Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
128. Inilah Briel


__ADS_3

Mereka berlima saling memandang satu sama lain. Apa ini? Itulah pertanyaan yang melintas di benak mereka semua.


Walaupun begitu, mereka tetap berjalan untuk mengambil amplop itu.


Mereka mengambil amplop putih itu secara acak. Masing–masing dari mereka mendapatkan satu amplop.


"Lala, Lili, Susi, Rebe, dan Ira," ucap Briel lirih namun tegas. Mereka berlima menegakkan badan mereka. Mereka merinding mendengar nama mereka terucap dari bibir Briel. Apalagi Briel masih menatap mereka dengan sorot mata yang tajam menusuk. Seperti ingin menguliti mereka hidup–hidup.


"Buka!"


Mereka berlima membuka amplop putih itu. Berbagai macam ekspresi mewarnai wajah mereka. Ada yang girang, ada yang menatap sendu, ada yang bingung pula sembari menatap isi amplop putih itu.


"Apa isinya?" tanya Briel.


"Saya mendapat selembar cek Bos," ucap Rebe. Ia wajahnya begitu cerah melihat jumlah uang yang tertera di cek itu.


"Saya juga Bos." Ira yang juga mendapatkannya pun angkat bicara. Bahkan rasa khawatir yang ia rasakan itu hilang seketika. Briel hanya mengangguk.


Sementara tiga lainnya terdiam. Mereka masih bingung dengan selembar kertas yang ada di tangan mereka.


"Kalian bertiga?"


Mereka bertiga membuka lembaran kertas itu. Mereka menautkan kedua alis mereka.


Deg


"Apa ini? Kenapa aku tak salah apapun ikut terkena imbasnya?" batin Lili.


Ingatannya kembali ke waktu pagi saat ia bertemu dengan Lala. Ia bahkan tak ikut mencemooh Gea, tapi hukuman pun ia ikut menerima. Ia hanya orang yang kebetulan ada dan diajak bicara saat yang lainnya membicarakan hal yang tidak–tidak tentang Gea. "Kenapa aku diberhentikan ya Tuhan."


"Lili, Bacakan apa isinya!" titah Briel. Lili pun membacakan apa isi lembaran kertas itu.


"…. Saya diberhentikan dari pekerjaan ini."


Lili membacakannya lesu. Ia tak tahu lagi bagaimana mencari pekerjaan dengan mudah di jaman sekarang ini. Susah mencari pekerjaan, apalagi dengan posisi dan gaji yag sama seperti yang sudah ia dapatkan saat ini.


Briel mengagguk saja. Ia langsung menunjuk Susi dan Lala. Masing–masing dari mereka mendapat selebaran kertas yang sama.


"…. Saya akan bekerja dengan gaji yang dipotong 50% selama 3 bulan atau apabila memilih untuk resign maka tidak akan ada perusahaan besar yang mau menerima saya dalam kurun waktu 1 tahun," ucap Susi. Saat ini, mereka berdua benar–benar menyesali perbuatannya. Sedangkan Rebe dan Ira menahan tawa mereka, menertawakan nasib Susi dan Lala.


"Ahh ternyata aku masih beruntung mendapatkan selembar cek yang tertera uang cukup banyak," batin Ira. Ira belum menyadari bahaya yang lebih mengancamnya saat ini.


Ekspresi wajah Rebe dan Ira yang cekikian begitu kentara di mata Briel. Briel tersenyum miring. Bahkan ia tertawa. Tawa itu terdengar mengerikan bagi mereka. Seketika nyali Rebe dan Ira menciut kembali.


"Wah wah wah ternyata kalian berdua bahagia sekali melihat teman kalian potong gaji." Briel bertepuk tangan.


"Selamat juga untuk kalian, Rebe, Ira kalian dipecat saat ini juga! Dan nama kalian terlah ter–black list dari perusahaan besar manapun!" ucap Briel santai.


Ucapan yang terlontar dari bibir Briel bagaikan petir besar dan kilat yang menyambar mereka secara cepat. Mata mereka berkaca–kaca. Mereka melongo tak percaya. Ternyata selembar cek itu adalah uang pesangon mereka.

__ADS_1


"Bos maafkan kami Bos, maafkan kami."


"Terima risiko dari perbuatan kalian!"


Berulang kali mereka berdua memohon belas kasihan Briel, namun Briel tak peduli. Ia sudah keras hati. Tak ada kata maaf untuk mereka berdua. Hal itu membuat Gea berdiri dan mengangkat suara.


"Bang! Apakah itu tidak keterlaluan?"


Gea mengerti bagaimana susahnya cari pekerjaan. Apalagi dengan nama yang sudah di black list seperti itu.


"Tidak ada keterlaluan. Mereka saja tidak punya hati untuk mencemooh kamu Geyang. Mereka lebih keterlaluan. Di sini sudah dijelaskan kalau personality mereka diperhitungkan. Tapi apa?"


Gea terdiam sesaat. Memang benar apa yang dikatakan Briel.


"Namun apakah harus dengan cara ini?" tanya Gea kemudian.


"Iya harus. Setiap tindakan memiliki risiko dan tanggung jawab. Dan itu pilihan mereka!" ucap Briel tegas, tak terbantahkan.


"Bos, kalau akses saya mencari kerja tertutup, bagaimana saya harus menghidupi keluarga saya? Saya di sini adalah tulang punggung keluarga Bos. Saya menghidupi ibu dan adik saya," ucap Ira sembari menangis. Ia meminta belas kasihan Briel.


Yeah benar. Tujuan Ira ingin menggaet orang kaya adalah untuk mengubah kehidupannya agar tak mengalami kesusahan lagi. Ayahnya yang telah tiada membuatnya harus bekerja membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Namun karena ambisi itu, mata hatinya tertutup oleh nafsu dunia.


"Bos, saya harus bagaimana Bos. Susah Bos cari kerja di jaman ini," ucap Rebe sembari menangis.


Gea hanya bisa menghela napas. "Satu tahun. Satu tahun saja nama mereka terblack list," ucap Gea final.


"Baik Bos."


Adam mengambilkan data–data mereka. Briel membacanya dengan cepat.


"Baiklah. Kamu!" Briel menunjuk ke arah Rebe. "Kamu akan tetap saya pecat dengan masa kurun black list 1 tahun. Karena kamu mempunyai niat ingin menyakiti istri saya!"


"Tapi Bos–"


"Tidak ada tapi–tapian. Saya tidak akan pernah mentolerir kekerasan yang kamu lakukan!" ucap Briel final. "Itupun sudah saya peringan karena istri saya!" ucap Briel lagi.


Rebe menangis. Ia hanya bisa meratapi nasibnya.


"Kamu!" Briel menunjuk ke arah Ira. "Kamu tidak akan saya pecat, tapi posisi kamu akan saya pindahkan ke bagian gudang selama 1 tahun dengan gaji yang dipotong selama 3 bulan sebesar 30%."


Seketika Ira menangis haru. Dalam hati ia sangat berterimakasih dengan Gea karena dengan adanya Gea, ia masih bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.


"Terimakasih Bos!" ucap Ira tulus.


"Jangan berterimakasih sama saya. Kalau bukan istri saya, saya tidak akan memberikan keringanan untuk kalian!" ucap Briel.


"Kalian!" Briel menujuk ke arah Susi dan Lala. "Kalian tinggal memilih apa yang harus kalian pilih."


"Baik Bos."

__ADS_1


Mereka berdua memilih untuk tetap bekerja di sana walau dengan gaji yang terpotong 50%.


"Dan kamu!" Briel menunjuk ke arah Lili. Lili yang semula menunduk dengan perasaan campur aduk; marah, kesal, sedih jadi satu, pun mengangkat kepalanya.


"Kamu memang diberhentikan di sini. Tapi kamu akan saya pindahkan ke cabang baru perusahaan ini."


Lili tertegun tak percaya. Seketika rasa lega merayap dalam hatinya yang semula ambyar. Ia menangis haru karena nasibnya masih berlanjut.


"Kamu tidak terbukti bersalah. Runi telah menceritakan sesungguhnya apa yang ia lihat dan dengar. Kamu tidak bersalah. Namun saya tetap tidak akan membiarkamu bekerja di sini lagi."


"Terimakasih Bos, terimakasih," ucap Lili. Pasalnya ia tahu bahwa cabang baru itu letaknya lebih dekat dengan rumahnya.


"Dan kamu Runi, kamu akan menggantikan posisi Ira."


Runi melongo. Ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. "Benarkah? Apakah ini benar bukan mimpi?" gumamnya dalam hati.


Gea pun memberikan selamat kepada Runi. Ia bahagia akhirnya Runi mendapat pekerjaan yang lebih baik.


"Baiklah sudah cukup. Kalian boleh keluar dari ruangan saya."


Satu persatu dari mereka pun keluar dari ruangan Briel. Gea tersenyum tulus kepada Briel. Ia kagum dengan ketegasan Briel dan juga cara Briel menyelesaikan masalahnya.


Dan di hari itu juga, semua yang bekerja di perusahaan itu tahu bahwa Gea adalah istri Briel.


🍂


Hari telah berganti sore. Semua karyawan mulai pulang satu persatu. Begitupun juga dengan Runi. Ia berjalan santai ke luat gedung.


"Selamat Run," ucap Adam. Ia menepuk bahu Runi saat ia berjalan mendahului Runi.


Runi menghentikan langkahnya. Ia menautkan kedua alisnya. "Kesambet apa itu Bos Gelo?"


Runi hanya mengedikkan bahunya. Ia tak ambil pusing dengan perlakuan Adam. Ia berjalan kembali mencari angkutan umum.


🍂


//


Hai semuaa baca juga karya kakak online asa yang kecehh badai di bawah ini. Dijamin teraduk aduk dengan ceritanya 😃 (kalau yg cocok) semoga cocok 🤗🤗



🍂


//


Happy reading gaess,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2