Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
133. Bocoran Rahasia


__ADS_3

"Astaga … apakah benar apa yang kulihat? Apakah ini nyata atau sekadar mimpi buruk? Tidak mungkin kan seperti ini?"


Ucap seseorang yang terkejut saat melihat mereka berempat berjalan menuju parkiran mobil. Hatinya teriris bahkan matanya mulai memanas.


Tak terasa berbutir–butir air bening pun menetes dari pelupuk matanya. Ya dia, Ayu. Niat hati ingin mengenyangkan perut di tempat itu, namun apa daya. Bukanlah kenyang karena makanan, tapi ia malah kenyang karena makan hati. Ayu melihat Briel menggandeng seorang wanita dari belakang. Wanita yang belum ia ketahui karena wajahnya tak terlihat.


Ia mengusap kasar air mata yang masih menetes itu. Ia pergi meninggalkan resto itu dengan keadaan hati hancur. Sang pujaan hati yang selama ini ia dambakan terpampang jelas di matanya menggandeng seorang wanita yang ia yakini sebagai istrinya. Hatinya masih belum rela Briel bersanding dengan wanita lain. Ia tak mau menerima kenyataan yang sudah jelas di depan matanya.


"Kurang ajar sekali wanita itu! Tidak bisa dibiarkan. Dia telah merebut calon suamiku!!!!" ucap Ayu dengan amarah yang meletup–letup sembari mencengkeram kuat stir mobilnya. Matanya menajam menatap lurus ke depan. Ia bertekat akan mencari tahu siapa wanita itu.


🍂


Dela merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia berguling ke kiri, ke kanan, dan juga terlentang di jarak waktu yang cukup dekat. Wajahnya benar–benar tak enak dilihat.


"Ahhh! Kenapa harus dia? Kenapa dia selalu lebih dan lebih?!" ucap Dela kesal. Ia iri dengan apa yang Gea dapatkan.


Semetara itu Davin duduk bersandar pada kursi kerjanya dengan sedikit memutar–mutar kursi kerjanya.


"Huffftt"


Davin menghembuskan napasnya kasar. Bahkan ia mengacak rambutnya kasar. Yang ia temukan adalah jalan buntu. Ia bertekad menemukan cara untuk menghancurkan Briel.


"Sialan!!! Dia harus hancur sebelum dia yang menghancurkanku!"


Davin mengambil benda pintarnya. Ia menekan nomor Deni untuk menemaninya pergi ke club malam. Ia ingin melepas penat di sana.


🍂


"Dududududu …"

__ADS_1


Senandung seorang pria di sebuah lorong rumah mewah. Alkohol yang telah ia tenggak tak semudah itu membuatnya mabuk seketika.


Ia berjalan menuju kamarnya. Namun di depan ruang kerja, ia mendengar percakapan seseorang. Ia berhenti senjenak. Pintu ruangan yang tak tertutup rapat membuat percakapan di dalam ruangan lebih jelas terdengar dari luar.


Ia mendekat ke arah pintu dan mendengarkan percakapan itu dengan seksama.


"Baiklah. Kontrak perjanjian ada pada saya. Nanti akan saya serahkan pada Anda Bos."


"Dan juga pelaksanaan kerjasama antara FTA entertaiment dan juga GA Fashion & Style sudah berjalan 70%."


Itulah beberapa percakapan yang ia dengar. Ia tersenyum miring.


Tiba–tiba saja pria yang ada di dalam ruangan itu keluar dari ruangan itu. Pria itu ingin pergi sebentar untuk menyelesaikan urusannya. Secepat mungkin ia bersembunyi di balik tembok, tidak jauh dari sana. Ia pun segera masuk ke dalam ruangan itu.


Ia mencari barang yang ia dengar dari percakapan tadi.


"Aku harus memberi tahu Davin," gumamnya lirih. Ia berjalan menuju kamarnya. Tak lupa ia menutup pintu seperti semula ada tak dicurigai.


"Den, dari mana kamu?"


Suara berat itu menghentikan langkahnya untuk menuju ke kamar. Ia terkejut mendengar suara itu. Ia memutar badannya.


"Untung aku dah keluar dari ruangannya," batinnya.


Ya dia, Deni Mahatma, sahabat Davin.


"Biasalah," jawabnya singkat.


"Dari mana Ndra?" tanya Deni kemudian. Ia berpura–pura tak mengetahui dari mana saudara kembarnya itu walaupun ia sudah tahu.

__ADS_1


"Dari depan sebentar."


Deni berdecak. "Depan mana Deni Mahendra?" tanyanya seakan penasaran.


Deni Mahendra, orang kepercayaan Briel. Di perusahaan dan kalangam relasi bisnisnya, ia dikenal dengan nama Deni. Namun keluarganya lebih sering memanggilnya Hendra.


Setelah mereka dewasa, mereka tak lagi saling menceritakan siapa relasi dan juga urusan pribadi mereka berdua dengan dunia luar. Oleh karena itu pula, malam ini Deni baru mengetahui di mana Hendra memulai karirnya dan siapa bosnya.


"Kepo!" jawab Hendra engagan memberitahukan urusannya.


Deni mengedikkan bahunya. "Bodo amat!" ucapnya seakan tak peduli dengan apa yang saudara kembarnya lakukan.


"Baiklah, aku mau tidur. Bye!" pamitnya sambil berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, ia merogoh gawainya dari dalam saku. Ia memberi tahu apa yang ia ketahui kepada Davin. Malam ini, ia baru tahu secara jelas siapa orang yang selama ini Davin maksud dan malam itu pula seakan dewi fortuna seakan berpihak padanya.


🍂


"Baiklah, tunggu kehancuranmu Briel!" ucap Davin dengan percaya diri setelah mendapatkan informasi dari sahabatnya, Deni.


Ia membersihkan dirinya dan bersiap untuk menenggelamkan diri dalam dunia mimpi.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2