
Berjam–jam sudah Dela berkutat dengan gawai baru yang Gaza berikan. Terlalu lama tidak memilikinya membuatnya kalap. Ia mendownload aplikasi untuk melihat film. Drakor dan drachin adalah serial yang ingin ia tuju. Ada bias yang membuatnya tergila–gila setengah mati.
Dela menguap. Ternyata lama–lama berbaring membuatnya mengantuk. Untuk mengatasi rasa kantuk, Dela berusaha berjalan ke dapur untuk mengambil camilan dan juga minum. Dapur tidak jauh dari ruang depan televisi. Ia memilih menggunakan dinding sebagai pegangan yang bisa membantunya berdiri lebih tegak.
"Aiss kapan sembuhnya kalau begini," ujarnya. Sudah beberapa hari namun rasanya masih sakit. Luka lebamnya masih terlihat membiru. Hanya tinggal kakinya yang masih terasa. Nyeri di perutnya sudah membaik seiring teraturnya minum resep obat dari dokter.
"Aduh mana tidak ada apa–apa lagi!" keluh Dela kala ia hanya melihat beberapa buah yang ada di dalam kulkas. Minum juga hanya ada jus jeruk dan jus jambu.
"Tapi bawa aja kali ya. Mayanlah buat ngemil. Lapar juga kalau gak ngemil," putus Dela pada akhirnya. Dengan gawainya sebenarnya ia bisa pesan makanan. Tapi ia tidak bisa. Masalanya ia tidak memiliki uang untuk membayar makanan itu. Dan di rumah itu tidak ada makanan lagi. Makan siang yang disiapkan Gaza juga sudah ia makan.
"Aarggh kebiasaan Gaza. Pergi hanya meninggalkan stok makanan sedikit. Hmms gini sekali nasib orang miskin." Dela mengasihani dirinya sendiri. Ia rindu dengan kehidupan lamanya yang serba ada.
Dela mencari kantong plastik yang bersih untuk membawa buah itu dan jus kotak. Ia berjalan dengan cara yang sama lagi, menjadikan dinding sebagai tumpuan tenaga. Sesampainya di sofa, ia kembali menonton drama dengan mengemil buah. Ekspresinya berubah–ubah seiring adegan yang ia lihat. Terkadang tertawa, terkadang kecewa, terkadang bersedih, dan terkadang sampai menangis. Semuanya campur aduk.
"Yahh ... tamat. Kenapa harus sad ending sih. Harusnya mereka kan bahagia gitu. Hiss sutradaranya kurang ajar...! Aduh mana lapar lagi," keluh Dela dengan menyentuh perutnya.
"Eh ... Sepertinya aku kemarin ada sedikit uang pemberian Gaza yang kutaruh di tas."
Dela mencoba mengingat sisa uang yang tidak banyak. Mungkin hanya lima puluh ribuan. Namun lumayan jika ia bisa memesan makanan dengan uang itu. Buah dan jus tidak cukup untuk mengganjal perutnya. Entah mengapa semenjak ia hamil, nafsu makannya menjadi lebih banyak dari biasanya. Bahkan kini pipi Dela semakin tembam.
Dela mencoba mencari tas yang ia pakai kemarin waktu ia jatuh. Lebih tepatnya tas miliknya yang kebetulan waktu itu Gaza yang membawanya. Mondar mandir Dela berjalan terseok, namun ia tidak menemukan tasnya itu di mana.
Dela berdecak kesal. Ia bingung ke mana ia harus mencari tasnya itu lagi.
"Astaga ... Di mana Gaza menaruhnya. Gini nih kalau aku tidak menyimpannya sendiri. Mana dia tidak bilang lagi dia meletakkannya di mana."
Dela masih berusaha mencari tasnya bermodalkan berpegangan pada dinding. Kali ini dinding adalah sesuatu paling berjasa di hidupnya. Tanpa dinding apalah artinya.
"Nah ini dia ..."
Dela menemukan tas itu di ruangan di mana Gaza sering tidur. Dela mendongakan kepalanya.
__ADS_1
"Jauh sekali dia simpan. Kenapa juga tidak di simpan di kamarku. Hmmm!" gerutu Dela.
"Ah kenapa tinggi juga sih. Gimana aku mengambilnya?"
Tas itu memang ada di ruangan Gaza. Namun menyebalkannya Gaza meletakkannya di atas almari yang cukup tinggi. Dela memutar otaknya. Ia mengedarkan matanya, menyapu seisi ruangan itu. Ia melihat sebuah sapu di sudut ruangan.
Dela menghela napas kasar. Lagi–lagi membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Dela berusaha mengambil sapu itu.
"Dapat!" Dela tersenyum lebar. Ia menggenggam pegangan sapu itu erat. Ia menjadikan sapu itu sebagai tongkat dadakan.
Tas itu terjatuh. Ia mengambilnya dengan gagang sapu yang cukup panjang itu. Tidak perlu jalan lagi, Dela melempar sapu itu ke tempat semula. Sampai juga walau letaknya berantakan, tidak sesuai semula yang tegak berdiri.
"Bodo amat yang penting balik ke situ," ujar Dela.
Dela kembali ke ruang depan untuk mengambil gawainya. Ia memesan makanan dari aplikasi orange dengan diskon geratis ongkir. Lumayan, setidaknya ia bisa membeli makanan lebih banyak.
"Selesai," ucapnya kala makanan sudah terpesan. Ia kembali membaringkan dirinya dengan televisi yang menyala sembari menunggu pesanan tiba. Ia meninggalkan pesan pada kurir pengantar makanan untuk masuk ke dalam rumah saja. Rumah itu tidak dikunci.
Cukup lama Dela menunggu pesanan itu. Cacing di perutnya mulai berontak lagi. Berulang kali juga Dela melihat ke arah jam dinding. Waktu berputar begitu lama. Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan.
"Mau sampai kapan makanan itu sampai di sini?"
Tok tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Dela bangun dari posisi rebahannya. Ia menengok ke arah pintu depan. Tidak lama kemudian gawainya berbunyi. Notifikasi pesan masuk. Rupanya itu dari kurir yang menghantar makanannya.
'Masuk aja, Pak'
Pesan itu langsung centang biru. Kurir itu masuk ke dalam rumah.
"Ini mbak pesanannya, bayar di tempat ya, sesuai nominal," ujar tukang hantar makanan itu.
__ADS_1
"Iya, Pak."
Dela merogoh tasnya. Uang lima puluh ribuan ia ambil.
"Ini Pak–... Eh eh eh..."
Kurir makanan itu sudah menerima uang dari Dela. Namun ada selebaran kertas yang turut terjatuh kala uang itu terambil. Dela memungut kertas itu.
"Ini Neng makanannya."
Dela mengambil makanannya itu. Lantas sang kurir pergi kembali.
Dela tidak memperdulikan lagi. Perhatiannya terpecah pada selembar kertas terlipat itu. Ia menaruh makanannya di atas meja. Rasa penasarannya lebih besar dari rasa laparnya.
"Perasaan aku tidak pernah menaruh kertas di dalam tas," ujarnya. Seingatnya tasnya itu kosong. Tas itu hanya sebagai pemanis kala dirinya berpergian saja tanpa ada isi yang berharga.
Peelahan Dela membuka kertas itu. Ia mengerutkan dahinya, terheran melihat isi dari kertas itu. Hanya sederet nomor yang tidak dikenal.
"Milik siapa ini?" ujarnya.
"Ah bodo amat ah. Aku sudah lapar. Nanti saja," putusnya kemudian. Rasa laparnya kian menjadi. Mengurusi nomor tidak dikenal hanya akan menunda makannya saja.
Seusai makan Dela berusaha mengalihkan perhatiannya. Namun tetap saja. Lembaran kertas itu menyita pikirannya.
"Aihh nomer siapa sih itu. Lebih baik aku telpon aja mungkin ya. Kali saja nomor orang kaya gitu. Mayan nanti aku bisa numpang hidup sama dia," ujar Dela dengan pikiran gilanya.
Satu persatu nomor ia ketikan. Teleponnya itu mulai tersambung. Dela membeliakan matanya Betapa kagetnya ia kala suara dari seberang menyapa.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻