Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
156. Pencarian Diberhentikan (Ayu)


__ADS_3

"Bagaimana dengan pencarian kalian?" tanya Briel dengan anak buahnya, Nichol dan beberapa orang yang lainnya.


Mereka semua tertunduk. Tak ada yang mengangkat kepalanya, kecuali Nichol. Nichol mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Wajahnya tampak lesu. Ia menggeleng lemah.


"Tak ada sedikitpun jejak yang kami temukan Bos. Semuanya rapi. Bahkan aliran sungai itu sudah coba kami telusuri, namun hasilnya tetap nihil," ungkap Nichol.


"Hari ini TIM SAR akan memutuskan untuk memberhentikan pencarian mereka. Mereka akan menyatakan bahwa Ayu telah hilang dan meninggal karena hanyut terbawa arus air yang deras," jelas Nichol lagi.


Briel menghembuskan napas kasar. Ia bergeming, tampak seperti berpikir keras. Ia melempar tatapannya dengan berdiri membelakangi mereka semua. Ada hal yang janggal ia rasakan. Seandainya Ayu hanyut, sudah seharusnya jasad Ayu akan ditemukan di sepanjang aliran air.


"Apa mungkin Ayu selamat?" celetuk Briel tiba–tiba. Jari telunjuknya mengelus jambangnya yang tumbuh halis di dagunya itu.


"Ada kemungkinan seperti itu. Namun tak ada jejak dan bukti yang nyata. Kawasan itu masih begitu alami dan sangat sulit untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Nichol.


Briel mengangguk–angguk ringan. Benar apa yang dikatakan Nichol tak mudah untuk mencari jejak di alam seperti itu. Tak terjangkau oleh teknologi.


"Cobalah untuk ke kampung atau desa sekitar, yang dekat dengan aliran sungai itu. Cari tahu keberadaannya," putus Briel. Ia berharap, ada seseorang yang menyelamatkan Ayu. Masih ada kemungkinan untuk selamat jika Ayu tak ditemukan di aliran sungai. Namun kabar buruknya, ada kemungkinan jasad Ayu dimakan oleh binatang buas yang ada di sana.


🍂

__ADS_1


Hari akan segera berganti. Matahari telah sampai di ujung barat. Cahaya jingganya terlihat begitu cerah menyillaukan mata yang memandangnya, namun terlihat begitu indah memukau. Apalagi seperti yang Gea lakukan saat ini. Melihat keindahan alami itu dari ketinggian, di balkon apartemen Briel, lebih tepatnya milik mereka.


Gea memejamkan matanya dengan seulas senyum itu terlukis indah di wajah Gea. Wajah berparas ayu itu terlihat begitu bersinar kala sinar jingga itu menerpa halus wajah mulus itu. Perlahan ia membuka matanya. Sepasang mata indah itu sedikit menyipitkan matanya, berusaha menyesuaikan silau jingga yang cukup menyilaukan matanya. Gea menatap jauh matahari yang perlahan mulai menyembunyikan dirinya itu.


"Bunda ... Jika waktu boleh diputar, aku ingin bertemu Bunda sebelum hari lahirku dan merekamnya dalam sebuah memory yang tak akan pernah pudar. Aku ingin memelukmu erat dan mengingat, bagaimana setiap hangatnya dekapanamu, bagaimana kasih sayang tulus dari seorang ibu kandung. Aku ingin bercerita panjang lebar dan mendengar nasihatmu yang panjang. Yang kata mereka, bisa membuat telinga panas," gumam Gea dalam hati.


Matanya masih terus menatap matahari itu, tanpa beralih sedetikpun. Ia tertawa kecil mengingat bagaimana keluhan teman–temannya akan begitu bawelnya ibu kandung mereka.


Yeahh ... Semuanya telah berlalu. Seandai bagaimanapun, Gea sadar. Ia tak akan pernah bisa kembali, ke masa di mana dirinya menginginkan hal itu diulang kembali.


Tak lama kemudian, ia mendengar suara derap kaki orang yang menghampirinya. Tangan besar itu membelai lembut surai panjangnya itu. Sebuha kecupan hangat mendarat di keningnya.


"Biasalah, melihat senja. Cantik Bang," jelas Gea tak sepenuhnya jujur namun tak ada kebohongan di sana.


Briel mengulas senyum tipis. "Ayo masuk. Udara semakin dingin," ajak Briel. Tanpa diperintah dua kali pun, Gea mengikuti apa mau Briel. Mereka berjalan beriringan.


"Bagaimana dengan Ayu, Bayang?" tanya Gea tiba–tiba.


Briel menghembuskan napas kasar. Ia menatap Gea lekat lantas menggeleng lemah dengan tatapan mata yanga sendu. Itu semua telah menjelaskan apa maksud Briel.

__ADS_1


🍂


Sementara itu di posko pencarian, Selly masih setia menunggu bagaimana hasil pencarian anaknya itu dengan hati yang was–was. Bahkan bagaimana nasib Kemal, tertutup sempurna oleh kekhawatirannya akan Ayu. Sampai petang menjelang, Ayu tak kunjung ditemukan.


"Bu, maaf. Kami tak berhasil menemukannya. Kami akan menyatakan jika anak ibu meninggal dan hilang terbawa arus sungai. Terima kasih," ucap mereka dengan nada yang begitu menyesal.


Seketika tangis Selly pecah. Ia meraung. Anaknya telah pergi. Ia tak bisa menerima kenyataan itu. Tak ada ibu yang rela kehilangan anaknya yang bahkan jasadnya saja tak bisa ia dekap untuk terakhir kalinya.


"Aaaaaaaa ...!"


Jeritan itu terdengar sebelum akhirnya Selly pingsan dan akhirnya di bawa ke rumah sakit terdekat.


Tbc


🍂


//


Happy reading gaeess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2