Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
56. Kejujuran


__ADS_3

"Kenapa kamu keluar rumah dan kenapa kamu tidak kuliah?"


Rasa penasaran menggerogoti Briel yang ingin tahu kehidupan Gea. Gea masih diam dan menyiapkan hati untuk menjawab semua pertanyaan Briel.


Gea menarik napas dalam untuk mengungkap masa lalu Gea yang hanya diketahui oleh dia dan keluarganya termasuk kedua kakaknya, Bima dan Hendrik.


"Satu–satu ya, Bang, aku jawabnya. Tapi sebelum aku menjawab, Abang janji dulu akan menjawab apa yang akan ku tanyakan nanti," pinta Gea. Gea mengajukan syarat itu, agar ia tak dibohongi Briel.


"Kan tidak lucu kalau hidupku sudah kubongkar tapi aku sama sekali tidak mengenalnya, tidak mengetahui identitasnya?" batinnya.


Gea mengulurkan tangannya. "Bagaimana?" Gea menunggu jawaban Briel.


Briel tersenyum. "Oke?!" jawab Briel mantab sembari menerima uluran tangan Gea. Mereka saling melempar senyum.


Gea diam sejenak, menyiapkan mentalnya untuk mengungkap semuanya.


"Bang …"


"Hem?" Briel menunggu penjelasan Gea.


"Aku haus. Mau minum dulu." Gea menyentuh leher depannya. Ia juga menunjukkan deretan gigi putih rapinya.


Briel melongo. Ia tak habis pikir dengan tingkah Gea. "Astaga … benar–benar ditunggu penjelasannya malah minta minum?"


"Ya maaf. Kan aku memang haus, Bang. Bercerita itu membutuhkan energi, Bang." Wajah Gea memelas tatkala ia memandang Briel.


Briel memutar bola matanya malas. "Astaga … tidak istri tidak asisten pribadi kenapa mereka sama? " batin Briel. Ia mengingat bagaimana jawaban Adam tempo hari yang minum di sebrang telepon padahal belum selesai menjelaskan informasinya.


"Yaudah sana! Tapi kamu ke sana sendiri saja ya? Nanti kamu balik ke sini sekalian bawakan saya segelas air putih!" ucap Briel. Ia tak mau bertemu kucing itu lagi sebelum kucing itu ditangkarkan ke kandang khusus kucing. Hanya dengan membayangkan kucing itu saja sudah membuatnya bergidik ngeri.


Gea tertawa. "Iya, CEO takut kucing …" ledek Gea. Ia menjulurkan lidahnya ke arah Briel.


Briel berdecak kesal. Ia tidak terima diledek takut kucing. Karena kenyataannya Briel memang tidak takut, namun hanya geli.

__ADS_1


"Sudahlah … cepat sana ambil minumnya! Keburu larut malam," ucap Brie agar Gea tak meledeknya lebih lama lagi.


Gea pun berlalu dengan tawa yang masih mengglegar.


🍂


"Yah ... Kemana anak nakal itu, Yah? Seharian gak kelihatan batang hidungnya. Rupanya ia sudah lupa dengan orang tuanya yang masih di rumah sakit. Mentang–mentang suda ada Adam di sini!" gerutu Tere. Ia tak habis pikir dengan Briel yang seharian ini belum ke rumah sakit mengunjungi mereka.


"Udahlah, Bun … kan di sini juga udah ada ayah sama Adam juga. Mungkin Briel capek, Bun. Kan di perusahaan baru ada proyek besar yang harus diselesaikan juga, Bun. Briel harus mempelajari semuanya karena ia mengemban tugas ayah, Bun," ucap Frans hati–hati untuk menenangkan hati Tere. Ia tahu sifat Tere yang kadang masih seperti anak kecil. Namun ia tahu bahwa istrinya ini sangat menyayangi anaknya. Tere memutar bola matanya malas mendengar kata–kata pembelaan Frans untuk anaknya itu.


Di sana Adam menjadi pendengar yang baik pembicaraan sepasang suami istri itu.


"Dam … sekarang kamu pulang saja. Mulai besok kamu bantu Briel untuk mengurus perusahaan," pinta Frans. Seketika Adam menoleh ke arab Frans.


"Tapi, Yah …" Ia mengkhawatirkan kedua orang tua Briel itu. Pasalnya Briellah yang memintanya untuk menjaga Frans dan Tere di rumah sakit itu. Ia bingung mau memilih yang mana.


"Turutilah Ayah saja, Dam. Nanti urusan Briel, biar menjadi urusan kita berdua," ucap Tere untuk meyakinkan Adam.


Adam mengerti perasaan Bunda. "Baiklah, Yah, Bun." Adam menyetujui keputusan kedua orang paruh baya itu. Kemudian Adam pamit pada mereka berdua untuk pulang ke rumah kediaman Yohandrian.


🍂


Sementara itu Gea telah kembali ke kamar. Ia membawa segelas air putih untuk Briel.


Gea duduk di sebelah Briel, di sofa tempat Briel duduk.


"Nih, Bang!" Gea menyodorkan gelas itu.


"Makasih, Gey." Briel menerima gelas itu. Briel meminum air itu setengah gelas lalu menaruh gelas itu di atas meja.


Gea menyandarkan badannya di punggung sofa. Ia mulai mengumpulkan semua kenangan yang telah ia simpan dalam ruangan terkunci di otaknya.


"Waktu itu, lebih tepatnya tiga tahun silam kakekku meninggal …"

__ADS_1


Gea mengingat–ingat kejadian cerita kala itu. Ia mulai menceritakan kejadian beberapa tahun silam.


Saat itu, banyak orang yang berdatangan di rumahnya. Gea yang telah usai menempuh ujian akhir pendidikan sekolah menengah atasnya bingung, kenapa banyak orang di sana. Gea melihat banyak karangan bunga berjajar di sekitar rumahnya.


"Ada apa ini?" Gea bertanya dalam hatinya. Perasaan was-was menyelimuti hatinya.


Gea melangkah masuk. Ia melihat mata semua keluarganya terlihat sembab, bahkan ada yang masih menangis. Hatinya seperti dihantam benda keras. Perasaannya hancur seketika. Kakek yang selalu menyayanginya terbujur kaku di dalam peti yang terbuka, tak bernyawa, diam tak bergerak. Air matanya luruh seketika.


Suara tangisan pilu terdengar, hingga siapapun yang mendengarnya merasakan betapa pilunya dia. Gea kehilangan orang yang selalu menyayanginya. Dunianya seperti hancur berkeping–keping. Dia menangis sambil merangkul erat peti terbuka yang terdapat jenazah sang kakek di dalamnya, tak rela untuk melepasnya. Sampai ada tangan kokoh milik sang ayah yang merangkulnya, berusaha memberikan kekuatan untuknya.


Gea beralih merangkul sang ayah.


"Pa…. Kakek Pa, Kakek." Gea menangis di pelukan ayahnya dengan baju seragam yang masih menempel di tubuhnya. Sang ayah mengerti bagaimana perasaan anaknya itu. Ia membiarkan Gea menangis sepuasnya. Ia tahu bagaimana kedekatan hubungan antar keduanya yang melebihi hubungan Gea dengan ibu tiri dan adik sedarah ayah.


Sang ayah mengelus lembut kepala belakang Gea. "Ikhlaskan Gey, ikhlaskan kepergian kakekmu. Biarkan dia tenang di sana," ucap ayahnya. Tangis Gea tak kunjung reda hingga ia diam tak bergerak di pelukkan ayahnya. Kenyataan yang memaksa Gea untuk menerimanya membuat dirinya tak sadarkan diri.


"Sejak saat itu kehidupanku mulai berubah. Ibu tiri dan saudara satu ayahku mulai menindasku. Bahkan aku tidak bisa kuliah karena mereka yang memfitnahku. Mereka menuduhku yang tidak–tidak di depan Papa. Kata mereka aku tidak mau kuliah dan kerjaanku di rumah itu hanya tidur dan makan, tanpa belajar dan mau berkumpul dengan mereka." Gea masih menerawang jauh di sana. Briel masih mencoba mencerna semua cerita Gea.


"Lalu, mengapa kamu tidak mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Papamu?"


"Bukan tidak mau. Namun percuma saja. Dia lebih percaya dengan ucapan istrinya." Gea tersenyum miris. Terlihat pilu dan menyedihkan.


"Sampai di suatu kejadian, yang membuatku keluar dari rumah."


Gea menoleh ke arah Briel. Hal itu membuat Briel begitu penasaran dengan kisah hidup Gea yang benar–benar masih misteri baginya. Sampai–sampai Adam saja tidak bisa untuk menggali informasi lebih dalam. Padahal biasanya Adam bisa menyelesaikan semuanya dalam kurun waktu singkat.


🍂


//


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2