Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
89. Pillow Talk


__ADS_3

Yeah … malam ini Gea dan Briel menginap di rumah utama. Tere tidak mengijinkan Gea dan Briel kembali ke apartemen. Setidaknya untuk malam ini. Mereka juga telah sepakat untuk masih belum mengumumkan siapa istri Briel. Mereka memiliki rencana tersendiri untuk menyelesaikan semuanya.


Kali ini, adalah kali pertama Gea masuk ke dalam kamar Briel. Kamar itu terlihat begitu maskulin, dengan desain interior kamar yang simple namun terlihat megah. Gea tersenyum simpul mengamati kamar itu.


"Kenapa?" tanya Briel yang melihat Gea tengah mengamati kamarnya yang sekarang menjadi milik mereka berdua. Gea masih sibuk mengamati.


"Tidak suka ya dengan desain kamarnya?"


Baru kali ini Gea mengalihkan perhatiannya.


"Bukan begitu. Ternyata kamar cowok itu beda ya sama kamar cewek?" Gea mengulas senyum simpulnya kembali. Briel tersenyum.


Briel berjalan mendekat ke arah Gea. "Kalau kamu gak suka, nanti kita renovasi lagi kamar ini. Supaya kita sama–sama nyaman."


"Tidak usah, Bang. Aku tidak masalah. Asalkan ada ranjang mah aku bisa tidur," jawab Gea santai.


Briel mengacak pelan rambut Gea. "Udah ah. Ayo kita tidur."


Mereka berdua mulai membaringkan diri di ranjang itu. Ranjang yang baru pertama kali mereka tempati berdua. Mereka terbaring terlentang di sana.


"Bang …" panggil Gea lirih.


"Hem?"


"Udah tidurkah?"


"Belum. Makanya aku bisa menyahutimu."


Gea berpikir sejenak. "Iya juga sih."


Mereka terkekeh bersama.


"Gey…."

__ADS_1


Kali ini gantian Briel yang memanggil Gea. Ia memiringkan kepalanya ke samping agar bisa melihat Gea.


"Iya, Bang?"


Briel menepuk posisi di sebelahnya yang kosong. Ia meminta Gea agar tidur lebih dekat dengannya. Namun bukan Gea namanya yang mudah paham dengan hal seperti itu. Briel harus mengulang gerakkannya lagi.


"Sini Gey, mendekatlah."


Gea meringsut mendekatkan diri pada Briel. Ia memiringkan tubuhnya. Begitupun juga dengan Briel. Mereka saling menatap lekat satu sama lain. Dalam, dan terdapat banyak cinta di setiap sorot mata mereka.


"Aku tidak menyangka, akhirnya aku bisa membawamu kembali, Gey," ucap Briel yang masih menatap lekat Gea. Kedua sudut bibirnya ia tarik ke atas.


"Terimakasih, Bang sudah mau mencariku, meski aku dengan egoisnya ingin pergi dari hidupmu." Tatapan Gea menjadi sendu. Ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.


Briel menggeleng. Ia tak setuju dengan apa yang dikatakan Gea.


"Kamu tidak egois. Tapi kamu memilih memberi kebahagiaan untuk keluargaku, meski kamu juga harus menanggung rasa sakit. Dari situ aku tahu bahwa ternyata kamu mencintaiku sedalam itu."


"Eh? Bukankah kata orang–orang itu, jika kita cinta seseorang maka kita harus memperjuangkannya?"


Lagi–lagi Briel mengulas senyum. Kali ini dia gemas dengan tingkah Gea.


"Cinta yang sesungguhnya itu tidak buta, Gey. Namun cinta itu adalah pengorbanan. Ia rela berkorban apapun itu, karena seseorang itu pasti sudah tulus mencintai pasangannya. Yang buta itu bukan cinta, melainkan nafsu."


Briel berusaha memberikan pengertian pada Gea. Baginya definisi cinta itu bukan buta melainkan pengorbanan. Cinta yang buta itu bisa menghancurkan segalanya. Namun cinta dengan pengorbanan yang sesungguhnya itu akan awet selamanya.


Gea terdiam sejenak. Ia teringat akan niatnya yang ingin pergi jauh dari kehidupan Briel dan tinggal di Rusia.


"Sebenarnya, kemarin aku sempat ingin pergi ke Rusia, Bang. Rencana aku ingin menetap di sana. Dan lusa rencananya aku mau berangkat ke sana," ucap Gea hati–hati. Ia takut Briel marah mendengar penuturannya.


"Batalkan! Aku tak akan mengijinkanmu pergi lagi, kecuali denganku."


"Iya, Bang. Aku tidak mau pergi. Karena berpisah denganmu itu seperti mencekikku secara perlahan. Membunuhku dengan cara yang kejam."

__ADS_1


Gea tidak ingin merasakan sakit sedemikian rupa lagi. Ekspresinya begitu menggemaskan, hingga Briel tak tahan untuk tak mencium seluruh bagian wajah Gea dengan gemas.


"Bang, hentikan! Geli, Bang!" Gea tertawa renyah. Briel hanya terkekeh.


"Ah manisnya istriku ini."


Mendengar kata istri keluar dari bibir Briel, membuat Gea tersipu malu. Pipinya memanas. Gea yakin bahwa pipinya akan memerah seperti tomat yang telah matang.


Briel mengulurkan tangannya mengelus pipi Gea.


"Sepertinya aku harus berterimakasih dengan Bima."


"Ada apa dengan dia?"


"Sehari sebelum kita meeting, aku menemui dia untuk memberitahu di mana kamu bersembunyi. Dan dia hanya bilang agar aku menjalani hidupku seperti biasa. Sepertinya dia memang sudah tahu siapa pemilik FTA Entertainment, sehingga ia bisa berbicara demikian. Dan dia tidak mencoba untuk menghalangi pertemuan kita."


"Eh?" Gea tak menyangka jika seperti itu yang terjadi.


"Iya. Benar. Mungkin jika dia tak mengijinkan aku untuk menemukanmu dan membawamu kembali, aku akan semakin sulit menemukanmu. Karena kamu akan tinggal di negeri orang dengan penjagaan yang sulit aku tembus."


"Maafkan aku ya, Bang. Maaf karena pernah mempunyai keinginan untuk pergi jauh dari hidupmu."


"Aku yang seharusnya minta maaf, Gey, karena aku tak jujur denganmu perihal perjodohan ini." Briel menatap Gea penuh harap. Ia berharap Gea memaafkannya.


Gea mengangguk. Ia juga tak ingin berlarut dalam masalah yang sudah jelas selesai.


"Sudah, mari kita tidur agar esok hari kita bisa kembali bugar."


Gea mengangguk sembari tersenyum. Mereka terlelap dengan saling mendekap. Mereka saling memberikan kehangatan yang menentramkan hati mereka.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2