Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
62. Jealous


__ADS_3

"Heem …"


Deheman keras itu mereka terdengar dari seorang pria. Runi dan Gea memusatkan perhatiannya ke sumber suara itu. Seketika pandangan Gea datar. Ia menyorotkan mata yang teramat benci padanya. Ia membuang muka ke sembarang arah.


"Wah wah wah … ternyata Putri Gagal masih kuat untuk bekerja juga ternyata. Sungguh wanita tangguh," ejek pria itu merendahkan.


Gea mengabaikan ucapan Pria itu. Begitupun juga dengan Runi. Ia memandang orang itu malas.


"Dasar pengkhianat! Beraninya main licik saja!" sindir Runi lirih namun masih terdengar cukup jelas. Rasa panas pun menguar dalam diri Davin. Ia tersenyum miring dengan tatapan tajam dari netranya yang menatap Runi. Tatapan itu tak berpengaruh bagi Runi.


"Ayo, Gey!" Runi menggandeng tangan Gea untuk ia ajak pergi dari sana. Namun tak ada pergerakan dari Gea. Ternyata tangan Gea yang sebelah ditahan oleh Davin. Ia menatap Davin dengan sorot mata yang tajam agar Davin melepaskan cekalannya. Davin hanya bergeming.


"Kamu duluan aja, Run. Aku akan berbicara terlebih dulu dengan dia," putus Gea.


"Kamu yakin, Gey?" tanya Runi ragu. Gea hanya mengangguk dengan sedikit senyum yang tersungging di bibirnya. Ia tak mau kejadian–kejadian tam diinginkan terjadi pada sahabatnya ini.


"Baiklah Gey. Hati–hati Gey sama rubah yang satu ini, Gey!"


Gea mengangguk. Runi pergi meninggalkan Gea dan Davin di lorong yang cukup sepi. Tiba–tiba saja Davin memepetkan Gea ke dinding lalu mengurungnya dengan kedua tangan. Jarak mereka semakin tipis. Kebetulan lorong di sana pun cukup sepi.


"Wow … wanita yang tegar," ucapnya sinis.


Gea hanya berdecih malas. Ia memalingkan wajahnya. Tanpa aba–aba tubuh Gea menegang. Tangan Davin menyusuri setiap wajah Gea.


"Kurang ajar!" Gea menepis tangan itu, namun dengan cepat Davin mencekal kedua tangan Gea lalu menguncinya di atas kepala Gea. Satunya lagi masih tetap menyusuri setiap inci wajah Gea.


"Akan ku ambil apa yang belum ku ambil," gumam Davin lirih. Pandangannya jatuh pada sebuah lipatan yang begitu ranum. Ia tergoda. Davin memangkas jarak diantara mereka.


Sekuat tenaga Gea ingin melepaskan diri dari sana. Tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Davin.


"Astaga … apa yang harus kulakukan?" gumam Gea dalam hati.


Gea memutar otaknya agar cepat berfungsi. Ia melihat ke arah kaki, lalu ia bersiap untuk menendang. Dan ….


"Heem"


Deheman itu terdengar cukup keras. Davin segera melepaskan cekalannya. Gea mengucap syukur di dalam hatinya. Setidaknya apa yang harus ia jaga tak diambil paksa oleh pria yang bukan belahan hidupnya saat ini.


Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Gea terperanjat kaget. Ia merasa berasalah padanya.


"Hai Tuan Davin … Apakah Anda sudah lama?" tanyanya.

__ADS_1


"Oh Tuan Briel … belum lama Tuan," jawab Davin yang berusaha menyembunyikan kegugupannya karena terciduk.


"Astaga … apakah dia melihatnya?" batin Gea sembari menelan salivanya yang tak kunjung bisa ia telan karena tenggorokannya terasa kering. Ia khawatir kalau Briel melihatnya. Ia tak mau Briel menganggapnya melakukan yang tidak–tidak dengan Davin.


"Apa yang Anda lakukan dengan karyawan saya di sini?" tanya Briel seraya memandang Gea dengan lembut.


"Oh tidak apa–apa Tuan. Tadi saya melihat ada kotoran di rambutnya. Jadi saya membantu dia untuk membersihkannya karena dia tak bisa melihat dimana letaknya," kilah Davin.


Tidak mungkin juga dia mengatakan hal yang sebenarnya. Karena ia tak ingin semuanya hancur begitu saja.


"Baiklah Tuan. Anda ke ruangan saya saja terlebih dahulu. Di sana ada asisten saya yang telah menunggu Anda di sana. Saya akan mengambil berkas yang tertinggal di mobil."


"Dan untuk kamu, buatkan tiga minuman dan hantar ke ruangan saya!" perintahnya untuk Gea.


"Baik Tuan!" ucap Gea dengan kepala menunduk. Ia pun langsung pamit undur diri. Briel juga berjalan untuk mengambil berkasnya dan Davin berjalan menuju ruangan Briel.


"Selamat, selamat … semoga dia tak melihat kejadian tadi …" gumam Gea lirih sembari terus berjalan menuju pantry. Ia berharap agar Briel tak melihat kejadian tadi.


"Untung saja ada berkasku yang tertinggal. Kalau tidak semuanya akan terlambat. Shit!!" umpat Briel. Rasa gerah menjalar di sekujur tubuhnya tatkala mengingat perbuatan Davin yang kurang ajar. Untung saja ia menolak tatkala Adam menawarkan dirinya untuk mengambilkan berkas yang tertinggal. Kalau tidak mungkin dia akan meyesal.


"Tahan Briel, tahan. Kamu pasti bisa!" ucapnya dengan dirinya sendiri. Jika ia tak mengingat nasib perusahaannya, ia sudah menghajar habis–habisan Davin dengan tangannya sendiri.


🍂


Mula saat itu mereka membahas mengenai kerjasama pengerjaan proyek yang telah berlangsung lebih dari setengah itu. Proyek itu telah separuh jalan. Dana pengerjaan proyek 50% tersisa telah diberikan kepada perusahaan Davin saat posisi Frans belum diserahkan kepada Briel.


Saat itu datanglah Gea yang membawa minuman itu. Gea meletakan minuman itu masing–masing di depan mereka bertiga.


"Silahkan, Tuan." Gea membungkukkan badannya. Sekilas Gea melihat ke arah Davin karena merasa diperhatikan. Davin menatap Gea dengan penuh ancaman godaan.


"Pemandangan yang luar biasa," gumam Adam dalam hatinya sembari menyeruput minuman hangat itu. Ia tak menyangka akan melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Ia memandang Briel, Davin, dan Gea bergantian. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi tatkala tiga orang yang saling berhubungan menjadi satu ruangan.


Tatapan Davin benar–benar membuat Briel geram. Dia tidak rela jika istrinya ditatap seperti itu oleh pria lain. Sekuat tenaga ia menahan amarahnya. Di bawah meja, tangan Briel telah mengepal kuat.


"Tahan Briel, tahan!" Briel berusaha meneguhkan hatinya.


Gea hanya mengabaikan tatapan Davin. Gea membungkukkan badannya kemudian ia langsung pergi begitu saja dari ruangan itu, tanpa mengacuhkan Davin.


Diam–diam Briel menarik napas dalam untuk menstabilkan emosinya. Ia harus menahannya. Ia tidak mau karena kecerobohannya, perusahaan dan karyawannyalah yang menanggung kerugian yang ia sebabkan. Orang banyak bergantung pada dirinya. Dia akan kehilangan dana itu jika penyebab putusnya kontrak kerjasama itu dari pihak Briel. Ia harus memikirkan matang–matang sebelum hal itu terjadi.


"Luar biasa si Bos bisa menahan emosinya." batin Adam yang salut juga dengan Briel yang mampu mengendalikan emosinya.

__ADS_1


Mereka bertiga melanjutkan meeting mereka sampai selesai.


🍂


"Karena permintaanmu, aku harus menahan diri!" ucap Briel kesal pada wanita yang tengah duduk di sofa. Briel mengingat permintaan Gea waktu berada di pantry. Gea meminta agar tak seorangpun mengetahui hubungan mereka saat ini terlebih dahulu. Bahkan dengan Davin sekalipun.


"Biarkanlah saja dia, Bang. Dia tak akan berani berbuat macam–macam jika ada dirimu."


Briel mendesah kasar. "Iya jika aku ada. Bagaimana jika aku tadi tak ada di sana?!" tohok Briel.


Gea langsung menunduk. "Maaf …" cicitnya. Ia juga tak tahu apa yang terjadi jika Briel tak datang tepat waktu. Adam yang berada di sana serba salah. Ingin dia keluar dari sana, namun ruangan dia berada di satu dengan ruangan Briel. Ruangan yang lain masih dipersiapkan dan baru bisa digunakan esok paginya.


"Sepertinya aku harus keluar sebentar," putus Adam. Ia merasa tak enak hati berada di antara dua senjoli yang tengah berargumen.


"Di sini saja dulu. Sekalian aku ingin mengenalkan dirimu pada istriku."


"Silahkan kenalan sendiri," ujar Briel lagi.


"Adam, Nona Bos."


"Gea."


Adam melempar senyum ke arah Gea. Gea juga membalas senyum itu dengan melempar senyum manis cantiknya.


Briel berdecak kesal. "Jangan lama–lama menatapnya, Dam!" Ia tak rela kecantikan istrinya dinikmati orang lain.


Gea membulatkan matanya mendengar pernyataan Briel. Seketika tawa Adam pecah. Baru kali ini ia melihat Briel marah–marah karena cemburu. Briel tak menghiraukannya.


"Jangan tersenyum terlalu manis untuknya, Gey!'


Gea menatapnya heran menuntut sebuah penjelasan..


"Pokoknya jangan!"


"Lah, Bang, memangnya kenapa?" tanya Gea dengan polos. "Mengapa tidak diperbolehkan? Bukankah senyum itu ibadah? Apa jangan–jangan kamu jealous?" tanya Gea beruntun.


🍂


//


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2