
Samsul menuruti ke mana Gea pergi. Seusai parkir, Gea turun dari mobil. Ia turun perlahan, menutup pintu mobil dengan santai.
Gea mengetuk kaca mobil dari seberang tempat duduk Samsul. "Pak tunggu di sini sebentar, ya, Pak. Paling lama mungkin setengah jam."
Samsul mengangguk mengiyakan.
Usai itu, ia duduk di sebuah kursi dari semen. Tidak lupa ia memakai pasmina yang sengaja ia bawa dari mobil yang kini mengalung di lehernya agar tidak ada yang mengenalinya, termasuk Dela. Pasmina itu tertinggal di dalam mobil kala ia pergi bersama dengan Briel beberapa waktu lalu.
Gea mengedarkan pandangannya. Ia menatap semua orang yang ada di sana. Semakin sore ternyata semakin ramai, berbeda dari beberapa waktu lalu kala ia bertemu dengan Dela di waktu yang lebih siang. Banyak anak dan orang tua yang hadir secara berpasangan untuk menikmati udara sore hari bersama. Ada pula anak muda yang menghabiskan waktu untuk berolahraga di sore hari. Tanpa sadar, senyuman begitu saja terukir di wajah Gea kala melihat banyak orang tersenyum, terlebih anak–anak yang kebanyakan mengumbar senyum di tempat bermain khusus untuk anak.
Gea kembali celingukan. Tidak ada tanda–tanda akan hadirnya Dela. Namun selama masih kurang dari setengah jam, ia masih akan tetap menunggu. Mungkin jika ia datang ke sana, ia bisa menemui Dela kembali.
"Tiga ... Dua ... Satu..."
Gea menghela napas kasar. Ia mendongakan kepalanya, mengalihkan tatapannya pada jarum jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Sudah habis waktu," ungkap Gea kecewa. Sesuai dengan keputusannya, ternyata ia tidak bisa menemui Dela di hari itu juga. Gea menghela napas, kali ini menghela napas panjang, mengeluarkan sisa–sisa kekecewaan yang masih ada di dalam dirinya.
"Baiklah, aku pulang. Kuharap kita bisa bertemu lagi," harap Gea. Ia memutuskan untuk menyudahi hari itu dan kembali ke mobil. Ia mengakhiri hidup di tengah keramaian untuk kembali ke habitatnya yang tidak banyak orang namun mampu membuatnya tersenyum seumur hidup.
Tanpa Gea sadari, ternyata ada Dela yang sejak tadi mengintip Gea di balik semak–semak. Ia tidak ingin bertemu dengan saudaranya itu. Ia masih belum siap. Terutama dengan mentalnya sendiri.
"Nah dari tadi gitu pulangnya," ungkap Dela jujur.
Dela memperhatikan gerak–gerik Gea yang punggungnya semakin jauh hingga hilang ditelan jarak. Setelah dirasa cukup, Dela keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kau kenapa?" tanya Gaza yang kini ada di belakangnya. Hal itu membuat Dela berjengit kaget.
Dela berdecak kesal. Ia memejamkan matanya sejenak menahan rasa kesal yang membuncah.
"Astaga ... Bisa gak sih gak buat kaget sesekali saja?" Dela menautkan alisnya garang. Bibir seketika maju beberapa centi ke depan.
"Siapa juga yang mengagetkanmu. Yang ada aku yang heran. Sedari tadi kau dipanggil tidak menyahut. Apa yang kau lihat?" tanya Gaza. Ia celingukan, menatap ke arah mana tatapan Dela tertuju, namun tidak ia temukan juga.
"Nah kan melamun lagi. Hei...!" ucap Gaza yang mengagetkannya lagi. "Apa yang kau lihat?" tanyanya sekali lagi. Dela menggeleng kencang. Ia memilih untuk bungkam.
"Ya sudah. Jadi tidak?" tanya Gaza. Mereka memang sengaja ke taman itu tiap 3 kali seminggu untuk mengikuti senam ibu hamil. Dan Gaza memang harus mengantar Dela setiap waktu.
"Jadi, jadi. Kau duluan, nanti aku menyusul," ucap Dela.
Gaza menghela napas. "Ya terserahlah," ucap Gaza. Ia kembali ke tempat dia menunggu semula.
Sepeninggalan Gaza, Dela melihat seorang penjual cilok. Entah mengapa, mendadak saja ia menjadi begitu ingin. Ia merogoh saku celananya, mencari selembar uang. Kali kan ia menemukan uang minimal 2 ribuan.
"Nah gini dong," ucapnya antusias. Lebih dari apa yang ia harapkan. Dela menemukan selembar uang 5 ribuan di sakunya. Katanya berbinar cerah. Ia memutuskan menyeberang jalanan sendirian.
__ADS_1
Dela menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menyeberang jalan. Setelah di rasa aman, ia menyeberang jalanan itu. Namun tanpa di sangka, ternyata ada dua anak umur remaja yang muncul dari tikungan, mengayuh sepedanya begitu cepat. Mereka seperti tengah berkejar–kejaran.
"KAK MINGGIR KAK, MINGGIR!!!" teriak bocah itu. Ternyata rem miliknya itu blong. Bocah itu tidak bisa mengendalikan sepedanya, sedangkan Dela tidak bisa lagi menghindar.
"NENG MENGHINDAR NENG!!" teriak sang penjual cilok yang melihat kejadian itu. Ia tidak bisa melakukan banyak hal lantaran jaraknya dengan Gea yang cukup jauh.
BRAK!!!
Bocah itu menabrak tubuh Dela. Dela yang tidak siap pun kini terjatuh dengan keadaan kaki yang terkilir.
"ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIIM!!!" teriak penjual cilok.
Mendengar teriakannya, banyak orang yang tertarik perhatiannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Sang penjual cilok berlari pada Dela yang kini terduduk dengan rintihan kesakitannya. Sedangkan yang lain menolong bocah remaja itu yang kakinya patah lantaran jatuh ke selokan yang cukup dalam. Sedangkan bocah remaja yang satunya mengayuh sepedanya untuk mengabari orang tua temannya itu.
"Astaga Neng, apa yang sakit Neng?" Sang penjual cilok berlari menghampiri Dela. Ia turut berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan Dela.
"EmmMMm ... Sakit, Pak." Dela merintih kesakitan. Ia melihat pergelangan kaki Dela membiru.
"Aduh gimana ini ..." Sang penjual cilok panik melihat keadaan Dela di depannya itu. Ia celingukan mencari bantuan, namun mereka yang ada di sana tidak tergerak juga untuk membantu. Mereka hanya mengerumuni keberadaan Dela.
Tiba–tiba saja ada yang membelah kerumunan.
"Ada apa ini bapak–bapak, ibu–ibu?" tanya seseorang yang tidak lain adalah Gea.
"Astaga Kakak," teriak Gea. Ia berlari menghampiri Dela.
"Kalian semua kenapa tidak ada yang membawanya ke rumah sakit langsung ha?" Gea murka. Dari sekian banyak orang, tidak ada satupun yang bertindak.
"Pak, tolong bantu saya membawa kakak saya ini ke mobil," ucap Dela pada sang penjual cilok.
"Baik, Neng." Ia mengangguk. "Kalian yang berdiri! Bantu saya angkat Eneng ini! Jangan hanya melihat saja! Hati nurani kalian tu ke mana?!" Sang penjual cilok juga turut memarahi mereka.
Setelah mendapat gertakan itu, baru mereka bergerak. Mereka membawa Dela masuk ke dalam mobil Gea.
"Pak sekalian anak itu saya bawa ke rumah sakit. Dia juga membutuhkan penanganan secepatnya," ujar Gea kala melihat bagaimana kondisi anak yang menabrak Dela itu.
Pada akhirnya Gea lah yang membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Ia begitu khawatir dengan kondisi mereka berdua yang sesama menahan sakit, terlebih pada kakaknya.
"Tunggu sebentar lagi ya... Pak Samsul, lebih cepat sedikit, Pak," ucap Gea khawatir.
"Iya, Nyah," jawab Samsul. Ia menambah kecepatannya agar cepat sampai di rumah sakit terdekat.
🍂
__ADS_1
Sedangkan di taman, Gaza bosan menunggu Dela cukup lama. Dela tak kunjung datang. Ia mulai gelisah. Ia khawatir jika Dela berulah lagi.
"Ke mana sih dia? Atau aku susul saja ya?"
Tidak tahan menunggu, Gaza mulai mencari keberadaan Dela. Dari kejauhan ia melihat banyak orang masih bergerombol. Ia bertanya pada orang yang lewat di sampingnya.
"Mbak, mbak, ada apa ya di sana?" Gaza menghentikan seorang wanita hanya untuk bertanya.
"Itu, Mas, ada orang tertabrak sepeda," jawabnya.
"Terus bagaimana keadaannya?" tanya Gaza penasaran.
"Tidak tahu. Mereka langsung di bawa ke rumah sakit terdekat sih."
Mendengar jawaban itu, Gaza sedikit terdiam, memikirkan seberapa parah lukanya.
"Maaf, Mas, permisi," pamitnya. Wanita itu terlihat terburu–buru.
"Ya silahkan."
Gaza kembali berjalan. Ia bertanya pada orang–orang yang di sana, namun tidak satupun melihat di mana Dela saat ini.
Hingga ia melihat seorang penjual cilok yang ada di pinggir jalan.
"Mang, tau orang ini tidak, Mang?" tanya Gaza pada penjual cilok itu.
"Woooo ... Mbak ini tadi di bawa ke rumah sakit, Mas!"
Seketika raut wajah Gaza berubah panik kala mendengar jawaban sang penjual cilok itu.
"Ah yang bener Mang?" Gaza tidak percaya begitu saja.
"Bener, Mas. Saya berani bersumpah," jawabnya yang sangat meyakinkan yang membuat Gaza yakin.
"Kapan itu, Mang?"
"Baru saja, belum lama. Dia dibawa ke rumah sakit terdekat," jelasnya.
Mendengar tutur kata dari sang penjual cilok, ia pun segera menyusul Dela, memastikan keadaan Dela.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻