
Sampailah mereka di indekos Runi. Bunyi kunci terbuka terdengar tatkala Runi membuka pintu kamarnya. Dahulu di awal bekerja, Runi pernah diajak Gea untuk serumah kontrakan dengannya. Namun Runi tidak mau karena ia tak sanggup jika harus menggunakan sebagian gajinya untuk membayar biaya kontraj yang tentunya lebih mahal dibandingkan dengan menyewa indekos. Ia juga harus membantu ibunya untuk menyekolahkan satu adiknya yang masih SMP. Dan di saat Gea menyuruhnya untuk membayar sesuai yang Runi bisa atau bahkan tidak usah membayar, Runi tidak mau. Karena ia tidak mau merepotkan Gea.
"Akhirnya aku main ke kosanmu lagi hari ini!" ucap Gea sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
Runi mengeluarkan beberapa camilan yang sebelumnya mereka beli di mini market terdekat.
"Nih!"
Runi memberikan sekotak minuman dingin untuk Gea. Gea menerimanya dan langsung meminumnya.
"Aahh …." Puas dan lega Gea rasakan. Rasa dahaga yang menyerang pun seperti hilang dalam sekejab.
"Makasih Run."
Runi hanya bergumam dan mengangguk dengan mulut yang mulai menyedot minuman dingin itu.
"Kamar kosmu gak berubah ya Run." Gea memutar kepalanya mengamati setiap sudut ruangan.
"Ya beginilah. Mau dirubah seperti apa saja tidak akan berubah. Kan bukan milikku."
"Benar juga sih …."
"Haihh … kamu ini ada–ada saja, Gey," ucap Runi sambil menggeleng pelan.
"Gey?"
"Hem?" sahut Gea yang masih menyedot minuman itu. Runi hanya menatap Gea tanpa mengucap sepatah katapun. Sorot matanya menginginkan penjelasan lebih tentang apa yang telah dijanjikan oleh Gea.
"Sabar sahabatku, Sayang! Aku mau makan sebentar. Bercerita itu membutuhkan banyak energi," ucap Gea sambil membuka bungkus camilan yang mereka beli.
"Okaylah …. Ini Geaku sayang." Runi mengambil camilan itu lalu menyuapi Gea. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dengan senang hati Gea memakan camilan itu dari tangan Runi.
Gea menghela napas panjang. Deru napasnya terdengar di telinga Runi. Ia meletakkan makanan ringan yang ia pegang. Ia menatap Runi dengan tatapan yang memelas.
"Harus cerita ini?" Gea ragu untuk menceritakan apa yang ia alami sebenarnya.
Runi mengangguk dan menggeleng sekaligus. Hal itu membuat Gea bingung.
"Yang benar yang mana Run?" Gea menuntut jawaban yang jelas dari sahabatnya itu. Runi membalasnya dengan bibir yang mulai tertarik ke atas.
"Ya terserah kamu Gey. Kalau kamu mau cerita ya aku dengarkan. Siapa tahu kan bisa membuatmu lega dan berkurang bebannya walaupun aku belum tentu bisa membantumu. Tapi kalau tidak mau bercerita ya tidak apa. Itu hak kamu untuk mempertahankan privasimu." Runi tidak mau memaksa Gea untuk bercerita. Ia menghargai sebuah privasi yang tidak sembarang bisa ia paksa untuk ia ketahui.
Gea menundukkan kepalanya. Lagi–lagi Gea menghela napas panjang.
"Aku akan bercerita." Gea menatap Runi.
"Ceritakanlah! Aku akan mendengarkanmu."
Gea terdiam sejenak. Ia mengumpulkan energi untuk bercerita.
"Aku menikah, tapi bukan dengannya."
__ADS_1
Gea enggan menyebut nama Davin dengan bibirnya. Rasa sakitnya telah membuat sedikit rasa benci muncul di hatinya. Gea diam untuk melihat bagaimana respon Runi. Ia melihat keheranan di wajah Runi, seakan tidak percaya dengan apa yang ia alami. Ekspresi wajahnya itu seperti mengucapkan kata; kok bisa?
"Iya. Di saat itu, ternyata dia membawa selingkuhannya untuk ia nikahi. Mereka menikah di depan mataku. Dia telah mempersiapkannya dengan baik. Sakit Run, sakit! Apalagi aku mengenal wanita itu. Bahkan dia adalah orang terdekat yang membenciku."
Gea tertawa. Namun suara tawanya terdengar pilu dan begitu miris. Hambar, tak ada rasa bahagia walau ia tertawa. Ia menertawakan kejadian menyedihkan yang ia alami. Runi menatap Gea sendu. Namun ia tak berniat untuk memotong Gea yang tengah bercerita.
"Di saat mereka mengucapkan janji suci, aku pergi dari sana. Dan di saat itu, aku bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suamiku. Dia menyelamatkanku saat aku hampir saja mati tertabrak mobil. Setelah itu, Ia menarikku lalu aku dibawa ke altar. Dia menikahiku tanpa mendengarkan penjelasan dariku, siapa aku sebenarnya. Ia langsung menikahiku begitu saja. Dan aku tidak tahu apa motif dan tujuannya. Aku yang sedang kalut, tak bisa melakukan apapun lebih jauh. Pikiranku tidak jernih."
Gea berhenti sejenak. Ia meminum kembali minuman dingin itu. Tidak ada lagi tangis di wajahnya. Hanya kesedihan dan rasa sakit yang terpancar di setiap sorot matanya. Runi ikut merasakan rasa sakit itu.
"Yeah … tapi untungnya walaupun aku tidak mengenalnya, dia baik padaku. Meski aku belum mengenal dia dan dia juga belum mengenal diriku."
Runi lega. Walaupun salah dinikahi orang, namun sahabatnya ini dinikahi oleh pria yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan bagaimana nanti ke depannya, karena ia juga belum mengenal seperti apa suami Gea.
"Gey …." panggil Runi.
"Hem?"
Runi merentangkan tangannya. Gea menghambur ke pelukan sahabatnya itu. Nyaman ia rasakan tatkala tangan Runi mulai mengelus pelan punggung Gea. Perlakuan Runi memberikan energi positif baginya untuk menjalani ini semua dengan ikhlas.
"Yang sabar Gey. Maaf, aku hanya bisa mendengarkanmu tanpa bisa memberimu sebuah solusi." Runi berbicara dengan penuh penyesalan. Ia tak bisa berbuat apa–apa kecuali menjadi tempat untuk dia bercerita.
"Astaga Run, tidak apa. Aku sudah bahagia kamu mau mendengarkanku. Lega rasanya Run."
Gea bersyukur memiliki sahabat seperti Runi, yang mau menemaninya di segala situasi. Baru kali ini ia menemukan sahabat seperti Runi. Mereka melepaskan pelukan mereka.
Runi menatap Gea dengan antusias. "Apakah dia seumuran dengan kekasihmu?" Ucapan Runi membuat Gea menatap Runi degan malas.
"Eh maaf, maksudku, apakah dia seumuran dengan mantanmu?"
"Dia lebih tua beberapa tahun kayaknya Run. Dia juga lebih dewasa secara sifat dan sikap. Terlihat dari bagaimana ia memperlakukanku."
"Ehemm …. Perlakuan apa ya ini?" goda Runi.
Gea menabok Runi. Runi pun mengaduh kesakitan.
"Jangan mikir kejauhan!"
Runi malah tertawa melihat ekspresi Gea yang kesal dengannya.
"Lalu bagaimana kamu memanggilnya? Kan sebelumnya kamu memanggil mantanmu dengan nama saja," tanya Runi penasaran.
"Abang."
"Abang?"
"Iya abang. Aku memanggilnya dengan sebutan 'abang'."
Seketika tawa Runi pecah. Ia tidak habis pikir dengan satu sahabatnya ini. Kenapa harus 'bang'? Kenapa nggak 'kakak' atau 'mas'? Itu yang dipikirkan oleh Runi.
"Apanya yang lucu Run?" tanya Gea tak mengerti.
__ADS_1
"Ya kamu lucu ah. Itu suamimu Gey, bukan tukang bakso atau tukang becak maupun ojol," ucap Runi yang masih tertawa.
Runi masih berusaha meredam tawanya.
"Hahh …. Hah …. Mending kamu panggil dia 'kakak' atau 'mas' saja deh. Geli tahu Gey kalau aku sampai mendengarnya."
Lagi–lagi Runi tertawa membayangkan Gea memanggil suaminya dengan sebutan 'bang'. Gea yang ditertawakan terus pun akhirnya kesal. Ia melempar sebuah bantal ke arah Runi. Dengan sigap Runi menangkap bantal itu.
"Ya kan ada alasan tersendiri aku panggil dia dengan sebutan 'bang', Run. Pertama karena dia jauh lebih tua dariku jadi aku gak mau memanggilnya nama. Kedua, sebutan 'kakak' udah aku gunakan untuk seseorang yang sudah kuanggap kakakku dan maaf Runi, kamu belum saatnya tau." Gea tertawa mengejek tatkala melihat wajah Runi yang penasaran siapa orang itu.
"Dan yang ketiga, sebutan 'Mas' terlalu romantis untuk orang yang sudah menikah ataupun memiliki hubungan spesial kecuali keluarga. Aku belum membuka hatiku, Run. Yeahh ... Mungkin kalaupun sudah ya baru sedikit, belum lebar. Karena aku masih takut dikecewakan dan belum siap merasakan rasa sakit kembali ketika suatu saat nanti ia menghianatiku."
Gea melihat Runi yang menatapnya penuh belas kasihan. Ia tak mau dikasiani oleh siapapun.
"Jangan tatap aku seperti itu. Aku bercerita bukan untuk dikasihani." Gea meraup muka Runi. Hal itu membuat Runi kesal.
"Lalu kapan kamu akan memanggilnya dengan kata sayang?" tanya Runi penasaran.
Ia pun membereskan sling bag–nya.
"Gak tahu ..." jawab Gea santai. Ia juga tidak bisa memastikan apakah dirinya berhasil membuka diri atai tidak di kelak kemudian hari.
"Sudah ah …. Aku harus pulang. Aku lupa belum ijin suamiku Run."
"Loh, cepat sekali? Ini masih sore Gey, belum malam. Kan kamu bisa mengabarinya lewat gawaimu Gey. Nanti aja pulangnya ya," bujuk Runi.
"Masalahnya, aku lupa belum meminta nomornya Run." Gea menampilkan deretan gigi putihnya.
Runi menggeleng, "Astaga Gey, istri kok gak punya nomor suaminya."
"Ya kan namanya juga lupa kan tidak ingat Run," ucap Gea kemudian terkekeh. Runi hanya menatap Gea dengan tersenyum.
"Ya ya ya ….. Yaudah hati–hati di jalan ya, Gey!"
"Okay Run. Papai... " pamit Gea.
Gea menaiki ojek online yang sebelumnya ia pesan.
🍂
//
Sudah terjawab ya kenapa Gea memanggil Briel dengan sebutan abang–abang 😁
Terimakasih bagi yang masih setia menunggu dan juga pada kalian yang baru membaca. Terimakasih atas dukungannya 😘😘
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
jangan lupa bahagia 💕💕