Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
61. Adam Kembali


__ADS_3

Di depan gedung megah sebuah perusahaan terkenal, seorang pria bersetelan jas rapi lengkap berdiri tegap memandangi gedung itu. Sudah cukup lama ia tak menginjakkan kakinya di tempat itu. Ia membenarkan jasnya. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya panjang. Lalu ia berjalan masuk untuk menghampiri sang tuannya yang sudah dipastikan tengah sibuk berkencan dengan kertas–kertas kesayangannya.


Saat masuk, ia melihat seorang wanita berjalan dengan kaki yang agak diseret. Jalannya pun tidak tegak. Dia melihat kaki wanita itu sedikit memar di bagian pergelangan kakinya. Dia menggelengkan kepala melihat wanita itu tetap bekerja dengan kondisi yang seperti itu.


"Dasar, Briel! Suami yang tidak pengertian!" gumamnya lirih. Ia tak menyangka kalau Briel membiarkan istrinya tetap bekerja sekalipun dia sakit.


"Kenapa ia tak memaksa istrinya untuk tetap tinggal di rumah?" lanjut pria itu lagi.


Ia berjalan berpapasan dengan wanita yang tak lain adalah Gea, istri Briel. Gea memberikan hormat padanya. Dengan sopan pula, Adam membalas sapaan Gea. Adam terus berjalan ke ruangan sang tuannya.


Dari tempat yang tak jauh dari sana, ternyata ada Runi yang tengah memperhatikan pria yang tak lain adalah Adam. Ia terpesona pada pandangan pertama saat melihat Adam yang ramah dan murah senyum. Ia mendekat ke arah Gea.


"Siapa dia, Gey?" tanyanya penasaran. Ia mengira Gea mengenal pria itu.


"Tidak tahu, Run."


"Astaga enak sekali sapaanmu dibalas, Gey. Senyumnya... Astaga bikin meleleh, Gey." Runi menatap kagum tubuh Adam yang semakin menjauh.


Puk


Runi meringis kesakitan. Ia mengelus kepalanya pelan. Gea memukul kepala Runi dengan kemoceng yang ia bawa.


"Otaknya diservice dulu, Run. Dulu kamu bilang CEO barunya tampan, sekarang ada pria yang baru lagi kamu bilang senyumnya bikin meleleh. Besok kalau ada pria yang baru lagi kamu mau bilang apalagi, Run?" Gea menggeleng–gelengkan kepalanya melihat sikap Runi yang gila pria tampan.


"Haihh ... aku juga sebel kalau ingat kamu bilang CEO baru itu tampan," batin Gea. Dia tidak rela juga suaminya dipuji orang lain. Tanpa Gea sadari, hatinya sudah mematenkan hak kepemilikan untuk Briel.


Runi tersenyum cengengesan tanpa rasa bersalah yang ia rasakan. Memang begitulah sifatnya. Ia tidak tahan untuk tidak berkomentar tatkala melihat pria menawan.


"Heem …"


Deheman keras itu mereka dengar dari seorang pria. Runi dan Gea memusatkan perhatianya ke sumber suara itu. Seketika wajah Gea datar. Ia melayangkan tatapan permusuhan padanya. Lalu membuang muka ke sembarang arah.


🍂


Di dalam ruangan, Briel tengah berkencan dengan kertas–kertas kesayangannya. Ia telihat begitu sibuk. Hingga terdengar suara ketukan pintu terdengar.

__ADS_1


"Masuk!" ucapnya tanpa mengalihkan perhatiannya.


Pintu itu pun terbuka lebar. Adam berjalan santai ke dalam ruangan Briel.


"Selamat pagi, Bos!" sapa Adam pada Briel. Briel hanya menatapnya sebentar saja lalu kembali fokus dengan kertas di tangannya.


"Ada perlu apa kau ke sini? Ayah dan Bunda bagaimana jika kau ke sini?"


"Mereka tidak perlu dijaga, Bos. Beberapa hari lagi kan mereka sudah pulang," jawab Adam santai.


"Loh Bunda kan besok sudah pulang, Dam?" Ia terkejut. Yang Briel tahu, Tere akan pulang besok siang.


"Sebenarnya iya, Bos. Tapi Bunda masih ingin menginap di rumah sakit bersama Ayah."


Briel terkekeh mendengar alasan Bundanya dari mulut Adam. "Tidak mau pulang? Bukankah lebih nyaman tidur di rumah?"


"Hahaha kenapa kau tak tanya sendiri sama Bunda Tere, Bos? Dia kan bundamu." Adam malah balik menyuruh Briel.


Briel tahu. Tere memang istri yang tidak bisa jauh dari suami. Kemana–mana ia mengikuti sang suami. Ia juga tidak mengerti dengan bundanya itu. Maka dari itu, perusahaan yang ada di Jerman, Frans serahkan kepada Briel. Dan saat ini, Briel disibukan dengan beberapa perusahaan sekaligus.


"Bos kenapa dahimu seperti itu?" tanya Adam penasaran. Briel memilih untuk diam, tak menanggapi ucapan Adam.


Seketika ingatannya kembali pada kejadian beberapa menit yang lalu. Ia melihat kaki Gea juga terkilir.


"Hayo Bos melakukan apa saja nih semalam?" selidik Adam.


"Melakukan apa?"


Adam mengisyaratkan maksudnya dengan kedua tangannya.


"Iya." Briel menjawabnya asal. Ia ingin membuat Adam tak berbicara lagi.


Adam berdecak tak percaya. "Whoaa ganas sekali kau, Briel!" ucap Adam cukup keras. Dia bahkan lupa menggunakan kata 'bos' dan memanggil nama Briel langsung. Briel menatapnya sekilas dengan datar sedangkan Adam tidak merasa bersalah sedikitpun. Briel tak mempermasalahkan panggilan Adam namun ia bermasalah dengan ucapan Adam yang ancapkali tak disaring. Briel memutar bola matanya malas.


"Anak orang itu Bos … dan kau menggagahinya dengan kasar … ckckck …"

__ADS_1


Adam teringat cara berjalannya Gea yang pincang dan melihat secara nyata memar di dahi Briel.


"Kuat berapa ronde, Bos?" lanjut Adam lagi. Ia penasara saja. Pasalnya ia tahu bahwa Briel adalah pria yang sulit ditakhlukan.


"Sepuluh," jawab Briel asal.


"Budubuset!!! Sungguh malang nasibmu Nona Bos."


"Kalau ingin, sana nikahi kekasihmu!" ucap Briel yang mulai kesal.


"Memang itu rencanaku, Bos. Aku bahkan ingin membentuk tim basket."


"Kenapa tidak tim sepak bola?"


"Tidak. Tim sepak bola terlalu mainstream. Lebih baik basket saja. Kasihan nanti istri masa depanku capai!"


"Terserahlah terserah! Sana pergi dan selesaikan tugasmu!" usir Briel. Dengan adanya Adam di sana membuat kepalanya terasa ingin pecah. Ia memijat pelan pelipisnya.


"Ya betul! Terserah diriku!" ujar Adam tanpa dosa. Menyenangkan sekali rasanya menggoda bosnya itu.


"Haih diamlah Dam! Jangan salahkan aku kalau angka nol di rekeningmu berkurang tiga!"


Briel mulai memunculkan senjata pamungkasnya. Adam tidak akan melawan Briel jika sudah mengangkut perihal jumlah nol. Pernah sekali ia tidak menuruti Briel, jumlah nol di rekeningnya benar–benar hilang satu digit. Dan ia tidak mau bermain–main lagi. Berkurang satu saja sudah membuatnya pusing, apalagi kalau harus sampai tiga digit? Membayangkannya saja Adam sudah bergidik ngeri.


"Astaga iya–iya!" Adam sudah menyerah. Ia pergi meninggalkan ruangan Briel.


"Tunggu, Dam! Ada partner bisnis yang ingin membahas proyek kita. Agar kamu juga mengetahui sekalian tentang proyek kita."


Adam pun menghentikan langkahnya. Ia menghela napas kasar. Ia juga memutar bola matanya malas. "Dasar bos plin plan!" geruntunya lirih.


"Baiklah Bos yang tak pernah salah!" jawabnya. Ia berjalan malas lalu duduk di sofa yang ada di sana.


🍂


Happy reading guys

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2