
"Loh kok masih gelap," ujar Gaza kala ia memasuki pekarangan rumahnya. Lampu rumah tetangga sebelahnya terang benderang sedangkan rumah itu gelap gulita. Hanya lampu motor yang menjadi penerang menyorot lurus.
Gaza mematikan mesin motor lantas masuk ke dalam rumah. Suasana benar–benar gelap. Rumah itu juga seperti tidak ada tanda–tanda kehidupan, padahal ia tahu Dela ada di dalam sana.
"Astaga ... Jangan–jangan dia memang menuruti perkataanku 100 persen?" ucap Gaza berprasangka.
Selama ini ia mengira jika Dela hanya akan mengangguk tanpa menuruti perkataannya. Namun kali ini ia menyesal lantaran ternyata Dela menuruti perkataannya. Ia khawatir jangan–jangan Dela malah belum mengambil makanannya, atau hanya sekadar untuk ke kamar mandi buang air.
Segera Gaza menyalakan senter gawainya. Ia mencari saklar.
Blar
Seketika kamar Dela terang. Gaza mencari keberadaan Dela namun ia tidak menemukan Dela baik di kamar itu maupun di kamar mandi dalam. Matanya tertuju pada nakas. Makanan sudab tidak bersisa.
Gaza bergerak gusar. Gaza melayangkan tatapannya tepat di sudut kamar. Kursi roda masih di sana. Kekhawatiran semakin menjadi. Yang ia takutkan adalah musuhnya mengetahui rumah itu dan Dela menjadi sasarannya.
Gaza membuka satu persatu ruangan. Cemas menyelimutinya. Hatinya tidak tenang sebelum Dela ditemukan.
"Ke mana dia ..." ujar Gaza yang masih mencari ke mana Dela pergi. Ia masih berharap Dela ada di salah satu ruangan rumah yang besarnya tidak seberapa itu. Lampu rumah itu menyala satu persatu seiring semua ruangan ia jelajahi.
Blar
"Astaga!!"
Gaza terepranjat. Tubuhnya terhuyung ke belakang kala melihat Dela terbaring di sofa. Gaza mengelus dadanya. Kelegaan memang mengalir begitu saja namun ia juga menarik kata–kata bahwa Dela penurut.
"Hmm makhluk paling ngeyel sejagad raya," ujar Gaza yang kini menatap tubuh Dela yang terlelap. Gaza tidak habis pikir, bagaimana bisa Dela berjalan ke sana tanpa alat bantu apapun bahkan tertidur dalam keadaan gelap gulita.
Gaza menggelengkan kepalanya. Makhluk di depannya itu terlalu ajaib untuk disebut sebagai manusia. Titisan setan mungkin adalah julukan yang paling tepat.
Sebenarnya Dela tidak sadar jika ia tidur dalam keadaan ruangan yang gelap. Sebelum ia tertidur, televisi masih menyala tanpa lampu yang berpijar lantaran cahaya dari luar mampu menerobos masuk lewat kaca jendela. Namun pemadaman listrik menjadi penyebab utama. Televisi rumah itu jika telah mati, tidak akan hidup kalau tidak dihidupkan lagi.
Ingin sekali Gaza membangunkan Dela agar Dela berpindah. Tapi ketidaktegaannya membuat Gaza hanya mampu menyimpannya saja dalam hati. Ia memilih untuk memindahkan Dela.
🍂
"Emmhh bauk sekali badanku," ujar Dela kala ia sudah terbangun di pagi hari. Ia mencium ketiaknya sendiri, memastikan jika bau tidak enak itu berasal dari dirinya.
Dela teringat jika sore kemarin ia tidak mandi. Ia berteriak memanggil Gaza.
"Gaza ..! Gaza...!" teriak dela.
__ADS_1
"Hmm" gumaman itu menjadi jawaban Gaza. Ia berjalan malas menghampiri Dela.
"Apa?" tanyanya singkat dan datar.
"Kenapa kemarin kau tidak membangunkanku?! Ah gini kan jadinya. Bau badanku menjijikan!" keluh Dela. Ia memprotes tindakan Gaza. Bibir manyun tidak pernah tertinggal.
"Tidak usah banyak protes! Tinggal mandi saja beres!"
Tidak memperdulikan terlalu jauh, Gaza meninggalkan Dela. Ia melanjutkan masaknya di pagi itu untuk sarapan mereka berdua.
"Gimana caranya aku mandi ..." ucap Dela keras. Namun Gaza tetap saja meninggalkannya.
"Aarghh!!" Dela melempar bantal ke arah pintu. Namun Gaza sudah menghilang di balik pintu.
"Aihh bagaimana ini ..." Dela berdecak. Tak memiliki pilihan lain, Dela membanting tubuhnya sendiri ke kasur kembali bergelung dengan guling dan selimut.
"Bodo amat! Biarpun bau yang penting hidup."
Dela sudah tidak peduli lagi dengan bau badannya. Berbicara dengan Gaza sepertinya percuma.
"Air sudah siap. Jadi mandi tidak?" tawar Gaza. Ternyata perginya ke dapur juga untuk menyiapkan air hangat agar Dela tidak kedinginan waktu mandi.
Dela sudah terlanjur malas untuk mandi.
"Kenapa tidak dari tadi sih! Hmm sudah malas duluan," ujar Dela dalam hati. Matanya masih terpejam, berpura–pura tidak mendengar.
"Ya sudah terserah. Paling kalau tidak mandi kulit hanya panuan." Gaza berpaling ingin meninggalkan Dela. Gaza sengaja membangunkan Dela dengan hal yang paling dihindari oleh kaum wanita. Bahkan penyakit kulit itu masuk ke dalam daftar paling hitam.
Mendengar kata "panuan" terlontar dari mulut Gaza, membuat Dela membeliakan mata seketika. Ia pun langsung terbangun. Ia tidak ingin jamur kulit itu menempel pada tubuhnya. Kulitnya bukan lahan subur untuk menumbuhkan spora merugikan itu.
"Antar aku ke kamar mandi!"
Kali ini Dela berteriak antusias. Gaza menahan tawanya. Ternyata Dela selucu itu jika dilanda kepanikan yang sebenarnya bukan masalah besar.
Gaza berbalik. "Cepat sekali berubah pikiran? Bukanlah tadi tidak mau mandi?" goda Gaza untuk membuat Dela mengakui tindakannya.
"Ma–mana ada! Siapa yang bilang? Perasaan aku tidak bilang. Aku hanya masih ingin tidur," kilah Dela gelagapan, berusaha mencari jawaban yang tepat.
Sedangkan Gaza tersenyum miring dengan menaik–turunkan kedua alisnya.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya–ya benarlah! Apaan sih? Sudahlah aku mau mandi. Bantu aku ke sana!" Dela tidak ingin melanjutkan perdebatan itu. Semakin lama berdebat maka dirinya akan semakin kalah. Ini saja Dela sudah menjilat ludahnya sendiri.
"Oo minta bantuan? Perasaan kemarin ada yang bisa berpindah sampai ruang depan. Masak ke kamar mandi saja yang jaraknya lebih dekat kesulitan. Sepertinya aku yang salah kira. Jarak dari sini ke kamar mandi lebih dekat."
Gaza mulai menyindir halus. Memang hanya halus tapi menancap tajam.
"Ohh ... Atau, jangan–jangan jin penunggu rumah ini yang membantunya berjalan," lanjut Gaza.
Kalimat–kalimat Gaza membuat Dela menggertakan rahangnya. Giginya bergemeletuk, tatapan matanya juga menajam. Jari jemarinya menggenggam erat. Ingin sekali ia menjambak rambut Gaza. Menariknya kencang, namun sayangnya hanya dalam angan. Jarak tubuhnya dan posisi di mana Gaza berdiri cukup jauh. Ia tidak bisa bergerak semudah itu. Misal bisa menjangkau, sudah dipastikan Gaza sudah berpindah.
"Sabar Dela, Sabar. Ini ujian, harap tenang." Dela menghela napas panjang.
Gaza semakin gencar membuat Dela kesal.
"Cepat naik!" ujar Gaza yang kini berjongkok di pinggir ranjang.
"Kenapa naik naik segala? Mau modus? Tidak mempan!" ujar Dela. Tangannya ia silangkan di depan dadanya. Ia tidak suka dimodusi oleh pria seperti Gaza. Bukan levelnya.
"Siapa yang modus? Cepat! Aku tidak punya banyak waktu lagi. Lagian dada datar aja bangga!" sindir Gaza. Dela menganga lebar.
Plak
Dela memukul punggung Gaza keras. Gaza berteriak kesakitan namun Dela lebih berteriak kesakitan. Punggung Gaza yang keras membuat pukulannya mental. Ibarat benda yang padat bertemu dengan benda padat.
"Sukurin! Makanya punya tangan dijaga! Cepatlah naik! Menuntunmu akan terlalu lama!" titah Gaza sekali lagi. Dengan wajahnya yang masam, Dela menuruti perkataan Gaza.
"Sudah sana mandi! Atau mau aku mandiin? Ihhh jangan harap, aku tidak nafsu!"
Tanpa menunggu jawaban dari Dela, Gaza berucap tanpa jeda.
"Siapa juga yang mau dimandiin? Najis!!"
Dela mengusir Gaza dari kamar mandi itu. Sedangkan Gaza sendiri juga bersiap untuk kembali bekerja.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1