
Briel berjalan dengan langkah kesal. Ia mendudukkan dirinya sendiri dengan kesal ke sofa. Bahkan helaan napas kasarnya terdengar jelas di telinga Gea. Ia kesal dengan Gea, karena hal yang seharusnya terlaksana harus tertunda karena Gea mencegahnya.
"Kenapa sih, Gey, tidak diberitahu sekalian saja?" ucap Briel kesal.
Bukannya marah, Gea malah menertawakan Briel. Bahkan tertawanya terdengar sadesss.
"Wah rupanya seorang CEO andal mulai bodoh nih," ledek Gea. Briel membulatkan matanya tatkala mendengar kata bodoh terlontar dari mulut Gea, bahkan kata itu ditujukan untuk dirinya pula.
"Biasa aja kali, Bang." Gea mengibaskan tangan di depan wajahnya sendiri.
Gea menghampiri Briel, lalu memilih duduk di samping Briel. Briel masih menatap ke mana arah gerak Gea. Namun Gea tak begitu menghiraukannya, padahal Gea tahu kalau Briel meminta penjelasannya. Briel berdecak kesal. Gea tergelak kembali.
"Iya. Bayang mendadak bodoh. Kalau Bayang beberkan semuanya ke Dela, semua yang telah Bayang susun hancur seketika, Bang."
Briel menepuk dahinya sendiri. Dia mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Ternyata emosi semata itu bisa membutakannya. Amarah yang menggebu bisa membuatnya gegabah, mengambil tindakan tanpa berpikir panjang. Dan fatalnya bisa saja amarahnya menghancurkan dirinya sendiri.
Briel menatap Gea. Ia memegang kedua pipi Gea. Dengan gemas ia menciumi seluruh wajah Gea. Gea tertawa geli karena jambang tipis Briel mengenai permukaan kulit wajah Gea.
Seusai itu, Briel mendekap Gea dengan erat. Hangat. Ia mengirup dalam–dalam aroma tubuh Gea. Aroma yang selalu membuatnya tak kuasa menahan rindu terlalu lama.
"Terimakasih Istriku Tercinta, sudah mengingatkanku. Aku begitu beruntung memilikimu di dalam hidupku." Briel berbisik di dekat telinga Gea.
Tanpa sadar, kedua sudut bibir Gea terangkat ke atas. Kata–kata yang keluar dari mulut Briel itu terdengar begitu tulus dan menghangatkan hati Gea. Gea mengangguk ringan sebagai jawabannya.
🍂
Hari demi hari telah dilewati. Gea masih bekerja bersama dengan Runi. Mereka berdua duduk di kantin sembari mengobrol ringan.
"Gey, kenapa kamu gak berhenti kerja saja?" tanya Runi. Dia heran, mengapa Gea masih tetap bekerja. Padahal berdiam diri di rumah saja, uangnya akan tetap mengalir deras. Gea tak perlu repot–repot mencari uang recehan sepertinya untuk memenuhi kebutuhan Gea.
"Shuuttt …. Jangan keras–keras!" ucap Gea setengah berbisik. Gea tak mau semua orang tahu siapa dia sebelum waktunya. Runi memperlihatkan deretan gigi putih rapinya sembari mengangkat tangan dengan jari telunjuk dan tengah membentuk simbol damai. ✌
Gea memutar bola matanya malas.
"Kenapa gak berhenti saja?" ucap Runi berbisik. Bahkan Runi mencondongkan tubuhnya ke arah Gea agar Gea dapat mendengarnya lebih jelas walaupun ia berbisik saja.
"Ya suka–suka akulah Run," jawab Gea yang sebenarnya tak menjawab pertanyaan Runi.
Runi mendengkus kesal karena Gea tak menjawab pertanyaannya dengan benar. Runi tak bertanya lagi. Ia menyibukkan diri dengan makanan di depannya. Sedangkan Gea hanya tersenyum simpul melihat Runi yang tengah kesal padanya.
🍂
"Baiklah! Untuk merekatkan kerjasama kita, saya mengajak Anda untuk makan malam bersama. Anda bisa mengajak siapapun untuk menemani Anda," ajak Briel.
Di seberang telepon, seseorang itu mengangguk ringan. "Baiklah, saya setuju."
__ADS_1
Briel mengangguk. "Untuk kelanjutannya, nanti asisten saya akan menghubungi Anda."
Setelah mendengar jawaban dari orang yang ada di seberang, Briel menutup panggilan itu. Briel tersenyum tipis sembari memutar benda pipih canggih di genggamannya. Ia menerawang jauh ke depan, entah kemana saja pikirannya melayang. Hanya Briel yang tahu.
"Baiklah. Akan segera dimulai."
🍂
Di sisi lain, Adam tengah dilanda kebingungan karena ajakan dari sang mantan kekasih. Ajakan double date membuatnya uring–uringan. Pasalnya ia sendiri tak memiliki kekasih. Ternyata mengajak Runi waktu itu ke pernikahan sang mantan kekasih, membuat dirinya sendiri terjebak.
"Haihhh!!!"
Adam mengacak kasar rambutnya. Ia memutar kursi kerja yang ia duduki. Berputar ke kanan dan ke kiri. Dengan kepala yang menyender pada punggung kursi. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Tiba–tiba Adam menegakkan tubuhnya. "Apa aku minta bantuan Cewek Lemot itu lagi?"
"Ahhh … tapi harga diriku astaga …. Ogah juga aku memelas minta bantuan padanya."
Adam kembali menyender kasar pada punggung kursi.
"Bagaimana ini weh?" Adam bingung, langkah apa yang harus ia ambil.
Tut tut tutt
Adam menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Bodoh kau, Dam!" gumamnya lirih.
"Selamat siang, Tuan. Ada keperluan apa hingga Anda bersedia menghubungi saya?" ucap Runi di seberang.
"Ada tugas untukmu."
"Tugas apa itu Tuan?"
"Pokoknya ada tugas lagi untukmu. Akan kuberikan bonus untukmu jika kamu bersedia melakukan tugas yang saya berikan," ucap Adam dengan lagak yang terdengar angkuh bagi Runi.
Runi terdiam sejenak. Adam menunggu jawaban dari Runi. Lagi–lagi ketidaksabaran mendominasi diri Adam.
"Dasar lemot!" gumam Adam lirih. Ia kesal karena Runi tak kunjung memberikan jawaban.
"Apa, Tuan?" tanya Runi karena Runi tak begitu mendengar gumaman Adam.
"Jawab saja mau atau tidak!"
Helaan napas terdengar dari orang di seberang sana.
__ADS_1
"Baik saya mau."
Adam tersenyum lega. Tanpa menjawab apapun ia mematikan sambungan telepon itu. Hal itu membuat Runi lagi–lagi memarahi gawainya karena ulah Adam.
"Dasar Bos Gelo! Seenaknya saja mematikan sambungan teleponnya. Mana perintahnya tidak jelas lagi?! Dasar gelo! Sudah gelo, angkuh lagi!"
"Haihhh amit–amit ketemu jodoh modelan dia!"
"Kalau bukan karena aku butuh uang, aku gak bakal mau menuruti perintahnya!"
Yeah. Runi tengah membutuhkan uang lebih untuk membayar uang sekolah adiknya. Adiknya juga harus membeli buku pelajaran dan juga seragam baru.
Runi berjalan dengan umpatan yang sesekali masih terlontar dari bibirnya. Raut wajahnya menyiratkan kekesalan yang begitu kentara. Hal itu membuat Gea yang dari toilet bertanya–tanya.
"Kamu kenapa Run?" Gea menatap Runi penuh selidik.
"Habis dihubungi orang gila. Dan gila beneran!" jawab Runi yang terdengar asal di telinga Gea.
"Ha?" Gea masih tak mengerti apa yang Runi maksudkan.
"Dahlah jangan bahas. Beneran semakin gila kalau kita bahas."
Runi enggan membahas Adam dengan Gea. Karena bukannya menemukan solusi, ia akan mendapat ledekan dari Gea. Dan hal itu bisa membuat Runi semakin kesal untuk saat ini.
Runi pergi menjauh dari Gea. Sedangkan Gea hanya mengedikkan bahunya.
"Aneh," gumam Gea yang melihat keanehan pada diri Runi.
Gea pun kembali ke pekerjaannya. Ia yakin, jika nanti Runi akan bercerita dengan sendirinya jika Runi telah berdamai dengan dirinya sendiri.
🍂
//
Hai semuaaa sambil menunggu Asa up, kalian bisa mlipir dulu ke karya kece kakak online Asa di bawah ini 🤗🤗
🍂
//
Happy reading guys,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1