
"Kamu kenapa?" tanya Adam tatkala melihat wajah Runi yang sangat masam.
Dia terlihat cuek, namun sebenarnya dalam hati ia ingin tertawa keras karena berhasil membuat Runi menahan malu.
"Gak papa!" sahutnya ketus. Hatinya begitu dongkol karena ulah Adam. Ia masih menyesali penampilannya yang keluar dengan out fit yang jauh dari kata layak.
"Gak sopan sama atasan!" ucap Adam dengan nada nada yang dibuat sedatar mungkin walau sebenarnya dia menahan tawa.
"Siapa suruh dikasih konsekuensi malah mengingkari. Rasakan itu!" gumam Adam dalam hati.
Runi menghela napas dalam lalu menghembuskannya cepat. Ia menatap lurus ke depan lalu memaksakan senyumnya.
"Saya tidak papa, Tuan …." ucap Runi yang diikuti senyuman namun terkesan dipaksakan. Ingin sekali Runi mencabik–cabik wajah Briel.
"Eh tapi sayang juga kalau dirusak ...Ahh malah ngapain kamu Run! Kenapa pula malah mikirin nasib dia!" batin Runi. Ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Dasar menyebalkan!" gerutu Runi dalam hatinya lagi.
Adam tersenyum simpul. Baru kali ini dia menemuka. wanita seaneh Runi. Biasanya kebanyakan wanita terpesona akan ketampanannya.
Yeahh …. Kali ini Adam membawa Runi ke butik ternama di sana, GA Fashion & Style. Ia ingin merubah penampilan Runi agar bisa menyesuaikan kondisi di pesta pernikahan yang akan ia hadiri.
"Ayo turun!" ucap Adam.
Runi mulai menggerakkan kakinya dengan malas. Ia membuka pintu mobil itu dan berjalan keluar. Sedangkan Adam telah menunggu Runi di luar.
"Ayo cepat! Dasar Cewek Lemot!" ucap Adam tak sabaran.
Runi terperangah mendengar ucapan Adam.
"What?! Cewek Lemot?! Dasar Bos Gelo! Seenaknya saja menyebutku lemot!" gumam Runi dalam hati.
Runi masih belum bisa menyuarakan isi hatinya. Yang terlihat dari luar adalah, Runi tak mampu menyembunyikan ekspresinya. Ekspresinya itu terlihat jelas di wajahnya. Senyum palsunya sudah menjawab semuanya. Namun lagi–lagi Adam berpura–pura tak tahu walaupun sebenarnya ia tahu. Ia hanya bisa tertawa dalam hatinya.
Adam melangkah masuk. Runi berjalan satu meter di belakang Adam. Ia tak mau menyandingi Adam. Adam membiarkan Runi melakukan apa yang Runi inginkan.
Seketika Runi menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung di butik itu. Banyak di antara mereka yang berbisik–bisik mengomentari penampilan Runi yang jauh dari kata layak. Diam, dan menggerutu dalam hati, adalah hal yang bisa ia lakukan saat ini. Rasa kesal dan dongkol mulai menyelimuti hatinya.
"Aaaa Dasar Bos Gelo kurang ajar!!!!" umpatnya dalam hati. Runi mencoba menghirup udara lebih untuk menormalkan kembali emosinya.
"Aihh malunya aku .... ingin ku menenggelamkan diri di bak mandi ...." ucap Runi lirih merutuki nasibnya sendiri.
"Sabar Run, sabar!" gumam Runi dalam hati.
"Hai Tuan Hendri," sapa Adam tatkala melihat Hendri di sana. Hendri bersama salah seorang wanita yang tak lain adalah salah satu asisten yang membantu Gea di sana.
"Hai Tuan Adam. Senang bertemu dengan Anda."
Hendri memberikan salam pada Adam.
__ADS_1
"Bagaimana kabar Anda, Tuan?" tanyanya kemudian.
"Baik–baik. Bagaimana dengan Anda?"
"Yeah …. Seperti yang Anda lihat."
Mereka saling melemparkan tawa.
"Oh iya, Tuan, saya ingin mengubah penampilannya menjadi orang yang berbeda. Saya ingin membawanya untuk menghadiri pesta pernikahan," tunjuk Adam pada Runi.
Hendri mengangguk menyetujui. "Baiklah!"
"Maya, urus ini semua dengan benar!" perintahnya pada wanita itu.
Maya mengangguk. Ia mulai mengamati postur tubuh Runi, kemudian ia mengangguk sembari mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas.
"Baiklah Tuan, rupanya saya sudah menemukan gaun yang cocok untuk Nona ini," ucap Maya dengan yakin. Suaranya pun terdengar sangat meyakinkan.
"Oke," ucap Adam singkat sembari mengangguk.
Maya berjalan mengambilkan gaun yang ia maksudkan. Ia membawa sebuah gaun yang begitu cantik dan elegan. Ia menghampiri Runi. Maya mulai menempelkan baju itu ke tubuh Runi, dan cocok.
"Mari Nona, kita coba gaun ini."
Maya mulai menarik Runi untuk masuk ke dalam ruang ganti. Namun langkahnya terhenti karena ulah Runi. Gea berusaha menahan Maya agar mendengarkan ucapannya.
"Tapi saya belum mandi, Mbak!" keluh Runi.
"Gea!" seru Runi. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan Gea di sana. Ia melihat Gea berjalan beriringan bersama Briel. Ia masih tak percaya bisa bertemu Gea di sana.
"Ada keperluan apa Gea ke sini? " tanya Runi dalam hati.
"Iyuhh sekali kamu Run. Masak iya sampai ke sini belum mandi? Mana bajumu masih doraemon lagi Run, Run!" ledek Gea sembari menahan tawa. Ia mengamati penampilan Runi dari atas ke bawah.
Runi hanya memutar bola matanya malas. Di sana ia tidak bisa menahan kekesalannya pada Adam.
"Tertawa aja sono sampai puas!" ucap Runi dengan ketus.
Gea tergelak. Ia tak bisa menahan tawannya lagi. Tawa itu terdengar menyebalkan di telinga Runi. Namun itulah kenyataannya.
"Hahaha … sudahlah. Ayo ikut aku sejenak!" ucap Gea. Sedangkan Runi bingung dengan apa yang terjadi. Runi mengikuti Gea dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Sepeninggalan Gea dan Runi, ketiga pria dewasa itu berbincang ria.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Briel," sama Hendri. Ini adalah kali kedua mereka bertemu.
"Hahaha tidak usah formal, Kak. Kita keluarga."
Hendri mengangguk setuju. Ia tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah, Bri."
Hendri memutuskan untuk memanggil langsung nama Briel karena Briel telah menyebutnya dengan panggilan 'kak' seperti Gea memanggilnya. Briel tersenyum bahagia.
"Mau bawa dia kemana, Dam?" tanya Briel tiba–tiba. Ia penasaran kenapa Adam membawa sahabat Gea ke sana.
"Ke pesta mantan," ucap Adam santai. Padahal sebenarnya hatinya masih sakit.
"Bersama Runi?" Adam mengangguk santai. Semuanya itu ia lakukan untuk menutupi rasa sakitnya.
" Yakin kuat?" telisik Briel. Menghadiri pesta mantan yang masih dicintai adalah suatu penyiksaan bagi orang yang mengalaminya.
Alih alih menjawab, Adam malah melontarkan pertanyaan untum Briel.
"Kenapa kamu ke sini?"
Briel berdecak kesal. Bukannya pertanyaannya di jawab, Adam malah melemparkan pertanyaan yang lain.
Briel melirik Adam sekilas. "Gegara mantan pacar ckckckck ...!"
Briel tahu Adam menyimpan lukanya. Luka itu terlihat jelas di sorot mata Adam.
"Ya terserah kami, Dam. Butik juga butik istriku."
Adam memutar bola matanya malas. Ucapan Briel terdengar menyebalkan dan tidak menjawab. Namun ada benarnya juga.
"Terserah lah terserah!"
Adam memilih mengalah. Jika tidak, maka perdebatan itu tak akam pernah usai.
Hendri hanya menggeleng heran melihat tingkah atasan dan bawahan di depannya ini.
🍂
//
Hai semuaa...
Sembari menunggu Asa up, kaliam bisa mampir dulu ke karya keren dari kakak online Asa di bawah ini 🤗
Masih baru gaees 🤗🤗
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕