Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
20. Setidaknya Aku Tidak Jones


__ADS_3

Mang Arman mengikuti Gea yang berjalan ke luar rumah itu. Hatinya mengiba melihat Nona Keduanya diperlakukan seperti itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sebagai orang yang dipekerjakan, ia akan mematuhi perintah tuannya.


"Andai saja saya bisa, mungkin tadi saya akan membantu Anda Non. Maaf karena saya, Anda tidak bisa menerima keadilan disini. Karena saya, Tuan memarahi Anda. Padahal saya tahu kalau tadi Anda, difitnah oleh Non Dela," ucap Mang Arman lirih. Ia masih terus menatap punggung sempit Gea. Ia merasa bersalah karena tidak mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Non maafin saya yah. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membela Non Gea," ucap Mang Arman.


Mendengar permintaan maaf dari Mang Arman, Gea berbalik untuk berbicara sejenak pada Mang Arman.


"Mang, ini bukan salah Mang Arman. Ini adalah perbuatan dia yang terlalu licik. Jangan merasa bersalah karena kesalahan orang lain, Mang. Mang Arman juga bekerja disini untuk mencari nafkah," ucap Gea.


Gea tersenyum, berusaha tegar untuk mengurangi rasa bersalah Mang Arman. Namun bukannya merasa lebih baik, Mang Arman semakin merasa bersalah. Mang Arman ikut mengembangkan senyumannya walau dengan terpaksa. Bagaimanapun ia merasa bersalah. Ia ingin membuat Gea lebih tenang. Mereka sama-sama ingin menenangkan satu sama lain. Padahal hati mereka masing-masing merasa bersalah satu sama lain.


"Udah ya, Mang, Gea pamit." Gea berlalu meninggalkan rumah itu.


πŸ‚


Sementara itu, di Butik GA Fashion & Style, Tere dan calon menantunya sedang fitting gaun pengantin. Mereka telah memesan gaun beberapa waktu lalu.


Sang calon menantu keluar dari ruang ganti. Ia berjalan dengan anggun. Sungguh cantik dan menawan hati. Ia menarik sudut bibirnya, sangatlah tulus.


Tere terkesiap melihat calon menantunya sangat cantik.


"Astaga Camenku sangat cantik. Pastinya Briel akan sangat terpesona dengan kecantikanmu, Nak."


Tere berputar mengelilingi tubuh calon menantunya yang berbalut gaun pengantin berwarna putih. Senyum bahagia terulas di wajah mereka berdua.

__ADS_1


Awalnya ia ingin menolak perjodohan ini. Ia takut dijodohkan dengan pria tua bangka atau pria muda namun cacat muka. Tapi ketika ia melihat foto Briel untuk pertama kali, ia langsung jatuh cinta walau baru memandangnya sekali. Ia terpesona akan ketampanan dan pesona seorang Briel. Ketampanan paripurna nya sangatlah memikat kaum wanita.


"Jangan berlebih Bun," ucapnya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Wajahnya merona, tersipu malu.


"Mbak, kami ambil ini ya. Tolong di finishing lagi. Bulan depan sudah dipakai Camenku untuk acara perikahannya dengan anakku," ucapnya kepada pelayan butik yang menemani mereka.


"Baik, Nyonya," ucap pelayan itu.


πŸ‚


Sementara itu sore hari di Jerman, Briel tengah berada di Le Lion Bar de Paris Bar yang terletak di Hamburg, Jerman. Ia memesan minuman beralkohol dengan kadar yang tinggi. Ia menenggak sedikit demi sedikit minuman panas itu. Tangannya memutar-mutar gelas yang ia pegang. Pikirannya melayang-layang. Hari pernikahannya semakin dekat, sementara hati mau tak mau harus menerima. Briel tak peduli walau ia mabuk di sore hari.


"Bos, sudah cukup banyak Anda meminum minuman lucknut ini, Bos. Jangan siksa diri Bos." Adam merampas gelas berisi minuman beralkohol yang akan Briel minum lagi. Sedangkan kondisi Briel sendiri hanya setengah mabuk. Briel merupakan orang yang kuat minum.


Adam berusaha agar gelas itu tidak berpindah tangan lagi.


"Haih gak asik kau Dam," geruntunya.


"Bawakan lagi sebotol whisky ke hadapanku," perintahnya pada bartender yang bertugas. Namun Adam menghentikan bartender agar tidak menuruti perintah Briel. Ia sudah berjanji pada Tere untuk menjaga Briel.


"Dam jika kau masih menghalangiku, jangan harap bulan ini angka nol mu bertambah!"


"Gak apa Bos. Untuk kali ini kalau bos nggak nambahi atau bahkan sampai mengurangi, tinggal bilang Bunda paling langsung diganti bahkan ditambah." Kali ini Adam berkata-kata dengan santainya tanpa memperdulikan ancamannya. Karena posisinya saat ini sangat aman untuk membangkang Briel.


"Ck beraninya kamu menggunakan Bundaku untuk membangkangku," ucapnya sarkas. Briel tetap merebut botol whisky yang disediakan bartender.

__ADS_1


"Hohoho ada kesempatan ya digunakan Bos, jangan dilewatkan. Mau sampai kapan kau melajang jika tak menerima perjodohan ini?"


"Hei hei, jangan berbicara jika kau sendiri saja belum. Umurmu bahkan lebih tua dariku. Coba lihat dirimu? Apakah sampai saat ini kamu suda menikah? Belum kan?" Ucapan Briel kali ini sangatlah menohok. Briel menenggak minumannya kembali.


Bagaimanapun Adam ada samanya dengan Briel. Sama-sama belum menikah. Hanya saja ia sudah selangkah lebih maju. Ia sudah memiliki kekasih yang bekerja sebagai staff akuntansi di perusahaan yang Briel kelola saat ini.


"Setidaknya aku tidak jones sepertimu Bos. Jomblo dari lahir kok dipelihara sampai puluhan tahun. Lagian umurku cuma lebih tua 2 bulan doang," sarkas Adam.


Briel hanya berdecak kesal. Ucapan Adam terlalu benar walau sangatlah mengesalkan untuk diperjelas kenyataannya.


"Pergi sana! Jangan menyusul kalau hanya untuk mengejekku!" ucap Briel. Ucapannya sudah tidak begitu jelas karena ia mulai mabuk.


Hingga ada seorang wanita dengan pakaian kurang bahan berjalan mendekati Briel. Wanita itu berusaha untuk menggoda Briel. Sekuat tenaga, Briel berusaha menolak sentuhan-sentuhan yang dilakukan oleh wanita itu. Ia sangat jijik dengan wanita seperti itu. Ia paling anti dengan sentuhan wanita yang tak dia kenal, apalagi wanita-wanita murahan yang dengan suka rela memyerahkan dirnya kepada banyak pria tampan dan kaya.


"Awww"


Wanita itu mengaduh kesakitan. Ia terjatuh saat Briel mendorong wanita itu dengan sisa tenaganya yang sudah mabuk. Adam membawa Briel keluar dari bar itu.


"Ck menyusahkan sekali kau, Bos," ucap Adam yang memapah Briel keluar dari sana.


πŸ‚


//


Happy reading semua πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2