
"Tetap pada posisinya ... Satu ... Dua ...Ti... Yak"
Seorang fotografer yang mereka percayai tengah memegang sebuah kamera berkualitas tinggi. Tangan sekaligus gerakan badannya menunjukkan seberapa tinggi keahlian dan keahlian fotografer itu. Ia mencari dan mengambil foto dari berbagai sudut pandang untuk menghasilkan sebuah karya yang estetik dan berkualitas.
Kedatangan rombongan Briel memang terlambat, namun sesampainya di sana, cru dan fotografernya telah selesai memasang peralatan yang menunjang pemotretan pada hari itu. Lagi pula mau bagaimanapun ulah Briel dan juga Gea, mereka tidak berani berkomentar ataupun membantah. Mereka semua adalah anak buah Briel.
"Ganti pose berikutnya," ucap seorang fotografer itu.
Tanpa mengatakan banyak hal, mereka mengikuti arahan sang fotografer. Lagi pula mereka tidak begitu ahli dalam dunia perfotoan.
"Yap sudah, Bos dan Nyonya Bos bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum pengambilan gambar berikutnya."
Fotografer itu mempersilahkan mereka untuk beristirahat. Selain untuk mereka, sang fotografer juga perlu melihat hasil bidikannya untuk mengevaluasi bagaimana hasilnya. Jika ada kekurangan, ia terbiasa untuk memperbaikinya di sesi berikutnya.
"Aahhh panasnya," ungkap Gea.
Gea menyadari jika dirinya terpapar sinar matahari langsung. Gea menengadah lantas berpindah ke bawah bayangan pohon yang melindungi merka. Sebisa mungkin ia menjauhkan anaknya dari paparan sinar matahari secara langsung. Sudah cukup mereka terpapar saat pengambilan gambar sesi sebelumnya. Moodnya sudah hancur lantaran kesalahannya dalam memilih keputusan yang sebelumnya memang sudah ia anggap benar.
"Bayang! Jangan sampai Nino kepanasan Bayang."
Gea mulai sewot lagi. Jiwa over protektifnya nyatanya membuncah begitu aktif dalam dirinya, tidak membiarkannya tenang kala kedua buah hatinya itu dia rasa dalam keadaan yang kurang aman bahkan dianggap berbahaya.
Seketika itu juga Briel dibuatnya melongo namun juga tertawa kala melihat ekspresi Gea yang begitu kesal padanya.
"Sinar matahari pagi ini masih hangat, Sayang. Masih bagus untuk kesehatan mereka dan kita semua. Lagi pula ini masih jam 8 kurang. Tidak apalah."
Briel menjelaskannya dengan lembut. Sinar matahari masih bermanfaat bagi kesehatan sampai batas pukul sembilan pagi. Sebenarnya ia tahu jika Gea juga tahu akan hal itu. Namun tidak salah bukan memberikan pengertian lebih pada Gea yang dilanda kekhawatiran.
"Hmmm" gumam Gea.
Tanpa menjawab dengan satu kata sedikitpun, Gea memalingkan wajah, menatap ke arah lain. Ia kesal, namun ia juga mengakui jika apa yang Briel utarakan itu 100 persen benar.
Briel terkekeh. Ia tersenyum melihat bagaimana sikap Gea. Ia menggeleng pelan.
"Sayang, jangan ngambeg ya ..." bujuk Briel. Ia menggenggam sebelah tangan Gea beeharap Gea luluh padanya. Menyalurkan suatu keyakinan yang berharap mampu membuat Gea yakin akan dirinya.
__ADS_1
Namun ternyata, Gea masih bertahan dalam keterdiamannya. Bukan kesal tapi kini ia masih enggan saja.
"HeEmm" Gea menarik tangannya dari jangkauan Briel.
"Dini, bawakan ke sini botol ASI untuk mereka." Bukannya merespon Briel, ia malah sibuk dengan yang lainnya. Anaknya membutuhkan ASI karena Rio sudah mulai rewel. Sebelum pergi, Gea telah memompa ASInya untuk persediaan mereka.
"Iya Nyah ... Ini Nyah." Secepatnya Dini memberikan dua botil ASI.
Gea menerimanya lantas memberikan aatu botol lagi pada Briel tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Briel menerimanya. Tentunya dengan senyuman geli yang masih tersemat di wajahnya. Duo kembar itu menghabiskan ASInya cukup cepat lantaran mereka juga kehausan.
"Sayang–"
"Bos, Nyonya Bos, mari kita lanjutkan sebelum matahari semakin terik."
Ucapan fotografer menginterupsi ucapan Briel. Ia sadar akan waktu yang terus berjalan. Sesi pemotretan dibagi menjadi beberapa sesi. Dan ini masuk ke sesi kedua. Briel dan Gea kompak menatap fotografer itu.
Gea mengangguk. Lantas ia meminta botol ASI yang sudah kosong itu pada Briel. Ia memberikannya kembali pada Dini untuk disimpan kembali.
"Baiklah, lebih cepat lebih baik," sahut Briel.
"Bayang, bau sesuatu tidak?" tanya Gea. Hidungnya mengendus–endus. Ia mencium bau kotoran bayi. Bau itu begitu fresh.
Briel mengendus dan ia juga menghirup bau yang sama.
"Iya betul. Apa Nino pup ya?"
Dengan gesit, Briel mengecek celana Nino. Dan benar saja. Sekumpulan harta karun terlihat di popok yang Nino pakai.
"Aaa adek Nino pup beneran ya," ucap Briel. Sedangkan Rio pun tertawa, seakan menertawakan Nino yang buang air besar sembarangan. Ekspresinya sangatlah imut. Hingga membuat Briel gemas dan mencubit gemas kedua pipi Rio. Sang fotografer yang melihat pemandangan hangat di depan matanya itu mengabadikan momen itu. Ia tidak ingin melewatkan momen yang tidak akan bisa diulang 2 kali.
"Sempurna," ucapnya kala melihat beberapa foto yang berhasil ia ambil.
Dengan sigap, Gea membawa Nino ke toilet yang tidak jauh dari sana. Ia ingin membersihkan Nino terlebih dahulu sebelum sesi pemotretan berlanjut. Dini mengekor di belakang Gea.
🍂
__ADS_1
Setelah beberapa waktu, aktivitas mereka telah selesai. Pemotretan berjalan dengan baik meski ada beberapa kendala. Ternyata gaun yang dipakai Gea terkena air pipis Nino, membuatnya harus berganti pakaian. Alhasil dari pemotretan itu, sesi terakhir, pakaian yang mereka kenakan tidaklah seragam.
"Masih ngambeg ni jadinya?" tanya Briel pada Gea yang saat ini masih belum mau menatapnya. Mereka telah berada di perjalanan menuju pulang. Gea menatap arah luar jendela yang saat ini lebih menarik baginya.
"Mana ada?" jawab Gea singkat. Ia hanya menatap Briel sekilas lantas kembali asyik dengan aktivitas sebelumnya.
"Itu ngambeg," tuduh Briel dengan sedikit godaan.
Gea menghirup udara dalam lantas menghembuskannya cukup kasar.
"Gak!" Sebuah senyum tipis terukir di wajah Gea. Niat ingin diam, namun ia tidak tahan melihat wajah Briel.
Gea memang tidak lagi ngambeg. Hanya saja moodnya memang sudah terlanjur ambyar. Itulah kenapa ia memilih untuk diam dan memilih menikmati perjalanan itu untuk mengembalikan suasana hatinya.
Pada akhirnya Briel memberikan waktu, membiarkan Gea dengan diri Gea sendiri. Sedangkan dirinya sendiri memilih bermain dengan Rio di pangkuannya. Dini dan juga Samsul hanya menguping pembicaraan mereka.
"Astaga ... bisa–bisanya dia tertidur," ucap Briel dengan gelengan kepala pelan. Briel menatap ke arah Gea yang matanya masih terpejam, terlelap dalam tidurnya. Begitupun dengan Nino yang juga terlelap dalam gendongan Gea. Berbeda dengan Rio yang masih terjaga seperti ayahnya.
"Pak Samsul, tolong bawa Rio ke dalam," titah Briel pada Samsul. Ia memindahkan Rio dari gendongannya pada Samsul. Briel beralih menatap Dini.
"Tolong ambil Nino dari gendongan Gea dan bawa juga Nino ke dalam. Hati–hati, jangan sampai mereka terbangun," titah Briel lirih.
Dini mengangguk, "Baik Tuan."
Dini menggumamkan kata yang membuat Nino tetap nyaman kala ia mengambil Nino dari dekapan sang ibu. Sebentar Nino merengek lantas kembali terlelap. Mereka membawa duo kembar ke dalam. Hari yang melelahkan untuk anak yang baru saja keluar dari sarangnya.
Setelah melihat mereka masuk ke dalam rumah, Briel beralih menatap istrinya yang terlelap. Briel tersenyum. Ia tahu jika istrinya itu kelelahan. Gurat wajahnya berbicara.
Briel merengkuh Gea dalam gendongannya. Hati–hati, agar Gea tidak terbangun. Nyatanya Gea itu seperti bayi yang tetap terlelap meskipun telah beralih dekapan.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻