Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Berulah


__ADS_3

"Ada gak sih kerjaanmu selain ongkang–ongkang seperti itu?" ungkap Gaza dengan nada bicara yang mulai meninggi.


Sudah beberapa hari ini tiap kali ia ke kontrakan yang ia lihat hanyalah Dela yang hanya selalu rebahan dan menonton televisi sepajang waktu. Ia terlampau kesal melihat pemandangan itu setiap hari. Bahkan urusan kontrakan itu harus dia yang mengerjakannya. Dia bukan pembantu yang seenaknya disuruh suruh apa lagi membersihkan yang sebenarnya tidak ia lakukan.


Dela mendongakkan kepalanya menatap Gaza. Tidak lama, setelah itu ia menatap kembali televisinya. Tangannya mengotak atik remot untuk memindah channel tv yang bagus untuk ia tonton.


"Tidak ada," jawabnya enteng sembari terus memindah. "Nah akhirnya ketemu yg bagus," seru Dela kemudian kala ia menemukan channel pergosipan yang mengupas kehidupan para artis.


Bodo amat adalah Dela. Dela tidak memiliki pilihan lain. Biasanya ia memilih untuk menonton bioskop atau aplikasi drama yang ada di gawainya. Namun kali ini ia tidak bisa menggenggam semuanya itu kembali. Lewat aplikasi saja sulit untuk ia lakukan apa lagi jika ia harus jalan–jalan ke luar yang harus membawa banyak uang? Padahal uang saja ia tidak punya. Menonton televisi adalah hal yang bisa ia lakukan untuk mengobati kerinduannya. Lebih tepatnya kepenatannya.


Gaza menarik napas dalam–dalam. Ia berkacak pinggang sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Mau jadi apa wanita ini. Kelakuannya saja benar–benar jauh dari kata dewasa." Gaza bergumam lirih.


Dela mendengarnya, namun ia memilih untuk berpura–pura tidak mendengarkannya. Ia memilih untuk tetap fokus menatap layar televisi yang masih menyala.


"Ibu hamil dalam keadaan sehat harus banyak bergerak biar tetap sehat." Gaza menasihati agar paling tidak Dela bergerak walau hanya gerakan ringan. Terlalu banyak rebahan juga tidak baik untuk kesehatan.


"Malas. Lagian hamil juga bukan kemauanku."


Tidak ada beban sedikitpun yang membebani hati Dela kala mengucapkan kalimat itu. Dengan santainya Dela malah memakan buah apel yang sedari tadi ada di genggamannya. Hal itu membuat Gaza geleng–geleng kepala.


"Oooo ... Bukan kemauan ya? Bukan kemauan tapi senang–senang saja jalan–jalan indehoynya. Bahkan bisa jadi nambah mulu tidak cukup hanya sekali."


Sindiran Gaza tepat. Mereka memang terlalu bersemangat. Dela hanya mencibirkan bibirnya seperti meniru perkataan Gaza. Ceramah Gaza sangatlah mengganggu kenyamanan kupingnya yang semakin lama ia mendengar kupingnya semakin panas.


"Dan lagi. Bayar listrik itu juga pakai uang, bukan pakai daun."


Gaza yakin. Semenjak ada Dela pasti taguhan listriknya akan melonjak naik. Dan tagihan itu sudah pasti Gaza yang menanggungnya.


Dela bergeming. Ia enggan menanggapi lelaki bermulut lemes seperti Gaza.


"Cewek apa cowok sih? Sewot sekali dia!" gumamnya dalam hati. Bola matanya berputar malas.


Gaza mulai muak. Ia menatap pasrah wanita hamil muda di depannya itu. Tidak ada pilihan lain. Ia merampas remot yang sedari tadi Dela genggam.

__ADS_1


"Eeehh..."


Remot telah beralih. Dela berusaha merebut kembali remot itu. Tangannya meraih–raih remot yang sebisa mungkin Gaza jauhkan dari jangkauan Dela. Tangannya yang sebelah ia gunakan untuk menahan Dela agar tidak bisa meraih sebelah tangannya. Secepat mungkin ia menekan tombol on/off yang ada pada remot itu.


"Aihhhh ... Balikin remotnya!" rengek Dela kala melihat layar yang semula menyala kini telah padam. Seberusaha apapun, Dela tetap kesulitan. Tinggi badan Gaza yang lebih tinggi dan kegesitan tangan Gaza yang mengalihkan remot terlalu gesit. Gaza tersenyum licik.


"Dah selesai waktu bersantai! Sekarang bersihkan ulahmu sendiri!"


Gaza mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu yang ada di sana. Ia juga menunjuk sampah–sampah yang berserakan di ruangan itu.


"Itu piring–piring juga kotor. Bersihkan juga. Aku membawamu ke sini bukan untuk tinggal seenaknya. Setidaknya bertanggungjawablah dengan apa yang kamu lakukan. Aku tidak seperti keluargamu yang ibarat tepuk aja semuanya tersedia!" ucap Gaza tegas. Ia membawa Dela itu untuk membantu, bukan untuk menambah beban. Tapi yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Kontrakannya berantakan karena ulah Dela.


"Iihh kamu ya! Aku tidak minta tuh untuk diselamatkan. Kamu yang membawaku ke sini. Kenapa kamu juga yang sewot?! Harusnya kamu dah tahu konsekuensinya membawaku ke sini."


Dela berbicara tepat di depan wajah Gaza. tatapan mereka saling melemparkan mata pisau. Dela tidak mau kalah. Pada dasarnya ia memang tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah seperti itu. Biasanya banyak asisten rumah tangga yang biasa membantunya. Ia tidak ingin merusak kukunya dengan melakukan hal hal yang anti di dalam hidupnya.


"Iyuuhh..."


Hanya dengan menatapnya saja Dela enggan, apa lagi untuk melakukannya.


"Aaaa ... Tamatlah riwayatku. Bagaimana nanti jika dia malah mengusirku," batin Dela harap–harap cemas. Ia memang menantang Gaza, namun ia juga khawatir dengan nasibnya. Pasalnya ia tidak mempunyai apapun untuk menyambung hidupnya.


Gaza menghembuskan napas kasar.


"Hei lihat itu sampah sisa makanan. Itu juga kamu yang berulah. Bersihkan atau tidak dibersihkan sama sekali!"


"Aaa syukurlah, kukira akan diusir," batin Dela tersenyum lega. Senyum yang tidak akan pernah dia akui seumur hidup!


"Ya sudah kalau begitu. Tidak usah dibersihkan. Bye!"


Dela merebut kembali remot dari tangan Gaza. Ia kembali ke tempat di mana semula ia merebahkan diri. Layar yang semula mati, kini ia hidupkan kembali. Dela bertumpu pada sebelah sikunya hingga posisinya setengah duduk.


Dela tersenyum miring, penuh dengan kemenangan.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa mengambilnya," begitulah kira–kira kalimat yang tersirat dari senyum dan ekspresi Dela. Dela sengaja meletakkan remot itu di dalam bajunya. Ia menggerekkan sebelah alisnya, keangkuhan terlihat begitu saja.


Dela kembali merebahkan diri. Kakinya ia angkat, sebelah kakinya ia tumpangkan di kaki sebelah. Ia kembali menikmati aktivitasnya tanpa memperdulikan keberadaan.


Gaza menjatuhkan rahangnya. Ia menganga mendengar jawaban Dela yang berbeda dari ekspektasinya. "Benar–benar sepertinya otaknya perlu dibenarkan" ucapnya jengkel tertahan.


"Oke ... Okee ... Lihat saja nanti!"


Gaza memilih pergi dari sana dari pada harus bercapek–capek terlalu lama berdebat dengan orang yg ternyata tidak ada ujungnya. Yang ada dia sendiri yang emosi.


Gaza mengambil sebatang rokok dan menyalakannya di belakang rumah. Rokok adalah senjata ampuh untuk menenangkannya.


🍂


//


Hai hai hai semua


Banyak dari kalian yang mempertanyakan perihal Runi dan Adam. Untuk mereka asa putuskan di novel lain nanti jika ada kesempatan untuk membuatnya. Novel ini khusus untuk Gea & Briel dan juga Dela. Kalau Runi sama Adam di sini juga, judulnya sudah bukan "Pengantin CEO yang Tertukar Dong" muehehehe.


Tapi kisah mereka masih bakal di selipin di sini sebagai micin. Masakan tanpa micin rasanya kurang nampol ahahahaha.


Bagi yg tanya Ayu, nanti soal Ayu bakal dijelasin. Tapi tidak tau nanti di part berapa. kalau Asa lupa nanti boleh diingatkan😉


Ah ... sudah cukup banyak salam salamnya. Salam sehat untuk kalian yang baca. Lagi musim popcron mulai lagi. Tetap jaga kesehatan.


Salam 🤗


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2