
Mencari rujak di siang hari memang tidak sulit. Namun yang menjadi masalah adalah rujak es krim. Setahunya di daerah sana tidak ada yang menjual rujak es krim. Telinganya sendiri pun masih asing kala pertama kali mendengar ada makanan yang namanya rujak es krim. Membayangkannya saja ia tak mampu.
"Isss bagaimana rasanya es krim di rujak?" tanyanya pada dirinya sendiri. Bahkan ia ngeri membayangkan rasa anehnya.
Gaza berkeliling kampung menggunakan motor metik miliknya. Sejauh ia memandang, tidak ada satu pun penjual rujak yang mangkal di hari ini. Di tempat biasanya pun tidak ada. Penjualnya sedang pulang kampung, dan baru akan kembali beberapa hari kemudian nanti. Itu kata seseorang yang rumahnya dekat dengan tempat di mana penjual rujak berjualan.
"Astaga ke mana lagi aku carinya ya?"
Gaza berhenti di pinggir jalan. Ia melepas helm yang ia kenakan lantas ia letakkan di spion. Gawai yang ada di sakunya ia ambil. Tangannya sibuk mengetikan sesuatu. Ia mulai mencari apa itu rujak es krim dan mencari lokasi di mana ia bisa menemukan rujak es krim itu.
"Hah? Ternyata ini rujak es krim."
Gaza melihat bagaimana rupa rujak es krim di layar gawainya. Di lihat dari bentuknya saja Gaza tidak begitu yakin dengan rasanya. Bagaimana bisa es krim di campur dengan rasa rujak yang asam pedas manis.
"Hiii"
Membayangkannya saja membuat Gaza bergidik.
Gaza kembali memakai helmnya lantas memacu motornya membelah jalanan yang padat di tengah teriknya matahari yang menyengat kulitnya panas.
🍂
Seusai perjalanan yang panjang dan melelahkan, Gaza sampai di rumah kontrakannya. Di sana ia memarkirkan motornya langsung di teras rumah. Sayang jika motornya sampai kepanasan. Jok motornya bisa membuat pantaatnya melepuh karena terik matahari yang beradu dengan bahan sintetis.
"Ini rujaknya!" ujar Gaza.
Gaza meletakan rujak itu di atas meja. Terlihat sekali jika ia terpaksa membeli rujak es krim itu. Ia berniat mengecek es krimnya itu meleleh atau tidak setelah melakukan perjalanan yang cukup memakan waktu dan juga sengatan teriknya matahari di siang itu.
"Ke mana sih dia?"
Gaza celingukan mencari keberadaan Dela. Sudah beberapa waktu ia menunggu, Dela tak kunjung menghampirinya. Ia khawatir es krimnya akan benae–benar mencair.
"Woeey!!! Rujaknya!!!" Gaza berteriak memanggil Dela sekali lagi.
Tidak kunjung datang, Gaza pun pada akhirnya berjalan mencari keberadaan Dela. Ia menghela napasnya kasar kala ia melihat Dela yang tengah terbaring pulas dengan posisi tidur miring.
"Astaga malah tidur. Dela ... Dela ... Rujaknya itu sudah ada!"
Gaza berusaha membangunkan Dela. Namun bukan Dela namanya jika Dela cepat terbangun.
"Del ... Bangun Del..."
Sekali lagi Gaza mencoba membangunkan Dela, namun nihil. Dela tetap tidak mau bangun.
"DELA!!!" Kali ini Gaza berteriak. Ia terlampau kesal dengan ulah Dela.
Akhirnya usahanya berhasil. Dela menggerakkan kepalanya. Ia mulai terusik dengan suara Gaza yang mengganggu telinganya. "HmmmMM!!! Apaan ih?!" keluh Dela dengan mata yang semakin ia pejamkan.
__ADS_1
"Bangun! Keburu es krimnya mencair!"
"Biarin aja. Kau saja yang makan!" ujar Dela. Hanya itu yang diucapkan Dela. Dela berpindah posisi. Semula ia memiringkan badannya menghadap ke arah pintu, kini ia membelakangi pintu tempat di mana Gaza berdiri saat ini.
"Del!" panggil Gaza sekali lagi. Namun Dela memilih untuk mengabaikan Gaza. Ia menggunakan bantal untuk menutup telinganya agar suara Gaza tidak menggangunya lagi.
Gaza menghela napas kasal. Kedua tangannya kini pun berkacak di pinggang.
"Ini nih, ini! Menyebalkan. Jika tahu hanya akan ditinggal tidur, lebih baik aku tidur juga di rumah!"
Gaza menutup pintu kamar itu kembali dengan keras. Ia merasa usahanya tidak dihargai sedikitpun, bahkan terkesan dipermainkan. Hal itu membuat Dela yang ada di dalam kamar berjengit kaget. Matanya terbuka lebar seketika.
"Aaarrghh sial!!" ungkap Dela kesal. Tinggal sedikit lagi ia kembali terlelap, namun dibatalkan oleh ulah Gaza.
Dengan kekesalan yang menumpuk, pada akhirnya Dela pun bangun. Ia membenarkan ikatan rambutnya kasar lantas berjalan menyusul Gaza.
"Kau ya ... Bisa tidak sih tidak mengganggu tidurku kali ini?!" protes Dela. Kepalanya terasa pusing jika terbangun tiba–tiba seperti itu.
Gaza tersenyum miring. "Bisa juga tidak, tidak merepotkanku sehari saja?! Setidaknya hargai usaha orang lain!" ucap Gaza sarkas.
Bukannya peduli, Gaza memutar kembali posisi dengan posisi Dela yang sedari awal salah.
"Ya ya ya ... kan aku ngantuk, jadi tidur ya wajar. Lagi pula aku sudah tidak menginginkannya lagi." Dela berkilah.
Gaza tertawa sarkas. "Kalau itu prinsipmu, ya sudah, aku juga tidak bersalah."
"Apa?!"
"Hanya aku tidak mau makan rujaknya, kenapa marah sih? Sepele juga. Lagi pula kau juga bisa memakannya sediri atau dikasih tetangga gitu!" Dela tidak mengerti kenapa masalah sesimple itu bisa jadi besar. Tinggal bertindak sedikit saja beres.
Tidak ada jawaban lain. Gaza hanya menatap Dela tanpa ekspresi. Kali ini ekspresinya lebih menyeramkan dari yang biasanya. Tatapannya begitu mengintimidasi. Seketika membuat nyali Dela mengkerut.
"Iya iya makan!" ucap Dela terpaksa.
Dela menyerah. Jujur ia paling takut jika lawan bicara diam lantas menatapnya lurus dan tajam menusuk seperti itu. Rasanya seperti ingin dikuliti. Dela memang mudah terintimidasi terutama oleh seseorang yang ia sayang ataupun seorang pria yang ia kenal namun jarang melakukan hal itu padanya.
Wajah kusut terpampang begitu jelas. Dela menghentakkan kakinya di awal sebelum ia berjalan. Dela membuka bungkusan rujak itu. Es krim rasa vanilla itu telah mencair separuhnya. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuatnya eneg. Rujak itu bukan keinginannya. Ia hanya ingin menjahili Gaza semata.
"Cepat makan!" titah Gaza yang berdiri bersandar pada meja. Tangannya bersidekap di atas perutnya.
Dela ragu kala ingin memakannya. Cukup lama ia berdiam diri hanya dengan melihat rujak itu.
"Ooo belum ada sendoknya ya. Oke aku ambilkan sendoknya," tawar Gaza. Semakin lama ia semakin yakin jika Dela hanya ingin mengerjainya.
"Hahaha mau main–main dengan seorang Gaza hmm??" batin Gaza tersenyum puas. Ia tidak ingin mengalah jika berurusan dengan Dela yang berulah.
Gaza mengambil sebuah sendok lantas memberikannya pada Dela.
__ADS_1
"Nih, makan. Tunggu apa lagi?"
Gaza mengangkat sebelah alisnya melihat Dela yang masih terdiam dengan sendok yang kini telah berada dalam genggamannya.
Dela mengeluh dalam hati. Lagi–lagi dia sendiri yang kena batunya. Dela menghela napas kasar. Ia menyendok kan sedikit rujak yang sudah mencair itu lantas menyuapkan ke dalam mulutnya. Ragu ia mengunyah rujak itu. Rasanya memang tidak bersahabat di lidahnya.
"Gimana? Enak?" Gaza tersenyum miring, mencari sebuah pembenaran yang akan semakin memuaskan batinnya.
Dela melirik tajam ke arah Gaza. "Cih ... Begitu ya cara mainmu. Oke, aku ladeni..." gumam Dela dalam hati. Ia tersenyum licik. Tipis, hingga tak terlihat sedikitpun.
Dela mengubah ekspresinya. Wajah yang semula terpaksa, kini telah ia ubah seperti tengah menikmati rujak itu.
"Emmm enak dong, seger lagi ..." Dela bersandiwara, padahal di dalam batinnya menangis. Beberapa kali ia menyuapkan rujak ke dalam mulutnya untuk memperlihatkan betapa sukanya ia.
"Kena kau!" lonjak Gaza dalam hati. Gaza tahu jika Dela tengah bersandiwara.
Gaza mengangguk–angguk, "ya, syukurlah."
Seketika terlintas pembalasan di dalam benak Dela. Dela tertawa licik dalam batinnya.
Dela memurungkan wajahnya. "Tapi, sebenernya bayiku ingin kau menghabiskan rujaknya."
Gaza masih terdiam.
"Kata orang, permintaan ibu hamil jika tidak dituruti kelak anaknya bakalan ileran." Dela menundukkan kepalanya sedih.
"Jangan percaya! Itu hanya mitos! Palingan itu hanya akal akalanmu saja!" tuduh Gaza. Tidak ada rumus kedokteran yang menyatakan bahwa ngidamnya ibu hamil bisa membuat anaknya ileran jika tidak terpenuhi.
"Ta–tapi anak temannya Mami dulu begitu. Aku tidak mau anakku ileran." Dela semakin menundukan kepalanya. Ia tahu fakta itu namun ia tidak ingin mengakuinya.
"Mana ada begitu!" sangkal Gaza. Ia masih mencari seribu cara untuk berkilah.
Tidak menjawab lagi, kini Dela malah menangis. Benar–benae rajanya manipulatif. Air mata wanita adalah kelemahan Gaza. Gaza tidak bisa melihat wanita menangis di depannya.
Gaza menghembuskan napasnya kasar. Pada akhirnya dia melakukan permintaan Dela. Entah itu hanya sandiwara ataupun memang benar, itu urusan nanti.
Aaaa ... Gaza harus berurusan dengan makanan yang tidak pernah ingin ia makan. Ia menelan makanan itu terpaksa.
Sedangkan di dalam hati yang lainnya tengah bersorak sorai merayakan kemenangannya. Namun di sisi lain Dela merasakan hal yang tidak pernah ia rasakan. Rasa itu tidak terungkapkan. Tanpa ditutupi lagi kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Kali ini bukanlah sandiwara. Itulah ungkapan hatinya yang sesungguhnya.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1