Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
113. Apel


__ADS_3

Club malam


Lagi–lagi tempat ini menjadi tujuan Davin. Ia menghubungi semua sahabatnya untuk datang bersama dirinya ke sana. Segala macam minuman beralkohol ada di sana. Ia memesan cukup banyak untuk mereka berempat.


"Mari bersulang!" seru Deni. Deni mengangkat tinggi gelas yang ia pegang. Ketiga yang lain pun turut mengangkat gelas seperti yang Deni lakukan.


"Cheers"


Dentingan antar gelas terdengar. Mereka pun mulai menenggak minuman laknat itu. Sorak sorai terdengar di antara mereka.


Deni melihat ke arah Davin dengan mengerutkan dahinya bingung. Ia melihat wajah Davin tertekuk sempurna.


"Ada masalah apa kau, Vin?" tanya Deni kemudian.


"Hem"


Davin hanya bergumam sembari menoleh ke arah Deni tanpa berniat untuk menjawab apa yang Deni tanyakan. Kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Deni hanya mengedikkan bahunya.


"Ah nanti juga pasti dia akan cerita."


Taka dan Viko yang semula bersenang–senang pun turut memperhatikan Davin. Mereka menatap dalam Davin yang membuat Davin risi sendiri ditatap demikian.


"Apa?!" ucap Davin ketus.


"Enggak. Hanya melihat saja," jawab Taka sekaligus mewakili Viko.


"Gak usah lihat!"


"Memang kenapa? Kita punya mata. Gunanya untuk melihat," ucap Viko sembari mengernyitkan dahinya.


Davin berdecak kesal. Ia tak menjawab lagi perkataan Viko. Ia memilih menenggak kembali segelas miras yang ada di tangannya dengan menatap kesal ke sembarang arah.


Deni menepuk dahinya sendiri melihat gurauan Viko di saat yang tak tepat.


"Aww …. Sakit!" Viko mengaduh kesakitan.


Viko mendapat tabokan maut dari Deni. Deni juga menajamkan matanya ke arah Taka dan Viko. Ia berbicara lewat matanya, agar mereka tak mengusik Davin untuk kali ini. Deni tahu, bahwa mood Davin tak sebagus biasanya.


"Dasar! Kalian melawak disaat yang tidak tepat, bodoh!" gumam Deni lirih.


Deni menggerakkan matanya agar Taka dan Viko melihat ke arah Davin. Mereka pun melirik ke arah Davin. Mereka melihat Davin badmood parah. Taka dan Viko hanya menyengir cengengesan, memperlihatkan deretan gigi mereka. Taka juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tak lama kemudian, empat kupu–kupu malam menghampiri mereka berempat. Wanita–wanita itu menemani mereka bersenang–senang hingga dini hari. Mereka menghabiskan berbotol–botol minuman beralkohol, hingga untuk berjalan pun mereka sempoyongan.


🍂


Sementara itu, di sebuah kamar dengan ranjang yang nyaman, dua insan tengah sibuk menyelami alam mimpi. Mereka tidur dengan sang istri yang berada dalam dekapan sang suami.


"Emmgh .…"


Sang istri mengerjapkan matanya pelan. Ia menggerakkan kepalanya menoleh ke samping. Ia melihat angka yang tertera pada jam dinding itu.


"Masih dini hari."


Ia kembali memejamkan matanya. Namun rasa kantuk tak kunjung datang. Matanya terpejam, namun pikirannya melayang–layang. Dalam pikirnya, ia malah membayangkan betapa segarnya makan apel di dapur.

__ADS_1


"Emm ... Sepertinya segar rasanya jika makan buah apel yang dingin."


Dengan membayangkan saja sudah membuatnya ingin segera menikmati buah itu.


"B–ang"


Ucapannya melemah di akhir ia berbicara. Ia ingin membangunkan suaminya. Namun ia mengurungkan niatnya. Ia tak tega tatkala melihat tidur suaminya terlihat pulas.


"Ahh … tidurmu pulas sekali, Bayang," gumamnya lirih sembari menatap lekat wajah suaminya.


"Baiklah, aku ke sana aja sendiri."


Gea menyingkirkan tangan Briel yang merangkul tubuhnya perlahan, lalu turun dari ranjang. Pelan pelan, gerakan demi gerakkan ia lakukan agar tak membangunkan Briel yang tengah tertidur.


🍂


"Heii lepaskan istriku!!!"


Briel yang tengah terduduk dengan kedua tangan yang diikat di belakang. Ia meronta–ronta minta dilepaskan. Dari sana ia melihat istrinya dibekap seorang pria. Gea diseret keluar.


"Biadab! Lepaskan istrikuu!!!"


Segala macam umpatan Briel lontarkan. Namun tak membuat pria itu berhenti. Pria itu terus menarik paksa Gea, menjauh dari jangkauan Briel.


"Haaa!!!"


Tiba–tiba Briel terbangun. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Rupanya hilangnya Gea sore tadi membuat kejadian mengerikan masuk ke dalam mimpinya. Briel menoleh ke samping untuk memastikan keberadaan istrinya. Namun tidak ada Gea di sampingnya. Ketakutan dan khawatir mulai melanda.


"Gey! Geyang! Gea sayang!!"


Briel berjalan tergesa ke luar kamar. Ia mencari Gea ke setiap sudut ruangan. Ia takut apa yang terjadi di dalam mimpinya menjadi kenyataan.


Sementara itu, Gea yang dicari Briel, tengah asik mengupas apel. Ia mengambil piring, kemudian memotong–motong kecil apel itu. Tak lupa garpu ia siapkan untuk memakan apel itu. Senandung lirih ia lantunkan dengan bibir mungilnya.


Gea terkejut. Pisau yang ia pegang terjatuh ke meja. Tiba–tiba ada tangan yang melingkar di perutnya. Seseorang tengah memeluknya dari belakang.


"Astaga … ternyata kamu ada di sini," ucapnya sembari memeluk Gea erat. Kepalanya ia senderkan di pundak sang istri.


"Eh? Ada apa, Bayang?"


Gea penasaran kenapa Briel bertingkah seperti itu. Briel yag tiba–tiba memeluknya dalam keadaan panik padahal tak terjadi apa–apa. Ia bertanya–tanya dalam benaknya.


"Tidak ada apa–apa. Hanya panik saja saat melihatmu tak ada di sisiku, Gey."


"Astaga, Bayang. Mana mungkin ada orang yang masuk ke apartemen untuk menculikku saat kamu di sisiku, Bayang?"


"Ya kan siapa tahu!" bantah Briel.


Gea tersenyum. Dia membelai lembut wajah Briel yang kepalanya menyender di pundaknya. Cukup lama Briel dan Gea bertahan dengan posisi itu.


"Kamu kenapa malam–malam begini ke sini sendirian, hem?" tanya Briel dengan lembut.


"Pengin makan apel," sahut Gea.


"Kenapa tidak membangunkanku?"

__ADS_1


"Aku tidak tega lah membangunkanmu yang tengah tertidur pulas," jawab Gea jujur.


Diam–diam Briel menghembuskan napas panjang.


"Iya dan gara–gara itu aku mimpi buruk," gumam Briel dalam hati.


"Yasudah, cepat makan, lalu kita kembali tidur," ucap Briel kemudian.


Gea mengangguk antusias. Briel pun melepas pelukannya pada tubuh Gea.


"Bayang" ucap Gea sembari menusuk–nusuk apel itu dengan garpu.


"Hem?"


"Suapin," ucap Gea menaja dengan senyum manisnya yang menawan hati.


"Astaga istriku …. Bagaimana aku tak terpikat kalau senyummu itu memabukkan dan tingkahmu itu membuatku gemas," batin Briel.


Briel menguyel–uyel pipi Gea. Bahkan ia mencium gemas pipi Gea.


"Geli, Bang!" keluh Gea.


Gelak tawa memenuhi ruangan itu.


"Berhentilah, Bayang ... suapin," pinta Gea lagi.


"Baiklah istriku tercinta, Nyonya Briel yang manjanya minta ampun."


Gea membulatkan matanya. Ia tak terima dikata manja oleh Briel.


Briel terkekeh ringan melihat wajah Gea yang begitu menggemaskan.


"Dahlah ... ini, aa…." Briel menyodorkan sepotong buah apel.


Gea tersenyum. Gea membuka mulutnya.


"Emm .... Segar sekali, Bang."


Briel mengerutkan dahinya. "Segar? Bukankah rasa apel memang seperti itu?"


"Ya cobain aja sendiri, Bang."


Briel menyuapkan sepotong apel ke dalam mulutnya. Rasa yang ia rasakan sama saja. Seperti apel pada umumnya.


"Kenapa wajah Gea bisa sebahagia itu ya saat makan apel. Perasaan rasanya biasa saja? 🤔" gumam Briel.


"Aak lagi, Bang."


Briel tersadar dari lamunannya. Briel menyuapkan kembali potong demi potong ke mulut Gea sampai habis.


🍂


//


Happu reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2