
"Makanlah," titah Gaza pada Dela. Ia membawakan sepiring menu makanan sarapan dan juga segelas susu untuk Dela. Ia juga membawa seporsi lagi untuk dirinya sendiri untuk mempersingkat waktu. Ia memilih roti selai panggang sebagai sarapannya.
Dela mengambilnya tanpa banyak tanya. Ia memang harus istirahat cukup. Kondisinya masih belum benar–benar pulih. Terkadang masih ada sedikit rasa nyeri yang ia rasakan di perut bagian bawah. Namun tidak lama dan hanya sesekali saja. Mungkin itu efek kemarin, pikir Dela.
Gaza menyantap roti selai panggang itu. Setiap kali Gaza menggigit potongan roti itu, Dela selalu saja mengikuti arah gerak roti yang Gaza pegang setiap kali Gaza menggigitnya. Dela menelan ludahnya sendiri. Ia menginginkan roti itu, namun ia gengsi. Apa lagi roti yang ia inginkan adalah roti yang Gaza makan, bukan yang lain.
"Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Gaza. Gaza berhenti mengunyah. Gigitan yang cukup besar menyembul di sebelah pipinya. Ia menatap Dela dengan tatapan aneh. Tatapan Dela membuatnya risih.
Dela membuang muka gelagapan. "Ti–tidak. Siapa juga yang menatapmu. Idih ... Kegeeran!" ucap Dela berkilah.
"Aduh ... Kenapa bisa tau sih? Dan ini juga. Kenapa juga jadi pengin roti yang Gaza makan!Aihh ... ada–ada saja!" rutuk Dela dalam hati. Kali ini ia ingin menghilang seketika.
Gaza hanya meliriknya sekilas lantas ingin kembali menggigit potongan terakhir. Sengaja, Gaza menggerakkan tangannya perlahan layaknya video slow motion. Ia melirik ke arah Dela melalui sudut matanya. Ia ingin melihat sebenarnya apa yang dilihat Dela. Dan benar dugaannya. Kali ini Dela menatap arah tangannya tanpa kedip. Gaza menghela napas dalam hati.
Hap
Dela membeliakan matanya. Potongan roti itu masuk ke dalam mulutnya tanpa permisi. Mulutnya penuh, pipinya mengembung di kedua sisi.
"Kalau mau, bilang. Kunyah cepat Dela Sayang," ucap Gaza dengan gereget. Gregetannya bukan karena gemas, namun karena jengah dengan sikap Dela. Manusia normal akan merasa risih jika apa yang dimakan diinginkan orang lain.
"Makan." Gaza menggerak–gerakan pipi Dela dengan kedua tangannya agar Dela mengunyah roti yang masih berada dalam mulutnya.
"Tapi maaf stok roti tinggal ada itu. Jadi sisa juga tidak apa kan ya," ujar Gaza kemudian dengan senyum miring. Niat hati ingin memberi pelajaran untuk Dela namun ternyata hal itulah yang diinginkan Dela tanpa harus meminta. Bodohnya Dela menuruti apa yang Gaza lakukan. Dela mengunyah roti itu perlahan.
"Iihhh!!!" Dela tersadar.
Dela memukul keras lengan Gaza. Ia memang menginginkan roti itu. Namun cara Gaza sangatlah menyebalkan. Bahkan sampai membuatnya hampir tersedak.
"Gilakk!! Tadi kalau aku mati gimana?" ujar Dela kesal. Ia menatap tajam ke arah Gaza.
Gaza mengedikan bahunya tidak peduli. "Tuh buktinya tidak mati."
"Aiiihh ... Mana bekas gigitanmu lagi ... Arrgghh menyebalkan!!" teriak Dela. Ada suatu kesenangan tersendiri. Dela memilih untuk tidak mengakuinya dan mengungkapkannya dengan kemarahan.
__ADS_1
"Salah siapa mulut anda menganga seperti itu! Lagi pula roti itu juga habis kau telan."
Skak mat.
"Menganga? Hah? Apa iya sampai begitu? Aaaaa hancur imageku," gumamnya panik dalam hati. Jujur, Dela menyesali perbuatannya.
"Iyakah? Tidak usah bohong!" tuding Dela. "Kau hanya sengaja membuatku panik kan?" tuduhnya masih berlanjut.
"Haih ... Tidak percaya. Hampir saja iler itu terjatuh. Iyuhh untung tidak mengotori lantai kamar ini," ledek Gaza semakin menjadi.
Dela menghentakan kakinya lantas membuang muka. Ia memenuhi mulutnya dengan sesuap makanan sehat yang Gaza siapkan. Kekesalannya membuat nafsu makannya meningkat. Lebih tepatnya sebagai pelampiasan.
"Apa lihat lihat?!" ujar nya pada Gaza yang menatapnya dengan menahan tawa. Ia melirik Gaza sinis.
"Awas cacing di perutmu mati seketika!" sindir Gaza yang melihat suapan–suapan besar memenuhi rongga mulut Dela. Bahkan Dela menelan tanpa mengunyahnya dengan benar.
"Bodo amat!!"
Gaza menghela napas. "Hei ... Makanlah dengan benar. Setidaknya kunyah sampai halus dan aman untuk lambung."
Layaknya anak kecil, Dela semakin menjadi. Ia malah melakukan hal itu dua kali lebih gila. Gaza hanya bisa memutar bola matanya malas. Yang penting dirinya sudah mengingatkan.
"Dah. Jangan lupa minum susu dan vitaminnya. Tidak kau minum, aku sendiri yang akan memaksamu," ujar Gaza dengan ancaman.
Mendengar ucapan Gaza, Dela ngeri sendiri. Pasalnya dilihat dari sehari–hari saja Gaza memiliki sedikit jiwa psikopat. Tidak terduga dan menyebalkan. Ia tidak ingin nasib baiknya melayang begitu saja.
Sedangkan Gaza sudah berlalu meninggalkan Dela untuk bekerja. Bekerja yang Dela sendiri tidak tahu.
"Hufftt ... Hidup tanpa sosmed benar–benar hambar."
Dela menarik napas dalam. Hari–harinya begitu membosankan. Apa lagi setelah gawai dan semua fasilitas tidak ada. Ingin rasanya ia meminjam teko ajaib untuk menghandirkan kembali hal yang pernah hilang.
"Jangan–jangan selama beberapa waktu terakhir tidak membuka dunia persosmed an, aku sudah ketinggalan jaman ini.. heEem ... Gimana ini ... Sepertinya aku harus minta sama Gaza agar dibelikan ponsel."
__ADS_1
Dahulu Dela tidak pernah sedikitpun ketinggalan trend yang tengah viral. Tapi sekarang, sedikitpun ia tidak mengetahui perihal dunia luar.
"Dah ah, pokoknya aku tidak mau ada di dalam kamar ini!" tekad Dela. Ia tidak ingin menjadi orang penurut meski Gaza tadi sudah mengingatkan nya.
Dela berjalan ke luar dengan langkah terseok. Di meja depan sebelah televisi, Dela melihat sebuah kotak yang tidak asing. Dela mendekat ke meja itu. Hati–hati ia melangkah.
"Wihh ada ponsel baru... Ah cepat sekali Tuhan kabulkan permohonan ku," ujar Dela. Ia mengambil gawai itu. Di bawah kotak itu ada selebaran kertas bertinta hitam.
'Gunakanlah sebaik mungkin.'
Itu bunyi pesan tersurat. Dela hanya sekilas membacanya lantas melempar kembali selebaran kertas itu ke sembarang arah. Ia tidak peduli dengan perkataan yang tertulis itu.
Kalap.
Dela langsung meng–unboxing gawai baru itu. Aktivitas bersosial medianya langsung lancar. Tanpa berpikir lagi, ia mulai berselancar dalam dunia digital.
Setelah cukup puas, ia mendownload aplikasi bank untuk mengambil duitnya. Mudah saja, jika ia bisa mengambil uang itu, ia bisa tinggal sendiri tanpa berada di rumah itu.
Wajah Dela begitu cerah kala aplikasi itu telah terpasang.
"Waktunya melihat sisa saldo," ujar Dela
Namun tidak perlu menunggu waktu lama, wajah Dela berubah drastis. Apa yang ia tunggu ternyata sia–sia.
Rekeningnya sudah diblokir. Waktu itu Gaza sengaja memblokir rekeningnya agar tidak disalahgunakan oleh orang yang mengambil gawai Dela.
"Arrghh ... Sama saja!!"
Sia–sia juga harapannya. Ternyata rencananya hanyalah angan. Ia masih harus hidup bersama dengan Gaza. Menikmati hidup tanpa bisa melakukan banyak hal dengan bebas.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗🌻🌻