
Dini dan Minah berjalan menuju ke kamar khusus untuk mereka. Mereka diam tanpa kata. Tidak satupun dari mereka berniat untuk memulai pembicaraan. Minah berjalan lebih dahulu dan Dini berjalan di belakangnya. Dini menunduk sembari memainkan jari jemarinya. Kerinduan yang membelenggu hati Dini membuat Dini buta mata.
Tiba–tiba saja Minah berhenti hingga membuat Dini terkejut dan berhenti mendadak. Dini menarik napas. Setidaknya ia tidak menabrak Minah yang sekarang tepat berada di depannya.
Minah berbalik. Ia menatap Dini dengan tatapan penuh kekecewaan. Ia tidak menyangka Dini akan melakukan hal itu pada majikannya.
"Aku tidak habis pikir dengamu, Din. Sungguh kau tega dengan Nyonya Gea. Bukankah selama ini beliau baik pada kita?"
Tidak ada kata bentakan atau tuduhan keras. Mina mengucapkannta dengan lembut. Namun justru itu yang membuat Dini semakin sesenggukan. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"A–aku ti–tidak bermaksud se–seperti itu M–mbak ..." ucap Dini sembari terus menangis.
Melihat Dini yang semakin kacau, ia menghembuskan napas kasar. Tangisnya terdengar pilu, namun Minah juga tidak membenarka apa yang Dini lakukan. Ia mulai menurunkan kedua tangan Dini.
"Duduk sini," ajak Minah. Ia menggandeng Dini untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari pintu kamar mereka. Mereka duduk bersebelahan. Tangan Minah menggenggam kedua tangan Dini.
"Kamu kenapa?" tanya Minah hati–hati. Sedangkan Dini masih sibuk meredakan tangis sesegukan yang membuat dadanya semakin sesak.
Tak kunjung mendapat jawaban, Minah berdiri. Tidak lama kemudian, Minah datang dengan membawa segelas air putih hangat. Ia memberikannya pada Dini.
"Minumlah terlebih dahulu."
Tanpa membantah, Dini meminum air itu. Seteguk, ia berhenti. Kemudian ia menengguknya lagi sedikit.
Dini mengambil napas panjang untuk mengeluarkan rasa sesak itu. Ia memberikan kembali gelas itu pada Minah.
"Ada apa?" tanya Minah setelah Dini mulai tenang. Ia berlaku seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Memanglah demikian. Terpaut beberapa tahun di bawahnya membuat Minah menyayangi Dini seperti adiknya sendiri.
Dini menatap Minah beberapa detik, cukup lama. Ia menatap dua netra yang juga menatapnya. Ia mencari celah apakah Minah bisa dipercaya atau tidak. Atau malah Minah akan lebih menghakiminya. Ia takut akan dua hal itu.
"Cerita saja, Mbak dengarkan."
Ada keraguan di mata Dini. Minah memberi isyarat lewat tatapan matanya sembari mengangguk agar Dini tidak sungkan dan percaya padanya.
"Jadi Mbak ..."
🍂
Briel terus mendekap sang istri. Cukup lama Gea menangis namun tidak juga kunjung mereda. Sudah lama Briel tidak melihat Gea menangis seperti ini. Tangisan Gea mampu membuat dirinya pilu. Ia terus mengelus lembut rambut Gea tanpa kata. Ia membiarkan Gea tenggelam dalam perasaannya sampai Gea lelah dengan sendirinya.
Sampai tidak ada lagi suara isakan tangis, Briel pun mulai panik. Namun ia masih menjaga pergerakannya. Ia sedikit melihat ke arah Gea. Ternyata Gea tertidur dalam tangis yang membelenggunya. Ada sedikit kelegaan di hati Briel. Hati yang was was juga berdampingan.
Pelan–pelan Briel mengangkat Gea lantas membaringkannya di ranjang. Briel menatap tubuh Gea. Pandangan matanya terhenti pada wajah Gea dengan mata terpejam itu. Sisa air mata masih terlihat jelas di pipi Gea. Tangan Briel tergerak untuk mengusap sisa air mata itu.
__ADS_1
Tanpa kata, Briel meninggalkan Gea sendirian di kamar. Ia membiarkan Gea terlelap tanpa berniat membangunkan Gea.
🍂
"Di mana Nino, Bun?" tanya Briel pada Tere kala melihat Tere tanpa Nino berjalan dari arah kamar Minah dan Dini.
"Ada. Dia sama Ayah di kamar. Rio gimana?"
"Ada kok Bun. Rio tertidur di kamar atas."
Tere mengangguk mendengar jawaba dari anaknya itu. Tere terdiam sejenak.
"Ikut Bunda sebentar."
Tere mengajak Briel duduk di meja makan. Briel mengikuti langkah kaki Tere.
"Apakah benar kamu ingin memecat Dini?" tanya Tere setelah mereka sudah duduk di kursi yang saling berhadapan.
Briel menghela napas kasar. Mencari baby sitter yang cakap itu sulit. Tapi apa yang Dini lakukan tidak bisa dimaafkan.
"Entahlah," ucap Briel berat hati. "Mungkin aku pecat."
"Kamu yakin?" Tere menatap Briel.
Tere menghela napas. "Bunda tadi dari kamar mereka. Minah menceritakan semuanya sama Bunda. Ternyata Dini itu kehilangan anaknya 3 bulan yang lalu. Kalau dihitung itu tepat saat si kembar lahir. Dia rindu dengan anaknya, makanya ia berbuat demikian."
Tere menceritakan semuanya pada Briel. Briel hanya ber–oh saja. Ia sudah terlanjur kecewa dengan apa yang Dini lakukan. Tidak ada sepatah katapun, Tere hanya menatap Briel.
"Nanti aku pikirkan. Setelah Gea bangun nanti kami akan merundingkannya."
Tere mengelus pundak Bri lembut. Ia tahu perasaan anaknya. Di satu sisi dia juga tahu bagaimana kondisi Dini yang merupakan patah hati terbesar orang tua, terutama ibu.
🍂
Sedangkan kini Frans di kamarnya tengah sibuk menatap tubuh cucunya. Tubuh mungil nan rentan itu membuatnya tersenyum sendiri. Frans mengusap lembut pipi Nino yang gembul.
"ckckck memang benar. Gen tampan dari kakeknya menurun pada cucuku," ucapnya narsis.
Beginilah Frans. Selalu ada hal yang dilakukan di samping kekacauan yang terjadi. Selagi kekacauan itu masih tertangani, tidak ada salahnya juga untuk hanya sekadar bercanda. Itulah prinsip hidup Frans. Hidup yang sudah gila janganlah ditambah gila dengan ketegangan.
Perhatiannya teralihkan oleh suara pintu yang terbuka.
"Bagaimana, Bun?" Frans mulai beranjak dari ranjang.
__ADS_1
"Entahlah, Yah. Semuanya terlihat rumit," ungkap Tere.
Frans tersenyum hangat. "Biarkan mereka menyelesaikan masalah rumah tangga mereka. Tugas kita hanya mengawasi mereka." Frans berusaha menenangkan istrinya yang terlihat khawatir dengan permasalahan anak dan menantunya.
"...dan juga mengawasi mereka," lanjut Frans dalam hati. Ia masih enggan untuk membicarakan hal itu pada sang istri.
Yang Frans maksud adalah Dini dan Minah. Ia merasakan sesuatu yang janggal di antara mereka. Namun ia sendiri masih belum mengetahuinya pasti. Ia dan orang suruhannya butuh waktu untuk itu. Keluarganya bukanlah keluarga mafia yang bisa mencari informasi dalam waktu yang sangat singkat.
Tere menghampiri Nino. Ia menggendong kembali Nino dan membawa Nino ke kamar atas agar anak kecil itu kembali bersama dengan kembarannya.
Setelah ruang itu hanya tersisa dirinya sendiri, Frans mengambil benda pipih canggih yang ada di atas nakas. Ia menghubungi orang kepercayaannya.
"Tetap awasi gerak gerik mereka. Ada sesuatu yang janggal, segera hubungi saya."
"Baik Tuan"
Tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicara, Frans mematikan sambungan itu. Ia menerawang jauh ke depan. Ia menarik napas berat. Ada saja hal yang terjadi di rumah tangga anaknya. Ia berpikir, masih ada seseorang yang masih belum tuntas. Dan ia akan berusaha mengusutnya sampai akar.
🍂
Hai semua ...
Apa kabar kalian? Moga baik baik ya.
FYI konflik ini memang masih ada karna memang konflik di awal belum selesai. Apa yang Asa tulis ini masih sesuai alur yang Asa buat sejak awal. Dan untuk di alur keluarga ini, mereka bukan mafia namun mereka punya relasi dengan mafia. Jadi yang menganggap keluarga mereka mafia jawabannya adalah salah. Mereka keluarga pengusaha.
Terima kasih untuk yang masih setia membaca dan menunggu.
Selamat berpuasa untuk kakak–kakak yang menjalankan ibadah puasa ✨✨
.
.
Love you so much 😭❤️❤️❤️
🍂
//
Happy reading Gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1