
“Ibu ... Apakah Ibu tidak rindu padaku? Aku ingin memeluk Ibu. Peluk aku, Bu,” ucap seorang anak kecil berumur 5 tahunan, memohon.
Dini menatap anak kecil itu. Hatinya trenyuh mendengar kata "ibu" yang terucap dari bibir anak kecil itu. Ia tidak mengenalnya, namun ia merasa ada kedekatan dengan anak kecil itu.
“Kemarilah,” ujar Dini pada anak kecil itu tanpa ragu sedikitpun. Dini berjongkok dengan merentangkan tangannya. Anak kecil itu menghambur ke pelukannya. Hangat sekali rasanya. Nyaman. Tidak ada kenyamanan yang seperti itu yang ia rasakan selama di dunia ini. Kalau boleh, ia ingin memeluk anak kecil itu lama, seakan tak ada rasa puas.
Dini mengusap-usapkan pipinya di pundak anak kecil itu. Sampai-sampai ia tidak sadar jika buliran air bening itu berjatuhan dari matanya, membasahi pundak sang anak. Anak kecil itu tersenyum.
“Ibu ...” panggil anak kecil itu.
Dini mengendurkan pelukannya itu. Ia tatap netra anak itu. Netra itu berbinar, terlihat begitu bening dan suci. Lekat ia menatap anak itu, sampai-sampai orang di sekitar yang berlalu lalang tak membuat perhatiannya beralih. Ia tak malu menjadi pusat perhatian.
“Hmm,” gumamnya menjawab. Dini tidak tahu siapa anak itu, namun tidak ada kalimat protes yang terlepas. Ia nyaman dengan dengan keberadaan anak kecil itu.
“Bolehkah aku boleh bilang sesuatu padamu, Ibu?” tanya anak kecil itu serius.
Dini mengangguk lemah namun pasti. “Boleh. Apa?”
“Sungguh, aku kecewa padamu, Bu.” Anak kecil itu menatap Dini sendu. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang cukup besar.
“Kenapa? Ada yang salah sama ibu?” tanya Dini sedih.
Anak itu mengangguk mantap, tidak ada kebohongan sedikitpun. Matanya telah berbicara.
“Ibu ... tidak seharusnya Ibu membuat tante itu sedih. Ibu sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan aku. Tapi, Ibu malah membawa adik kecil itu untuk nenek jahat itu. Bagaimana kalau adik kecil itu hilang juga? Apa Ibu senang melihat tante itu menangis?”
Anak kecil itu menjeda ucapannya. Ia berdiam menatap Dini yang kini sesenggukan dengan wajah yang tertunduk. Hilang yang ia maksud adalah hilang nyawa.
“Aku pulang karena aku diinginkan sama Sang Pencipta. Sedangkan Adik Kecil itu, andaikan dia pulang, ia pulang bukan karena keinginan-Nya. Sudah pasti jiwanya tertolak, Ibu. Dan aku juga tidak tahu, di mana jiwanya itu akan di tempatkan.”
Anak kecil itu hening sejenak. Wajahnya tertekuk, sedih. Sedangkan Dini bergeming tanpa kata. Hanya suara isakan tangis yang semakin menjadi yang berbicara.
“Ibu ...” rengek anak kecil itu. “Jangan menculiknya hanya karena Ibu kehilangan aku. Aku tidak hilang, Ibu. Aku hanya berada di tempat yang berbeda,” ujar anak itu.
__ADS_1
Tangis Dini semakin menjadi. Ia tak kuasa menahan isak tangis yang semakin membuat dadanya sesak itu. Perkataan anak kecil itu membuatnya tersadar akan kesalahan yang selama ini ia perbuat.
Anak kecil itu memegang kedua bahu Dini untuk pertama kalinya. Lembut dan teduh Dini rasakan. Seketika kesedihannya itu menghilang. Anak kecil itu menatap netra Dini yang kini juga menatapnya.
“Jangan sedih ya, Bu. Aku sudah bahagia. Jangan khawatirkan aku. Jaga diri Ibu baik-baik," ucapnya sembari tersenyum hangat, menenangkan.
Dini memeluk erat tubuh mungil itu. Tangisnya yang sesak ia tumpahkan untuk mencari kelegaan di bahu sempit itu tanpa rasa malu.
Perlahan, tubuh itu memudar. Tubuh yang semula dapat ia peluk, kini menghilang, berganti dengan udara kosong yang ia peluk.
“Nak ... di mana kamu, Nak ...”
Dini memanggil-manggil anak kecil itu berulang kali. Anak itu telah hilang. Kini tinggal dia dan hamparan rumput, tanpa ada seorang pun di sana. Tiba-tiba semuanya menjadi terang. Dini menggunakan sebelah tangannya untuk melindungi matanya dari sinar yang menyilaukan itu.
“Haaah ...”
Dini terbangun dari tidurnya. Ia tertidur dalam posisi duduk. Seketika itu juga, ia menatap ke sekeliling ruangan, dan ia sadar. Jika ruangan itu bukanlah tempat menenangkan seperti yang ia rasakan sebelumnya. Tak ada anak kecil, yang kini ia yakini sebagai anaknya yang telah meninggal beberapa waktu lalu.
“Aku harus keluar dari tempat ini.”
“Ruang apa ini?” ujar Runi pada sebuah tangga menuju ruang bawah, di sebelah pintu menuju ke tempat dirinya disekap.
Cukup ragu. Dengan keyakinan hatinya, ia berjalan mengendap. Sebisa mungkin ia berjalan pelan, untuk meredam suara yang ditimbulkan oleh alas kakinya kala kakinya melangkah. Beruntung penjagaan di sekitar ruangannya tidaklah terlalu ketat.
Semakin ia masuk, suara kebisingan semakin jelas terdengar. Dini semakin penasaran. Ia mempercepat langkahnya tanpa mengurangi kehati-hatiannya.
Dini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Di depannya tengah terjadi perkelahian bersenjata yang membuat banyak orang tumbang berlumuran darah.
Ia menyapu bersih seluruh ruangan dengan matanya. Tertangkap sesosok manusia yang ia cari. Dan tepat sekali. Di samping kakinya ada sebuah pistol yang tergeletak. Dini mengambil pistol itu lantas mengangkatnya dengan gemetaran. Seumur-umur, baru kali ini ia memegang senjata api yang waktu kecil hanya bisa ia lihat di televisi hitam putih.
Dini meluruskan tangannya ke depan. Deru napasnya cepat. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Ia memejamkan matanya untuk meyakinkan bahwa dirinya bisa.
Dorr
__ADS_1
“Sudah selesai,” gumam Dini. Clara telah tumbang dengan darah yang mengucur dari dadanya, tepat, menembus jantung.
Pistol yang Dini genggam telah terjatuh. Kedua tangannya diborgol, namun senyum lega itu masih tidak terlepas dari sudut bibirnya yang lebam itu.
Satu misi penyelesaian telah selesai. Ia tersenyum lega. Ia berani membunuh Clara untuk menebus rasa bersalahnya pada Briel dan Gea, terutama pada anaknya. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
“Maafkan aku anakku. Terima kasih,” gumamnya lirih. Kini ia sudah diarak banyak polisi keluar dari ruangan itu. Semua musuh sudah diringkus. Jazad Clara mereka bawa dengan sebuah keranda.
Gaza mendekat ke arah Dela yang masih mematung, melihat maminya tewas cukup tragis di depan mata.
“Are you okay?” ujar Gaza mengecek keadaan Dela dari ujung sampai ujung.
Dela hanya mengangguk mengiyakan, mengungkapkan apa yang memang sebenarnya ia rasakan.
Briel, Bima, dan juga Nichol berjalan menghampiri mereka berdua.
“Kalian baik-baik saja?” tanya Briel.
“Iya,” jawab Gaza singkat.
Mereka saling melempar senyum satu sama lain. Peristiwa panjang itu telah usai, meski harus banyak nyawa yang menjadi bayar.
“Di mana Hendri?” tanya Briel kala sadar tidak ada Hendri di sana.
Mereka semua memutar badan untuk memeriksa seluruh ruangan itu. Mereka juga mencari keberadaan Hendri di ruangan terdekat.
“Akkhh ...”
Suara erangan kesakitan membuat mereka panik. Mereka semua menghampiri Dela yang kini kesakitan memegangi perut buncitnya itu. Dengan sigap, Gaza membopong Dela dengan berlari dengan rasa cemas yang membakar jiwanya.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes...
jangan lupa bahagia 🤗💕💕