
Sepulang dari mall, Dela memilih pulang ke rumah Edi. Ke apartemen juga percuma. Dia hanya di sana sendirian. Davin hanya pulang jika telah larut malam. Mau ke club juga percuma, hari masih siang. Di rumah papinya itu lebih terjamin. Ada pembantu yang menyiapkan segala sesuatunya.
Dela menghempaskan badannya ke sofa yang ada di ruang tengah. Ia menghela napas lantaran udara di luar sana begitu panas. Ia lega, akhirnya di dalam itu merasakan kesejukan yang membelai permukaan kulitnya.
"Hei hei hei! Kamu siapa? Tidak ada permisi tidak ada sopan santun, senaknya saja masuk rumah orang!"
Seorang asing datang menghampiri Dela dengan wajah yang tidak bersahabat. Bahkan ia menunjuk nunjuk Dela dengan tekunjuk tangannya.
Seketika Dela menegakkan tubuhnya, menatap seorang wanita paruh baya dengan mata yang menyipit.
"Siapa ini tanteโtante, sudah lancang norak lagi," gumamnya dalam hati. Dela menatap wanita itu dari atas hingga ke bawah lantas kembali lagi ke atas berulang kali. Tatapannya begitu sinis melihatnya.
"Siapa Anda siapa saya? Harusnya saya yang bertanya seperti itu pada Anda! Keluar dari rumah saya!"
Dela tak terima mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Ooo kamu belum tahu ya? Rumah ini telah berpindah kepemilikan menjadi milik saya."
Wanita itu mempertahankan apa yang telah menjadu miliknya. Syok, itulah yang Dela rasakan. Ia ternganga mendengar apa yang tidak mau ia dengar itu.
"Tidak mungkin. Ini rumah saya. Lagi pula papi saya tidak pernah memberitahuku. Rumah ini masih milik kami. Tunjukkan buktinya!"
Wanita itu tersenyum sinis meremehkan. "Oke, akan saya ambilkan sertifikat rumah ini!"
Tak lama kemudian wanita itu datang menyerahkan sertifikat rumah yang telah berganti kepemilikan. Rahang Dela ternganga lebar membaca nama yang tertera di sertifikat itu.
"Tiโtidak mungkin," gumamnya sembari menggelengkan kepalanya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan itu.
"Bagaimana? Saya benar bukan?" ucapnya penuh dengan kemenangan.
"Pintu keluar ada di sana atau mau diberi pelayanan khusus sama satpam saya?"
__ADS_1
Tak punya pilihan lain. Dela keluar dari rumah itu dgn perasaan marah sekaligus malu.
๐
"Pi! Kenapa rumahnya dijual sih Pi?!"
Dela menghampiri Edi ke kantor. Ia masuk ke dalam ruangan Edi tanpa mematuhi prosedur yang ada, main masuk ke ruangan tanpa ada sedikitpun sopan santun, minimal sebagai anak kepada orang tua.
"Papi tidak memiliki pilihan lain. Perusahaan ini telah bangkrut dan rumah itu papi jual untuk membayar gaji karyawan."
Dela menganga tak percaya melihat semua yang terjadi.
"Tapi kenapa harus jual rumah Pi? Papi pinjem uang ke teman Papi atau ke mana gitu kek!" protesnya. Dela berpikir harusnya masih ada jalan lain selain jual rumah dan ia yakin juga aset yang dimiliki Edi. Bukankah teman Edi itu banyak, begitu pikirnya.
"Mereka semua hilang satu persatu, tidak ada yang mau membantu papi," ucapnya dengan lesu.
"Usaha dong Pi bagaimanapun caranya!"
"Aaargh ya sudah aku mau pulang!"
"Dela ..."
"Apa?!" jawabnya ketus.
๐
Di sinilah Edi sekarang, di depan apartemen milik Briel. Ia menyiapkan hati untuk menekan bel itu. Malu baginya kala ia harus meminta bantuan Briel dan juga Gea yang selama ini tidak ia pedulikan bahkan Gea pernah ia buang.
Edi menghirup napas dalam lalu menghembuskannya kasar. Telunjuknya menekan bel apartemen itu.
"Papa?!" seru Gea kaget. Ia membawa papanya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Aku buatkan minum dulu ya Pa," ucap Gea dengan sebelah tangan yang membelai perlahan perutnya yang buncit itu. Edi mengangguk mengiyakan.
"Loh Papa. Sejak kapan Papa sampai di sini?" ucap Briel yang berjalan dari arah kamar.
"Belum lama." Sebuah senyuman terukir jelas di wajah Edi. Senyum itu masih terbalut dengan kesedihan.
"Apa yang sebenarnya terjadi Pa?" tanya Briel.
Gea yang membawa secangkir teh pun menyerahkannya pada Edi. Edi menyeruput teh hangat itu sedikit. Edi dia sejenak, menarik napas dalam. Ia menceritakan apa yang ia alami.
"... dan Dela menolak Papa untuk ikut tinggal bersamanya." Hatinya terluka melihat bagaimana sikap Dela terhadapnya. Ia sadar, mungkib inilah yang disebut karma.
"Papa tinggal bersama kami dahulu. Lagi pula resepsi pernikahan kami akan dilangsungkan sebentar lagi juga. Iya kan Gey?" Briel meminta persetujuan dari Gea.
"Iya bener Pa," ucap Gea sembari tersenyum.
Lega sekaligus terharu. Ia diterima oleh anak yang sebelumnya ia buang begitu saja. Ia mulai menyesali kembali perbuatannya di waktu lalu.
๐
"Arrghh sial. Bukannya untung tapi buntung kalau aku juga menampung papi yang sudah gak berguna itu," omel Dela sembari membukaโ pintu apartemennya itu.
Ia memijat mijat ringan pelipianya yang terasa berat.
"Apa ini?" ucapnya kala melihat sesuatu di atas meja.
๐
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia ๐๐