
Runi membulatkan matanya. Betapa terkejutnya ia melihat siapa orang yang datang ke rumah kontrakan Gea yang ia tempati itu.
"A–ada apa Tuan datang ke sini?" tanya Runi tergagap. Suaranya bergetar karena kegugupan sekaligus ketakutan melandanya.
"Wah wah wah … rupanya kamu tidak mau mempersilahkan saya masuk sejenak," ucap orang yang tak lain adalah Adam.
"Si–silahkan masuk Tuan."
Runi mempersilahkan Adam masuk ke dalam rumah. Setelah mempersilahkan duduk, Runi pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman seadanya.
Tak lama kemudian, Runi datang membawa segelas teh hangat. Ia menyajikannya untuk Adam.
"Silahkan di minum, Tuan."
Tanpa menunggu lama lagi, Adam menyeruput teh itu. Ia mencecap sedikit demi sedikit rasa itu.
"Pas," gumam Adam dalam hati. Rasa manis teh buatan Runi cocok di lidahnya.
Runi masih berdiri di seberang Adam. Adam menghela napas dalam.
"Duduklah!"
Runi mengikuti perintah itu. Ia duduk berjauhan dengan kursi yang Adam duduki.
"Kamu pasti bingung, mengapa saya datang ke sini," ucap Adam sembari meletakkan gelas itu kembali.
Runi mengangguk ragu. Benar apa yang dikatakan Adam. Ia penasaran, ada keperluan apa Adam sampai datang ke rumahnya.
"Sebenarnya saya tidak ada keperluan apa–apa. Mobil saya kebetulan bocor di jalan depan. Karena saya mengingat ada karyawan yang tinggal di sini, saya ke sini. Saya tidak suka menunggu lama," ucap Adam dengan santainya.
Adam melirik ke arah Runi. Ia melihat Runi tengah terperangah mengetahui maksud Adam datang ke sana.
"Sungguh tidak bermutu!" gumam Runi dalam benaknya. Ia tak mengira bahwa itulah tujuan Adam ke sana. Ia mengira Adam ingin meminta pertanggungjawaban Runi karena tidak sengaja menjatuhkan kain pel basah ke sepatu Briel.
Ia menggerutu dalam batinnya berulang kali.
"Kenapa? Tidak suka saya di sini?" tanya Adam cuek. Ia kembali menikmati teh itu. Runi hanya mendengkus kesal. Dari kalimat Adam saja ia sudah tahu bahwa Adam tidak akan pergi walaupun diusir kalau bukan kemauannya sendiri.
"Bu–bukan begitu, Tuan. Saya senang Tuan ada di sini."
"Baguslah." Adam mengangguk santai.
Dering panggilan masuk di gawai Adam pun terdengar. Adam mengangkat telepon itu.
"Baiklah. Saya akan ke sana."
Adam mematikan gawainya. Tak lupa ia memasukkan kembali gawainya itu ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Baiklah, kamu harus berterima kasih karena saya datang ke mari. Sangat langka saya singgah ke rumah karyawan sepertimu." Adam berdiri sembari membenarkan jasnya.
"Wa wa wa waa … tidak beres ini orang. Bukannya dia yang harusnya berterimakasih karena aku buatkan teh dan numpang duduk di sini? Dasar orang gelo!" umpat Runi dalam hati. Ia tak terima Adam berkata demikian. Ingin sekali ia memukul kepala Adam, namun ia tak bisa melakukan apapun, karena nasib pekerjaannya di tangan Adam.
"Iya kan, Nona?" ucap Adam penuh penekanan. Ia tak menerima penolakan apapun dari mulut Runi.
"Iya, Tuan," ucap Runi dengan nada jengkelnya. Ia mengucapkannya dengan senyum yang dipaksakan. Bahkam seorang bodoh pun tahu kalau Runi trngah kesal pada Adam.
Adam tersenyum miring sekilas. Lalu meninggalkan Runi di sana dengan perasaan jengkel.
Punggung Adam semakin menjauh tak terlihat hingga menghilang di ujung pagar. Runi menggeram kesal. Ia bahkan menggerakkan kedua tangannya untuk meninju ke depan tangannya sebagai penumpahan rasa kesalnya pada Adam.
"Ihhh … gara–gara asisten sialan itu aku belum mandi jugaaaa!!! "
Dengan kasar Runi menutup pintu itu, hingga terdengar bunyi dentuman pintu tertutup. Rubu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
🍂
Hari telah berganti malam. Adam telah sampai di markas untuk menemui Briel. Semenjak Gea pergi, Briel tinggal di markasnya itu.
"Permisi, Bos."
"Hem." Briel hanya menjawab Adam dengan gumamam saja.
"Saya sudah berhasil menyadapnya, Bos."
"Kerja bagus."
Dengan kemampuannya, Adam berhasil membuka pola gawai Runi. Ia menyadap seluruh aktivitas Runi yang dilakukan menggunakan gawainya. Adam tersenyum miring mengingat rencananya berhasil.
Briel mengetuk–ketukan jari jemari Briel pada sofa yang tengah ia duduki. Suara itu membentuk irama kebahagiaan. Briel berharap Gea menghubungi Runi mengenai keberadaannya.
🍂
Runi tengah dirundung rasa jengkel dengan Gea sahabatnya. Berulang kali ia menghubungi nomor Gea. Namun tak ada jawaban dari seberang sana. Hanya ada suara operator yang menyahutinya.
Runi membanting gawainya ke ranjang.
"Kemana sih Gea sampai sekarang tidak ada kabar? Apa yang terjadi dengannya?" gerutu Runi. Ia tak habis pikir dengan Gea yang menghilang tanpa meninggalkan jejak untuknya.
"Apa dia berbulan madu dengan suaminya ya?" pikir Runi kemudian. Biasanya pasangan baru apa lagi orang kaya akan melakukan bulan madu setelah resmi menjadi suami istri.
"Tapi kenapa ia tak mengabariku? Biasanya ia cerita padaku."
Dua kubu pemikiran Runi bertarung, membuatnya semakin letih.
"Ah bodo ah! Lebih baik aku tidur, agar tenagaku segera pulih setelah seharian capek bekerja."
__ADS_1
Runi membaringkan badannya. Perlahan ia mulai memejamkan matanya, menyelami alam mimpi.
🍂
Di kamarnya, Gea tengah dirundung kebimbangan. Ia gundah sejak kemarin. Ingin hati menghubungi Runi, namun ia tidak ingin keberadaannya diketahui oleh Briel.
Ia menulis secarik surat perpisahan untuk Runi. Minggu depan ia ingin meninggalkan negara ini. Ia ingin menetap di Rusia, meninggalkan semua kenangan yang telah ia ukir.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Gea beranjak membukakan pintu itu. Ternyata Bima datang menemuinya.
"Boleh kakak masuk?"
Gea mempersilahkan Bima masuk ke dalam kamarnya. Bima duduk di ranjang dengan tangan yang menyangga tubuhnya di belakang.
"Gey, apakah kamu yakin ingin pergi ke Rusia?"
"Keputusan Gea sudah bulat Kak. Gea ingin pergi ke sana, meninggalkan kenangan Gea di sini. Terlalu sakit Kak jika Gea masih di sini lebih lama."
Tatapan mata Gea terlihat sendu. Rasa sakit telihat jelas di setiap sorot matanya. Bima hanya menatap sendu adik kesayangannya itu.
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Kakak akan menyiapkan keberangkatanmu ke sana."
Gea menyunggingkan senyumnya. Ia sangat beruntung memiliki kakak sepupu yang sangat menyayanginya.
"Makasih, Kak."
Bima berjalan menghampiri Gea. Ia mengusap pucuk kepala Gea pelan.
"Sama–sama. Tapi ingat, jangan pernah bersedih lagi jika kamu sudah sampai di sana. Kakak akan menarikmu kembali jika kakak mengetahui kamu masih bersedih di sana. Kakak memiliki banyak mata di manapun kamu berada."
Gea hanya bisa mengangguk ragu. Ia tidak begitu yakin dengan dirinya sendiri yang tidak akan bersedih lagi. Dia bukan 'super woman' yang bisa dengan cepat menggunakan kekuatan supernya. Ia hanya manusia biasa yang memiliki rasa.
🍂
//
Eits eits eits ... jangan marah dulu. semua akan terungkap sebentar lagi 🤭 Asa berharap, kalian tak bosan menunggu kapan waktunya itu 🤗 Tapi jika kalian bosan, Asa juga tidak maksa kalian untuk tetap membaca apa yang Asa tulis hehehe :") Asa hanya bisa memberikan kepuasan relatif dan bukan mutlak.
Maaf karena Asa belum bisa membalas satu persatu komen kalian. Tapi nanti Asa akan membalas komen itu, entah kapan, ketika waktunya tiba. Tapi Asa sangat berterimakasih atas komentar kalian yang membuat Asa semakin semangat untuk menulis. 🤗🤗💕
Terimakasih
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕