar. Kalau seperti ini gimana aku mau pergi?!" sungut Dela. Banyak tanda kemerahan mahakarya Davin yang memenuhi tubuhnya.
"Ck! Lebay! Tinggal pakai pakaian tertutup aja selesai. Ribet sekali sih! Terserah aku dong mau gimana. Anda masih istri sah saya. Jadi hakku memperlakukanmu seperti mauku!"
"Hahaha istri. Tapi apa yang Anda lakukan? Kamu tak memberiku nafkah!" kesal Dela. "Mana miskin lagi," gumamnya kemudian dengan nada yang cukup lirih namun cukup keras untuk menyindir Davin.
Senyum miring begitu saja terulas di wajah Davin. "Bodoh!" gumam Davin dalam hati.
Bisnis yang ia jalani sekarang malah memiliki keuntungan yang lebih besar dari pada sebelumnya.
"Terserah! Mau kau pergi mau tidak aku tidak peduli. Lalu kenapa kau datang ke mari hmm? Bukankah kau tak sudi lagi bersamaku?"
__ADS_1
Bagi Davin, kehadiran Dela tidak penting baginya. Karena bagaimanapun, ia masih bisa menyewa wanita di luar sana. Bahkan dengan mudahnya, wanita itu dengan sukarela akan menghampirinya.
"Ya ya ya ... Semua karena Papi!" ucapnya lantas pergi meninggalkan Davin di sana.
"Mau bermain–main denganku wanita murahan? Baiklah!" Matanya terus menatap punggung terbuka Dela yang perlahan menghilang di balik pintu kamar mandi.
🍂
"Kenapa lagi itu orang?"
Sudah cukup lama Adam duduk di kursi lain sembari menatap Briel yang bertopang dagu dengan jari yang terus mengelus–elus pelan jambang yang telah tumbuh rapi itu. Lamunannya membuat Adam bertanya–tanya dalam hatinya.
"Bri! Hutang apa yang belum kau bayar?!"
"Hutang–hutang kepalamu peyang! Sembarangan kalau bicara!"
Briel melempar sebuah penggaris. Secepat mungkin Adam menghindar sebelum penggaris itu dengan mulus menyentuh tubuhnya keras.
Lirikan maut Briel layangkan. Adam yang telah terbiasa dengan tatapan itu pun tak mempermasalahkamnya.
"Ya salah sendiri muka seperti orang yang pusing dikejar renternir. Ada apa sih?"
Briel menarik napas dan menghembuskannya panjang. Berat ia rasakan. "Ada orang yang mulai meneror kami. Ia melempar sebuah batu dengan selembar kertas bertinta merah."
"Apakah itu Davin?"
Briel menggeleng ringan. "Aku tidak tahu pasti. Namun siapapun itu aku dan Gea harus tetap berhati–hati."
Adam mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Aku akan membantumu mencari tahu siapa orang itu.
Tiba–tiba saja suara pintu telah terbuka. Datanglah Gea dengan sejumlah makanan di tangannya. Tak hanya sendiri, ia datang bersama dengan Runi.
"Kalian membicarakan apa sih? Kelihatannya serius sekali."
Tak biasanya, Gea jarang melihat kedua orang itu membicarakan hal serius di jam istirahat seperti itu.
"Tidak. Kami hanya membahas Adam yang pengin mepet orang tapi bingung sendiri."
Briel menggunakan Adam sebagai kedok topik pembicaraan mereka. Dia tak ingin membuat Gea gelisah dan berakibat fatal untuk dia dan calon bayi mereka lantaran turut stres memikirkan apa yang telah terjadi. Lagi pula informasi yang belum jelas hanya akan menambah beban pikir Gea. Oleh karena itu ia bersikap seolah–olah tak membicarakan apapun.
"Aku lagi–aku lagi!" keluh Adam dalam hati. Briel sering menggunakannya sebagai kedok di setiap hal yang mendesak. Dasar menyebalkan. Ia memutar bola matanya malas. "Hilih!"
__ADS_1
"Mana makanan kita Gey, aku lapar," ucap Briel manja. Mengalihkan topik pembicaraan adalah hal yang pertama kali harus dilakukan. Walaupun ia tahu, Gea hanya akan menyembunyikan rasa penasarannya.
"Eh eh! Kenapa kamu bawa cewek lemot itu?!" seru Adam. Ia menunjuk jelas ke arah Runi dengan dagunya.
"Eh Bos Gelo! Jangan geer. Aku ke sini karena Gea yang mengajak. Kalau tahu kamu ada di sini, lebih baik aku tak ikut!!!"
Runi yang ditunjuk seperti itu tak terima. Bahkan ia lebih ketus dari seorang wanita yang tengah PMS.
Runi melengos, membuang muka. Sungguh. Bertemu dengan bos yang menurutnya gila itu sungguh menghancurkan moodnya.
"Kalian tiap bertemu gak pernah akur. Awas dari tom and jerry bisa jadi scooby doo by doo," goda Gea.
"Idihhh ... OGAH!!!"
Mereka menyahut bersamaan. Hal itu membuat Gea sekaligus Briel tak mampu menahan tawanya.
"Hahahaha ... Bilang anti tapi kompak. Awas dari benci bisa cinta!" ledek Briel. Sedangkan baik Adam maupun Runi saling memalingkan muka. Mereka jengkel lantaran Briel meledek mereka seperti itu.
"Amit–amit sampai turunan ke 7! Gak sudi!!!"
Lagi–lagi batin mereka mengatakan hal yang sama walaupun yang terlihat secara nyata hanyalah putaran malas kedua mata mereka sembari mencebikan bibir.
Sejenak, senda gurau mereka cukup untuk mengalihkan pillkiran Briel sementara. Mereka pun menyantap makan siang dengan berbagai gurauan dan godaan.
🍂
"Orang itu bukan dia!"
"Maksudnya?"
Briel penasaran akan apa yang telah Adam informasikan padanya. Adam yang menjeda ucapannya semakin membuatnya penasaran.
🍂
//
See you next day 😘
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕