
"Sayang ...." sapa Briel tatkala Briel datang menjemput Gea ke rumah Hendri.
Gea dan Hendri berjalan ke ruang depan saat mendengar suara Briel. Mereka menyambut kedatangan Briel. Memang mulanya Gea akan dihantarkan Hendri. Namun Briel bersikeras untuk menjemput Gea. Ia juga ingin tahu di mana Hendri tinggal. Hendri mengirim lokasi di mana tempat ia tinggal pada Briel.
Briel memeluk Gea kemudian mengecup singkat pipi Gea. Hendri hanya bisa berdecak malas melihat pemandangan di depannya.
"Dasar pasangan tak tahu tempat! " gerutunya dalam hati.
Gea menoleh ke arah Hendri. Ia menyipitkan matanya.
"Kamu kenapa, Kak?" tanyanya heran.
"Enggak," jawab Hendri singkat. Ia tak ingin harga dirinya jatuh kalau dia mengakui apa yang ia rasa.
Briel terkekeh. Ia paham kenapa Hendri seperti itu. Ia malah memeluk Gea semakin mesra di hadapan Hendri dari samping. Hal itu membuat Hendri semakin mendengkus kesal akan sikap Briel.
"Eh kenapa malah peluk–peluk?"
Briel menaikturunkan alisnya sembari tersenyum jahil. Gea hanya bisa mengelus dadanya, sabar.
"Aww sakit Geyang ...." Briel mengaduh kesakitan. Gea mencubit pinggang Briel agar Briel melepaskan pelukannya.
"Malu ah!" dumel Gea. Ia malu dengan keberadaan Hendri di sana.
"Pffft"
Hendri menahan tawanya agar tak tertawa lepas. Ia cukup senang Briel teraniaya oleh istrinya.
"Suami–suami takut istri! " batin Hendri meledek.
"Apa?! Rupanya kau senang melihat diriku teranianya!" dumel Briel.
Gelak tawa benar–benar terdengar dari mulut Hendri. Ia tak kuasa menahan tawanya.
Briel berdecak kesal
"😂.... Makanya jangan pamer!"
"Aku gak pamer. Salah sendiri kamu sendiri, jadinya ngiri!" ledek Briel. Ia mulai memanfaatkan kelebihannya saat ini yang dulunya ia menjadi bahan bully–an karena tak pernah terlihat punya pasangan.
Hendri membulatkan matanya. Harga dirinya terasa dijatuhkan sejatuh–jatuhnya oleh Briel.
"Kurang ajar nih adek ipar satu!" geruntunya.
Gea hanya bisa menggeleng melihat tingkah kedua orang berharga di hidupnya.
"Makanya sana cari pasangan. Atau jangan–jangan kau tak suka wanita?" tuduh Briel.
"Sembarangan! Aku single berkualitaslah!"
Hendri tak terima dengan tuduhan Briel. Ia menatap kesal ke arah Briel. Namun yang ditatapnya malah tertawa terbahak–bahak.
"Hilih pembelaan!" ucap Briel.
"Terserah, terserah! Sana kalian pulang. Palaku makin pusing lihat ketika kau datang!" usir Hendri. Namun jauh di hatinya, itu hanyalah sebuah candaan karena kekesalan semata.
Briel tertawa lebar. "Baik–baik kami akan pulang. Kau jangan kesepian ya hahahha"
Hendri hanya memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Gak bakal!" ucapnya ketus
"Eh tunggu sebentar."
Hendri menghentikan langkah Briel dan Gea. Briel dan Gea pun menoleh ke arah Hendri.
"Apa lagi? Udah kangen?" ledek Briel.
"Ck bukan kau lah! Amit–amit kangen sama makhluk berspesias macam dirimu!" Hendri beralih memandang Gea. "Jangan lupa nanti mampir ke apotek. "
"Aduh Kak Hendri malah bahas itu lagi," batin Gea. Gea memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Briel mengerutkan dahinya.
"Kenapa ke apotek?" tanya Briel penasaran.
"Karena–"
"Karena aku ingin membeli vitamin," potong Gea cepat. Hendri tak memiliki kesempatan untuk melanjutkan ucapannya.
Hendri terperangah. "Kenapa Gea berbohong?" batin Hendri.
"Bukannya tadi–" Hendri ingin membenarkan ucapan Gea. namun lagi–lagi Gea memotong ucapannya dengan cepat.
"Tadi aku bilang vitaminku habis." Gea memperlihatkan senyum palsunya. "Bukannya begitu, Kak?"
Hendri masih terperangah dengan sikap Gea. Ia ingin mengingatkan Gea agar tak lupa membeli test pack, tapi nyatanya Gea malah memutar balikkan kenyataan.
"Iya kan kak?" ucap Gea sembari memberikan kode–kodenya.
Briel menatap Gea dan Hendri bergantian. Ia menatap mereka dengan pandangan menyelidik. "Ada yang aneh nih," gumam Briel dalam hati.
"Kalian kenapa? Dan ada apa?"
"Jangan, Kak, please."
Begitulah kira–kira yang dapat Hendri tangkap dari sorot mata Gea. Hendri menghela napas.
"Iya. Tadi Gea ingin beli vitamin. Katanya vitamin dia habis," jawab Hendri pada akhirnya.
Briel mengangguk ringan, percaya. Gea tersenyum lega.
Bukan tanpa alasan. Gea tak ingin memberikan harapan palsu dan kekecewaan pada Briel jika hasilnya nanti Gea benar–benar belum hamil.
"Ayo Bang pulang," ajak Gea kemudian.
Briel mengangguk. "Ayo. Sudah cukup malam pula."
"Kak pulang dulu ya," pamit Gea.
"Iya. Hati–hati kalian," ucap Hendri. "Awas! Jaga adikku baik–baik. Jangan sampai lecet!"
"Haihh bawel sekali kau Hen. Iya–iya...Tanpa kau suruhpun semuanya akan kulakukan demi keselamatan dan kebahagiaan Istriku Tercinta."
Lagi–lagi Briel menggoda Hendri dengan kemesraannya yang membuat Hendri berdecak malas. Namun tak bisa dipungkiri. Hati Hendri tersenyum lega mendengar ucapan itu keluar dari bibir Briel.
Briel dan Gea berlalu. Hendri menatap kepergian mereka berdua dengan senyuman.
"Semoga kalian bahagia," batinnya. Senyum itu tak pudar dari wajahnya. Doa terbaik selalu ia panjatkan untuk seorang wanita yang ia anggap adik itu.
🍂
__ADS_1
"Dasar cewek lemot! Cepat sedikit bisa tidak sih?!" gerutu Adam. Ia kesal menunggu Runi yang berjalan lamban baginya.
"Waktu sudah mepet, dandan lama, jalannya lama pula! Dasar wanita!" gerutu Adam.
Runi memutar bola matanya. Ia teramat kesal dengan makhluk yang saat ini bersamanya itu. "Idih aku seperti ini karena terpaksa jugalah! " batin Runi kesal.
"Tuan yang terhormat …" Runi melebarkan senyumnya, terkesan memaksakan senyum. "… Anda bisa melihat sepatu saya tidak?"
Adam melihat sekilas sepatu Runi. Runi mengenakan sepatu berhak tinggi.
"Apakah Anda sudah melihatnya, Tuan?"
Runi memberikan penekanan pada kata "tuan" yang ia ucapkan.
"Sudah. Memang kenapa?" ucap Adam masa bodoh. Ia tak peduli dengan apa yang Runi keluhkan. "Merepotkan!"
Runi memalingkan wajahnya ke arah lain. "Dasar Bos Gelo! Sudah gelo, gak peka lagi!" gerutunya lirih.
"Hemm!!!"
Adam berdeham keras. Gumaman lirih itu masih terdengar di telinganya.
"Orangnya di sini. Kalau bicara menghadap ke lawan bicaranya!" sindir Adam keras.
Runi mengelus dadanya lembut. Ia menghela napas kasar.
"Tuan yang terhormat, kenapa Anda repot sekali?" ucap Runi.
Kata–kata itu terdengar menantang Adam. Adam hanya tersenyum miring, meremehkan.
"Halah, beraninya di belakang saja. Kalau berani di depan!"
Runi membulatkan matanya. Ia memilih untuk diam. Tidak akan ada habisnya jika ia menanggapi ucapan Adam.
"Ayo cepat! Atau kita akan terlambat!"
Yeahh …. Malam ini, Adam memenuhi undangan double date–nya bersama dengan pengantin baru, sang mantan kekasih.
Adam berjalan mendahului Runi menuju ke mobil. Runi hanya mencebikkan bibirnya karena ulah Adam.
"Ayo cepat!"
"Iya –iya!"
Runi melangkahkan kakinya kesal mengikuti Adam masuk ke dalam mobil.
🍂
//
Hai semuanya.... sembari menunggu Asa up, kalian bisa mampir ke karya kakak–kakak online Asa di bawah ini 🤗🤗
🍂
Happy reading gaeess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕