
Hidup memang tak selamanya berhenti. Semuanya akan terus bergerak. Memang ada kalanya berhenti sejenak, namun berada di atas, di bawah, di samping atau bahkan stabil adalah hal yang lumrah. Seperti saat kini. Gea benar–benar dijaga layaknya berlian langka yang tidak boleh lecet sedikitpun. Tidak hanya oleh suaminya, namun kini semuanya. Bahkan keluarga yang dahulu membuangnya kini memperlakukannya sebagai putri yang sesungguhnya.
Gea kembali menatap dirinya di cermin meja rias itu. Ia memoles tipis wajahnya dengan sedikit blush. Ia juga membubuhkan lipstik berwarna kalem agar bibirnya tidak terlihat pucat. Dengan pakaian yang tidak mencolok namun masih terlihat rapi dan santai, Gea mengambil tas slempangnya untuk memperlengkap penampilannya kini.
"Sudah mau berangkat Ge?"
Langkahnya terhenti lantaran interupsi Tere yang tiba–tiba saja terdengar dari arah samping.
"Eh Bunda. Iya ini, Bun. Baru aja aku ingin mencari Bunda. Eh ternyata sudah di sini."
Gea ingin berpamitan terlebih dahulu pada sang ibu mertua agar ibu mertua tidak kebingungan mencarinya.
Tere tersenyum hangat ke arah Gea.
"Bun, Gea berangkat ya. Tolong jagain si Duo Uyul," pinta Gea dengan wajah yang terlihat seimut mungkin.
"Iya ... Tidak menunggu Briel?" tanya Tere.
"Tidak Bun. Kasihan juga Bayang nanti kecapaian kalau harus menemaniku. Lagi pula ini adalah hari–hari di mana Bayang lagi sibuk–sibuknya," pikir Gea bijak. Proyek yang Briel garap memang menuntut banyak waktu Briel. Tapi Gea paham. Briel bekerja juga untuk dirinya dan anak–anaknya.
Tere mengangguk. "Sudah bilang?"
"Sudah dong Bun," ucap Gea antusias.
Meskipun awal mulanya Briel mengomel panjang lebar, namun pada akhirnya ia memperbolehkan Gea pergi sendirian walau harus dengan menghela napas berat. Ia paham, istrinya itu membutuhkan me time, dengan syarat harus tetap menggunakan sopir. Tangan Gea yang cidera adalah alasannya. Dikhawatirkan tangan itu akan kembali sakit jika terlalu kelelahan.
"Hmmm ... Selamat menikmati harinya. Have fun!"
"Emuachh"
Tanpa diduga, Gea menghampiri Tere lantas mencium singkat pipi Tere. Ia berlalu meninggalkan Tere yang menatap punggung yang semakin menjauh.
Sebenarnya ide itu adalah ide dari Tere. Tere paham jika merawat dua bayi sekaligus bukanlah hal yang mudah. Sudah cukup lama pula Gea tidak melakukan perawatan. Dan saat itulah, waktunya Gea untuk merilekskan tubuh dan pikirannya sejenak.
Awalnya Gea menolak. Namun dengan jurus seribu rayuan, Tere pada akhirnya mampu membujuk Gea. Perkataan Tere akan kebosanan suami kala melihat wajah kucel seorang istri mampu menggerakkan Gea untuk berubah pikiran. Padahal di balik itu semua Tere tersenyum geli. Karena pada dasarnya suami yang setia tidak akan pernah mengkhianati pernikahan meskipun rupa sang istri telah termakan usia dan tanggung jawab yang membuat kaum istri lupa untuk merawat diri. Sebab prioritas mereka bukan lagi dirinya sendiri, melainkan keluarganya terutama anak dan suaminya. Namun Gea yang pada dasarnya baru saja menjalin pernikahan tetaplah panik dengan ucapan Tere.
__ADS_1
🍂
"Pak ke klinik kecantikan." Gea memberikan intruksi untuk sopir yang ditugaskan untuk menemaninya.
"Iya, Nyah."
"Eh eh Pak, gak usah yang di pusat kota, Pak. Kita ke mall aja. Di sana juga ada klinik kecantikan yang baru buka," ungkap Gea.
Beberapa menit yang lalu, Gea men–scroll media sosialnya. Dan tanpa di duga ia menemukan iklan promo klinik. Beruntung saja arah tempat itu masih searah dengan klinik kecantikan.
"Lumayan nih ada diskon 30%," batin Gea.
Meskipun kehidupannya bergelimang harta, namun tetap, wanita adalah kaum pemburu diskon nomor satu sedunia. Ada barang murah namun berkualitas pasti akan diburu.
Sesampainya di mall yang ia maksud, Gea memutuskan untuk masuk sendirian tanpa sopir yang mengawalnya. Ia ingin benar–benar menikmati waktu sendirian full sehari.
"Pak, tunggu saya di sini saja. Atau jika bapak bosan, bapak bisa ke mana terlebih dahulu. Tapi jangan lama–lama ya Pak," ucap Gea. Ia tidak ingin mengurung Samsul dalam penjara kebosanan lantaran terlalu lama menunggunya.
"Siap Nyah"
"Loh buat apa ini Nyah." Samsul bingung lantaran uang itu banyak.
"Beli bensin, Pak, sama kalau bapak lapar bisa beli makan."
"Wahh ... Makasih Nyah," ucap Samsul dengan wajah yang berbinar. Kerutan di ujung matanya terlihat, memperlihatkan usia Samsul yang tidak lagi muda.
Gea berjalan membelah kerumunan orang yang berjalan berpasangan ataupun bergelombolan. Hanya dia saja yang berjalan sendirian. Namun tidak apa, ia menikmati itu semua. Ia berjalan dengan elegan menuju klinik kecantikan yang baru saja buka.
Gea menghampiri resepsionis yang berdiri menyambutnya.
"Mbak ..." Gea mulai memesan perawatan tubuh yang ia mau.
🍂
Gea menghirup nafas lantas menghembuskannya panjang. Ia keluar dari klinik dengan wajah dan tubuh yang lebih fresh dan bugar. Wajahnya terlihat lebih cerah.
__ADS_1
Tidak sampai di situ saja. Ia ingin berbelanja sepuasnya untuk dirinya, Briel, dan tentunya untuk kedua buah hatinya. Ia ingin menikmati bagaimana rasanya menghamburkan banyak uang untuk memuaskan kesenangannya yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak pernah ia lakukan. Yeahh mungkin sesekali namun itu hanya seperlunya saja, bukan sepuasnya.
Sementara itu di tempat lain Gaza dan Dela tengah meributkan hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan.
"Kenapa sih kamu pelit sekali astaga..?"
"Hufftt bukan pelit. Tapi kau lagi hamil sadar diri kalau kau sekarang bumil. Kalau kau pergi sendirian, bagaimana jika terjadi apa–apa denganmu? Atau malah dirimu yang sengaja menabrakkan diri di depan angkutan umum yang lewat, atau malah kereta."
Terkadang pemikiran dan perbuatan Dela membuat dirinya ketar–ketir. Bukan karena peduli sangat, namun karena dia tidak ingin direpotkan karena banyak hal yang bisa saja terjadi, pikir Gaza. Ingat, tidak ingin repot, bukan peduli.
Hari itu, Dela memang ingin sekali keluar mencari udara segar. Kemana saja asalkan tidak terus–terusan berada dalam petakan rumah itu. Namun keinginannya itu diketahui oleh Gaza yang membuat mereka sekarang harus berdebat. Dela ingin pergi sendirian, namun Gaza tidak akan pernah membiarkan Dela pergi sendirian.
"Tapi pergi denganmu sama saja tidak bebas. Akun ingin sendiri," ucap Dela sebal.
Dela menghentakkan kaki layaknya anak kecil.
"Oooo ..." ucap Gaza yang sudah dipastikan kalimat selanjutnya berisi ancaman.
"Oke kalau begitu. Pergi sendiri sana. Jalan kaki. Lalu di sana kau tidak akan bisa melakukan apa apa. Mau beli cendol pun pasti tidak bisa," lanjut Gaza.
Dela melupakan satu hal. Ia tidak memiliki uang. Sungguh ia menjerit meraung di dalam hatinya. Kenapa pula ia bisa melupakan hal itu. Finansialnya saat ini bergantung pada Gaza. Dela memanyunkan bibirnya, kesal.
Gaza melirik Dela dengan penuh kemenangan. "Gimana?" Gaza tersenyum miring.
Dela berdecak kesal. "Iya iyaa ..."
Pada akhirnya Dela menyetujui bahwa mereka pergi bersama.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1