
Hari telah berganti hari. Briel terus mencari keberadaan Gea. Namun sayang, ia tak kunjung menemukan Gea. Briel benar–benar tak terurus. Bahkan berat badannya pun mulai menurun karena dia tak makan teratur selama Gea pergi.
Pagi ini Briel tengah bersiap untuk mencari Gea lagi. Sudah dua hari ia mencari Gea dengan menelusuri kota itu, dan kota–kota sekitarnya yang memungkinkan untuk menjadi tempat persembunyian Gea.
Untuk kali ini, Briel tak akan berangkat ke kantor. Semua urusan perusahaan ia percayakan pada Mark untuk sehari ini. Ia juga ingin turun langsung mencari istrinya itu. Percuma ia bekerja, namun pikirannya tak berada di tempat.
"Bos …!" panggil Adam. Ia baru saja sampai di markas itu. Selama Briel di markas, Adam tetap tinggal di rumah utama. Di sana ia membantu untuk merawat Frans walaupun ada perawat yang merawat Frans.
Briel menoleh ke arah Adam. Dalam hati ia bersyukur lega karena Adam datang lebih awal.
"Dam, bagaimana? Apakah sudah ada hal mencurigakan dari aktivitasnya?"
"Belum ada, Bos. Bahkan nomor baru saja tidak ada yang masuk Bos."
Adam telah mengecek berulang kali aktivitas Runi pada gawai yang ia sadap. Tidak ada aktivitaa yang mencurigakan dari yang Runi lakukan. Belum ada titik terang dari usaha yang ia lakukan.
"Baiklah. Kumpulkan mereka di aula!" ucap Briel tegas. Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Adam bergegas untuk mengumpulkan semua anak buah yang akan mereka kerahkan.
"Berpencar! Cari di manapun, saya tidak mau tau. Temukan istri saya segera, bagaimanapun caranya!" perintah Briel tatkala semua anak buahnya berkumpul di sana.
"Baik, Bos!" jawab mereka serentak.
Mereka semua langsung berpencar ke mana pun yang mempunyai peluang besar Gea kunjungi. Briel pun turut langsung pergi dengan mobil kesayangannya.
"Bos kita berpencar saja."
Briel mengangguk ia setuju dengan Adam. Semakin banyak yang berpencar, semakin besar pula kemungkinan untuk menemukan Gea.
Mereka masuk ke dalam mobil masing–masing. Mereka telah membagi ke arah mana saja mereka akan mencari Gea.
Briel memulai perjalanannya dengan pergi ke makam mama Gea. Ia telah mencari tahu semua kehidupan Gea yang masih sanggup ia telusuri, dan salah satunya makam mama Gea. Ia berjalan menuju tempat peristirahatan terakhir mama Gea.
Di sana ia melihat sebuah gundukan dengan nisan bertuliskan Annaya Christi. Briel tersenyum simpul sembari menatap sendu nisan itu. Briel berjongkok di sana. Ia memegang batu nisan itu dengan mengusap perlahan batu itu.
"Ma, maaf. Setelah sekian lama aku menikah dengan Gea, belum pernah sekalipun Briel mengunjungi Mama. Bahkan Briel menikahi Gea tanpa meminta doa restu Mama."
Briel berhenti sejenak. Ia mengingat peristiwa di mana ia menikahi Gea secara paksa. Ia tersenyum simpul. Karena peristiwa itu, ia bisa memiliki istri seperti Gea.
Ia merapalkan doa untuk mama Gea. Selesainya berdoa, Briel menatap sendu batu nisan itu.
"Ma, doakan Briel. Bantu Briel dengan doamu, Ma. Briel ingin menemukan Gea dan membawanya kembali. Briel ingin bersamanya seumur hidupku, sebagai pasangan suami istri, sampai maut memisahkan kita berdua."
__ADS_1
Briel memejamkan matanya sembari menunduk. Cukup lama ia berada di sana. Ia mencium nisan itu. Kemudia Briel berkata, "Ma, Briel pamit. Nanti Briel akan datang ke sini lagi, bersama anakmu, Gea."
Setelah berpamitan, Briel beranjak pergi dari sana untuk mencari Gea.
🍂
Briel mengingat–ingat jalan yang pernah ia lalui bersama Gea. Ia mengingat waktu itu dia menghampiri tukang soto yang berjualan di pinggir jalan. Dan pas, ternyata tukang soti keliling itu ada di sana. Briel memarkirkan mobilnya. Ia ingin mengisi perutnya yg kosong karena belum sempat sarapan.
"Kang Abdi, soto satu."
"Siyap, Kang." Kang abdi menyiapkan semangkok soto untuk Briel.
"Loh kok sendirian Kang? Kemana atuh Neng Gelisnya?"
Briel mengulas senyum tipis. Pertanyaan Kang Abdi menjawab pertanyaannya seketika sebelum ia bertanya. Sebelumnya ia ingin bertanya mengenai Gea. Namun pertanyaan Kang Adbdi telah mengungkap jawabannya.
"Dia keluar sebentar, Kang. Makanya saya sendirian."
Kang Abdi hanya mengangguk–angguk kemudian melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Begitupun juga dengan Briel. Ia mulai menyantap semangkuk soto yang telah berada di depannya itu.
🍂
Hari telah berganti malam. Briel pulang tanpa membawa hasil. Sesampainya di markas, ia teringat harus mengambil dokumen penting yang ada di rumah utama. Ia kembali melajukan mobilnya menembus jalanan gelap yang mulai sepi. Hanya ada lampu jalan yang menerangi jalanan itu.
🍂
Sesampainya di kamar, Briel merenung sembari terlentang di atas ranjang. Tangannya ia gunakan sebagai bantal. Pikirannya melayang pada peristiwa beberapa saat lalu tatkala ia berada di rumah kedua orang tuanya.
Briel berhenti sejenak. Ia menatap kedua orang tuanya sekilas kemudian berlalu begitu saja. Namun langkahnya terhenti ketika Frans memanggilnya. Tatapan wajahnya serta nada bicaranya masih sama. Datar.
"Waktumu tinggal 2 hari lagi. Jika kamu tidak bisa membawa dia kembali, maka perjanjian kita akan berlanjut."
Briel tersenyum miris. Briel membalikkan badannya menghadap ke arah kedua orang tuanya berada.
"Akan Briel tepati. Namun tidak semudah itu Briel menyerah!" tekat Briel. Ia pasti bisa menemukan Gea, meski ada keraguan karena sampai detik ini keberadaan Gea belum diketahui. Tapi jika waktu masih ada kenapa tidak? Begitulah pikir Briel.
"Buktikan!"
Tanpa berlama–lama, Briel pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya menatap punggung Briel tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Perkataan Frans terngiang dalam benaknya. Ia harus segera menemukan Gea. Padahal waktu untuk menemukan Gea tinggal tersisa 2 hari lagi.
__ADS_1
Briel mendesah kasar. Ia tak tau kemana lagi ia harus mencari Gea. Terlalu larut dalam sebuah pikiran, membuat Briel terlelap.
🍂
"Yah …" panggil Tere pada Frans yang mulai memejamkan matanya. Namun Frans hanya bergumam untuk merespon panggilan Tere tanpa mau mendengarkan Tere lebih lanjut.
"Yah …!" panggil Tere lebih keras.
Mau tak mau Frans harus membuka matanya. Ia menengok ke arah Tere dengan tidurnya yang terlentang.
"Ada apa, Bun?" tanya Frans dengan sabar. Ia ingin mengetahui keinginan sang istri.
"Yah … kamu gak kasihan dengan Briel?"
"Sudahlah, Bun. Biarkan dia bertanggung jawab dengan kondisi yang telah ia ciptakan sendiri. Ikuti saja permainan ayah."
Frans tersenyum. Ia memang sengaja melakukan ini semua demi kebaikan Briel. Namun sesuai perjanjiannya dengan Briel, Briel harus bertanggung jawab sesuai apa yang Briel setujui.
"Salah siapa main petak umpet?" batin Frans yang tidak akan pernah terima jika ia disalahkan atas peristiwa ini. Frans termasuk tipikal ayah penyayang, namun dia juga ayah yang cukup jahil dengan anaknya.
Tere dirundung kebimbangan. Ia sangat mengasihani anaknya. Ia tak mau Briel seperti itu, namun satu sisi ia setuju dengan suaminya. Kondisi ini tercipta karena ulah Briel sendiri.
Frans yang mengerti kegelisahan istrinya berusaha menenagkan hati istrinya itu.
"Sudahlah, Bun. Jika mereka berjodoh, mereka pasti juga akan bertemu. Percaya saja, Bun. Nama keluarga kita Yohandrian. Akan ada kisah dibalik kisah cinta dari kita dan keturunan kita, Bun."
Tere pun akhirnya mengangguk. Ia akhirnya tersenyum. Ia mendekat ke arah Frans untuk memeluk suaminya itu. Mereka terlelap di dalam mimpi yang menjadi sebuah bunga tidur.
🍂
//
Dudududu 💃 bagaimana? 🤭 sudah mulai terungkap satu persatu ya... 😀🤗
Terimakasih untuk kalian semuaa 🤗🤗
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕