
Di dalam kamar hotel, dalam kesendirian Dela menenggelamkan diri dalam bathup. Air dingin itu seakan menenangkan pikirannya yang kacau. Bagaimana tidak? Hidupnya sekarang hancur berantakan. Semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
"Mami ... Dela sendirian. Sekarang, tak ada lagi yang bersama dengan Dela," gumamnya dalam hati.
Tangannya memainkan air berbusa yang ada di sana. Tidak ada air mata. Namun kekosongan itu ada di mata dan hatinya. Hanya Clara yang mampu mengerti dan memahami apa mau Dela.
Memory demi memory kenangan terekam jelas di kepalanya, kebersamaannya dengan Clara yang mereka lalui bersama. Kebersamaan itu menyesakkan hatinya. Ingatan itu membuat napasnya tercekat begitu saja. Kepergian Clara masih belum bisa ia terima. Dela menghela napas berat.
Tangan Dela berkerut, kulitnya membiru, gigi Dela mulai bergemeletuk. Ia sudah mulai kedinginan. Dela beranjak dari sana lantas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sangat terbuka. Perutnya yang masih rata masih terlihat seksi kala mengenakan pakaian haram itu.
Dela menatap dirinya dalam cermin. "Kau masih cantik dan seksi Dela. Masih banyak lelaki yang mau denganmu. Come on Dela. Galau itu bukan kamu sekali. Mari kita bersenang senang." Wajahnya terlihat sumringah. Lebih tepatnya menghibur diri lantaran tidak ada siapapun lagi.
Lantas ia menatap ke arah perutnya yang terlihat di cermin itu. Seketika saja sorot matanya berubah. Tatapannya begitu tajam penuh kebencian.
"Dan kamu! Nyatanya dirimu tidak berguna. Lihat saja nanti apa yang bisa kulakukan padamu."
Senyuman Dela begitu mengerikan. Entah apa yang akan ia lakukan, tidak ada yang tahu. Yang jelas dia menjadi orang yang lebih gila.
Dan di sinilah ia sekarang, di tempat kehidupan malam dengan berbagai latar belakang. Di tengah hingar bingarnya suara, Dela benar–benar menikmati malamnya di malam itu. Minuman alkohol berbotol–botol telah ada depannya sembari berjoged ria.
"Aarrrggghhh"
Tiba–tiba saja Dela memegangi perutnya. Rasa sakit menghantam tubuhnya. Hingga semua pandangannya gelap. Ia tak sadarkan diri.
__ADS_1
🍂
"Bayang"
Gea menggerakkan tubuh Briel yang sudah memejamkan mata cukup lama itu.
"Hmm?" jawab Briel tanpa membuka matanya. Kantuk itu membuatnya malas untuk hanya sekadar melirik sekejab.
"Ihh Bayang ..." Sungguh. Gea kesal dengan apa yang Briel lakukan. Baginya sikap Briel itu sangat menyepelekannya. Maklumlah ibu hamil, selalu ingin dimengerti.
"Apa Sayang?"
Karena rengekan Gea, Briel mengalah untuk bangun dari tidurnya. Tubuh yang semula terlentang kini dimiringkan menghadap ke arah Gea.
"Kamu kenapa hm?"
Briel benar–benar khawatir dengan Gea. Tak biasanya Gea secemas itu.
"Gak tahu kenapa Bayang. Tiba–tiba saja hatiku tidak enak. Seperti ada sesuatu yang aku sendiri tidak tahu."
Briel mengerutkan dahinya. Ia menatap Gea dengan penuh tanya. "Apa itu?"
Gea hanya menggeleng kan kepalanya. Ia tidak mengerti akan apa yang ia rasakan. Tiba–tiba saja ia gelisah tanpa tahu penyebabnya. Dan itu terbilang aneh untuknya. Seumur–umur baru kali ini ia mengalaminya. Gea merasakan ada sesuatu hal yang terjadi. Namun berkali–kali menebakpun ia masih tidak mengetahui apa jawabannya.
__ADS_1
Briel menghela napas dalam. Ia menarik Gea ke dalam dekapannya dengan lembut. Ia mencoba memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk Gea. Setidaknya rasa hangat nya pelukan Briel mampu meredakan kegelisahan Gea.
Briel mengusap lembut rambut Gea. "Sudahlah itu mungkin hanya perasaanmu saja. Tenanglah, serahkan pada–Nya. Yakinlah semuanya akan baik–baik saja."
Gea menarik napas dalam. Briel berhasil menenangkan Gea. Gea mencoba menanamkan apa yang Briel katakan ke dalam hati dan pikirannya. Ia tidak ingin rasa itu menguasai dirinya terlalu dalam. Anggukan ringan Gea terasa dalam dekapan Briel membuat Briel tersenyum.
"Dah ayo tidur lagi," ajak Briel.
🍂
Di sinilah sekarang. Dela kini berada di ruangan berbau obat dengan alat–alat medis di sana. Dirinya terbaring lemah tak berdaya dalam keadaan tak sadarkan diri. Alkohol yang terlalu banyak ia minum membuat dirinya hampir kehilangan janinnya. Sementara seseorang yang telah membawanya ke sana hanya menatapnya dalam diam.
"Sungguh menyedihkan hidupmu wanita bodoh!" ucapnya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Dan yeah memang benar. Apa yang Gea rasakan ternyata ada hubungannya dengan Dela. Ikatan darah tidak bisa berbohong meski ada kebencian di antara mereka yang masih belum padam.
Orang itu menatap lekat tubuh terbaring itu. "Baik–baik wanita bodoh!" Senyum tipis itu terlukis jelas di wajahnya. Senyuman miris melihat bagaimana keadaan Dela saat ini.
Selepas itu, orang itu pergi meninggalkan Dela sendirian di ruangan itu sebelum Dela terbangun dan menyadari keberadaannya.
🍂
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕