
Di panas yang terik, tanpa gentar sedikit pun, Dela membelah jalanan gersang dengan aspal yang menyengat kaki jika tidak menggunakan alas kaki. Peluh mulai bermunculan. Tangannya berkibas di depan wajah untuk mengurangi rasa gerah yang kian menguras cairan dalam tubuh. Dela benar–benar ke tempat laundry saat itu juga.
"Aihh ... Kalau bukan karena daster kesayangan, aku tidak akan rela berpanas–panasan seperti ini."
Bagi Dela hal itu adalah pengorbanan besar baginya. Daster itu adalah daster termahal yang pernah ia beli. Sayang jika daster itu sampai hilang. Mungkin ia tidak akan bisa membelinya di saat keadaan seperti itu. Bukan hanya mungkin tapi memang tidak bisa. Bagaimana mungkin Gaza yang pekerjaannya saja tidak ia ketahui mampu membelikan daster mahal seperti yang dulu pernah ia beli itu.
"Enak saja dia menyuruhku membeli lagi. Memangnya bisa membelikanku daster mahal? Paling dia hanya mampu beli tiga puluh lima ribuan saja. Apaan itu? Daster seperti itu lebih cocok dijadikan lap motor!" gerutu Dela yang masih kesal.
"Hufft mana aku haus lagi ..."
Tenggorokkan Dela terasa kering. Bahkan hanya sekadar untuk menelan ludah saja tidak bisa. Ia membutuhkan minuman segar segera atau dia bisa pingsan mendadak.
Dela menoleh ke segala arah untuk mencari keberadaan penjual minuman, berharap ada pedagang minimal seorang saja.
"Tukang cendol kenapa tidak ada yang lewat sih..."
Dela meratapi nasibnya. Ia memang menemukan uang lima ribuan di sakunya. Namun percuma jika tidak ada seorang penjual minuman yang ada di sana. Tenggorokannya semakin terasa kering. Dahaga semakin menyerangnya. Ia memilih untuk duduk di bawah pohon yang cukup rindang hanya sekadar untuk terhindar dari terik matahari untuk sekejab saja.
"Mang ... Beli es tehnya satuu!!!" teriak Dela kala melihat seorang penjual es teh dengan gerobak lewat di seberang jalan.
"Iya Neng, sebentar saya ke situ!" Si penjual es teh mendorong gerobaknya mendekat ke arah Dela. Mata Dela kini berbinar seperti mendapatkan hadiah besar.
__ADS_1
"Berapa, Neng?"
"Lima ribu boleh, Mang?"
"Bo–tidak boleh!!"
Tangan penjual es teh yang sudah menuangkan segelas es teh ke pastik, kini ia kembalikan ke wadah besar. Si penjual es teh berubah pikiran kala ia melihat perut Dela yang terlihat berisi. Penjual es itu tahu lantaran badan istrinya akan seperti itu jika istrinya tengah mengandung.
Raut wajah kecewa terlihat jelas. Dela tidak mengerti kenapa penjual es itu melarangnya. Ia berpikir mungkin uangnyalah yang kurang.
"Kurang ya, Mang?"
"Terus kenapa Mang?" tanya Dela yang masih belum mengerti. Pikiran buruk telah meracuni pikirannya.
"Neng, ibu hamil tidak boleh minum es teh. Makanya Neng tidak boleh beli es teh saya. Ini saya kasih air putih saja."
Si penjual es teh telah menuangkan air putih ke dalam plastik dengan sedikit es agar lebih menyegarkan.
Dela berdecak kesal. "Yahh, Mang ... Jangan pelit pelit lah!" sungut Dela.
"Sudah tidak usah ngeyel! Aku ini sudah berpengalaman menghadapi ibu hamil. Nurut saja sama Mamang ini," ujar si penjual es teh tanpa bantahan. Ia tidak ingin kandungan Dela terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan sebelum pernah melihat.
__ADS_1
Mau tidak mau Dela menerima air putih itu dari pada harus kehausan lebih lama. Ia tidak punya pilihan lain. Dengan wajah kusut, Dela menyedot air itu dari sedotan kecil.
"Makasih!" ucap Dela jutek. Penjual es teh itu hanya menggeleng ringan sembari tersenyum.
"ES TEH ES TEH!!!" teriak penjual es yang tengah mendorong gerobaknya meninggalkan Dela sendirian di sana.
"Ahh kenapa semua orang nyebelin sih!" ucap Dela sembari melihat penjual es yang kian menjauh.
Hari itu memang menyebalkan bagi Dela. namun tanpa Dela sadari, banyak orang yang masih peduli bahkan orang asing sekalipun. Dasarnya saja Dela yang tidak bersyukur.
Dela kembali duduk di tempat semula. Ia ingin menghabiskan air itu sebelum ia melanjutkan perjalanannya. Hingga suara seseorang membuatnya mengecam dalam hatinya.
"Aaaaa ... kenapa pula dia harus ke sini?!" gumam Dela lirih.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1