Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
53. Membaik Namun Juga Merumit


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu. Tetap awasi dia!" ucap Frans pada bawahannya. Ia masih terbaring di rumah sakit. Ia menutup gawainya setelah panggilan itu berakhir.


Dari arah kamar mandi, Tere tengah menuju ranjang dibantu oleh salah satu suster yang memegangi insfusnya. Sebenarnya ia merasa bisa sendiri, namun Frans khawatir akan keselamatan Tere. Ia takut terjadi apa–apa kalau Tere ke kamar kecil sendiri dengan keadaan yang belum benar–benar pulih. Ia takut Tere jatuh terpeleset dan kepala Tere terbentur lagi. Ia tidak mau kondisi Tere semakin parah.


"Makasih ya, Sus," ucap Tere pada perawat itu.


"Iya, Nyonya. Saya permisi dulu, Tuan, Nyonya," pamitnya.


"Siapa, Yah?" tanya Tere sembari menaiki ranjangnya kembali. Ia mengambil posisi yang nyaman untuk merebahkan tubuhnya.


"Oh itu ... si Mark, Bun. Dia hanya bilang kalau Briel sudah mulai menggantikan posisi ayah di perusahaan kita mulai hari ini sampai tidak tahu kapan pastinya."


Tere mengangguk. "Sampai selamanya aja, Yah. Ayah pensiun dini aja," usul Tere dengan antusias. Tere mengedipkan sebelah matanya. Frans terkekeh tatkala mendapat kedipan maut itu. Tapi Frans maklum. Mungkin Tere ingin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dirinya yang selama ini bisa dibilang cukup sibuk.


Frans pun terkekeh. "Inginnya begitu, Bun. Tapi nanti kita lihat–lihat keadaannya dulu. Kalau terlalu dini, ayah kasihan sama Briel, Bun. Dia masih harus mengurus perusahaan kita yang ada di Jerman. Belum lagi dia mau menikah dekat–dekat ini." Frans menjelaskan dengan lembut dan penuh pengertian.


"Yaahhh … Iya juga sih" Wajah Tere terlihat cukup kecewa. Frans hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tatkala melihat tingkah istrinya yang kadang masih seperti anak kecil.


"Tapi tenang, Bun. Akan ada saatnya kita berduaan lagi." Frans menaik–turunkan kedua alisnya.


"Ahh Ayah … okedeh." Tere tersenyum, jari–jari tangannya membentuk kata 'oke'. Mereka pun saling melempar senyum satu sama lain. Walaupun mereka baru terkena musibah, namun menurut mereka tidak perlu susah. Malah bahagia yang datang merambah.


"Bunda … Ayah …" ucap Ayu tatkala ia masuk ke dalam ruang perawatan. Dia membawa parcel buah untuk calon mertuanya ini. Lalu meletakkannya di meja.


"Hai, Sella Sayang … wah makasih ya. Malah repot–repot nih," ucap Tere dengan senyuman yang dilempar olehnya.


"Nggak lah, Bun. Muach … muach" Ayu mencium kedua pipi Tere. Kemudian Ayu menghampiri Frans dan mencium tangan Frans.


"Bagaimana keadaan Ayah dan Bunda?"


"Yaa … seperti yang kamu lihat, Sel," jawab Frans.


Tak lama setelah itu Sam, dokter tampan itu datang untuk memeriksa keadaan mereka, disusul Adam yang telah selesai makan siang.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya, Nona," sapa Sam dengan senyum yang terbit menghiasi wajah tampannya.


"Siang, Sam. Eh … Sam atau Dokter Sam ini?" goda Frans. Ia menggoda Sam, karena adalah sahabat anaknya dari sekolah menengah. Ia juga mengenal dekat kedua orang tua Sam yang sudah meninggal dalam kecelakaan beruntun sepuluh tahun silam. Sebelumnya kedua orang tua Sam juga dokter di Rumah Sakit Yasandri. Papanya sebagai dokter ortopedi (dokter yang menangani sistem muskuloskeletal tubuh, mencakup tulang, sendi, tendon, otot, dan saraf ) dan mamanya sebagai dokter kandungan.


"Sam aja,Tuan."


"Ngaku meminta dipanggil 'Sam', dia manggil dirimu pakai kata 'tuan', Yah," goda Bunda.

__ADS_1


"Iya nih, Bun. Jangan panggil 'Sam' deh kalau begitu. Gak enak juga, Bun."


Ya begitulah sepasang suami istri yang satu ini. Mereka bisa bergosip, bahkan langsung di depan orang yang mereka gosipin. Sam pun terkekeh.


"Baiklah, Ayah, Bunda."


Sam sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik keluarga Yohandrian. Mungkin jika tidak ada mereka, ia akan terpuruk lebih dalam ketika kehilangan orang tuanya. Terlebih Frans dan Tere telah menganggap Sam sebagai anak mereka. Sam bersyukur, masih bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai orang tua, walaupun bukan orang tua kandungnya sendiri.


"Nah … begitu 'kan lebih enak," ucap Tere sambil tersenyum. Ia tidak mau dipanggil 'nyonya' oleh anak angkatnya yang satu ini.


"Bun, Yah, Sam periksa dulu, ya?"


"Baiklah. Silahkan, Sam!" Frans mengizinkan Sam untuk memeriksa mereka berdua.


"Perkembangan Ayah dan Bunda cukup pesat. Besok Tante sudah bisa pulang sedangkan Om tiga atau empat hari lagi baru boleh pulang," ucap Sam setelah selesai memeriksa kondisi mereka. Ia bahagia dengan hasil pemeriksaannya yang membaik.


"Terimakasih, Sam."


"Sama–sama Bun, Yah. Sam pamit ya, Bun, Yah. Masih ada pasien yang harus diperiksa."


Frans mengangguk. Ia paham akan tugas dokter yang berat dan padat. Oleh karena itu, ia tak ingin menahan Sam untuk tinggal lebih lama.


"Dam …" sapa Sam sambil berlalu. Adam hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Sendiri, Bun. Daddy dan Mommy ada acara yang tidak bisa mereka tinggalkan."


Mereka mengobrol cukup lama, bercanda ria hingga mereka lupa waktu. Adam hanya menyimak pembicaraan mereka dan sesekali saja ia ikut andil dari pembicaraan mereka tatkala ia ditanya. Hingga waktu menjelang sore, Ayu pamit pada Frans dan Tere.


"Biarlah Adam yang mengantarmu, Sel. Bunda takut terjadi apa–apa dengan dirimu." Tere khawatir dengan keselamatan Ayu. Dia tidak mau hal serupa yang ia alami terjadi pada Ayu.


"Benar kata Bunda. Sebaiknya kamu diantar oleh Adam," tumpal Frans. "Dam, antar Sella pulang!"


"Baik, Yah."


🍂


"Tadi malam aku bermimpi atau bagaimana ya?"


Gea berpikir tentang apa yang telah terjadi. Ia merasa ada pria yang memeluknya ketika ia tidur. Tapi ia tidak tahu itu nyata atau mimpi. Ingin sekali ia menanyakan apakah itu nyata atau mimpi kepada Briel untuk mendapatkan jawabannya.


"Sadar–sadar, Gey!" Gea memukul–mukul kepalanya ringan. "Haihh … jangan, Gey. Nanti kau diledek habis–habisan kalau ternyata itu mimpi. Bisa dikira kamu nanti ingin dipeluk dia lagi. Tahu sendiri kan dia orangnya narsis!" ucap Gea dengan dirinya sendiri. Beberapa hari tinggal bersama dengan Briel membuatnya hapal dengan tabiat Briel.

__ADS_1


"Dorr!!"


"Astaga balon meletus!"


Gea kaget tatkala Runi mengagetkannya. Ia mengelus dadanya yang berasa copot jantungnya. Gea menatap Runi kesal.


"Iihh … gak usah ngagetin bisa nggak sih, Run?" kesal Gea. Bukannya merasa bersalah, Runi malah tertawa. "Seperti hantu saja dirimu!"


"Makanya kalau kerja itu jangan ngelamun. Mau pulang gak kamu, Gey? Sudah waktunya pulang, nih!" Runi menunjukkan jam tangannya pada Gea yang telah menunnukkan waktu jam kerja yang telah habis.


"Ya pulanglah, Run. Masak iya aku mau nginep!"


"Ciye yang kesal …" ledek Runi yang masih tertawa.


"Ngalamunin apa sih?" Runi benar–benar penasaran dengan gea. Ia mengejar Gea dengan pertanyaan–pertanyaannya. Gea masih bergeming, tak menjawab pertanyaan Runi.


"Apa jangan–jangan, kamu melamunkan malam pertamamu ya dengan suamimu?" tembak Runi yang sangat meleset.


"Ya–ya enggaklah!" jawab Gea cepat.


"Elleh … pasti itu. Karena kamu malah menghindar tak menjawab." Jawaban Runi membuat Gea memutar bola matanya jengah.


"Malam pertama apaan sih, Run? Ini udah malam kesekian kali!" bantah Gea. Ia tak mau Runi membahas tentang masalah seperti itu. Ia geli sendiri ketika membahas hal–hal begituan.


"Astaga Gea? Udah berkali–kali? Wah … hebat kamu, Gey," goda Runi semakin menjadi.


"Tauk ah terserah kau saja, Run!" ketus Gea. Ia tak mau bedebat lebih panjang dengan Runi. Karena satu sahabatnya ini tak akan menyerah sebelum dia puas.


Runi semakin tertawa. "Awas, Gey! Nanti suamimu digondol kucing betina, nanti kamu kelabakan lagi mencari dia!"


"Bodo, Run! Bye … aku duluan!"


Gea berlalu mengembalikan peralatan kebersihan ke gudang. Ia terlalu malu untuk menceritakan hal itu pada Runi. Runi melambaikan tangannya, lalu berlalu dengan tawa yang masih tercipta dari bibirnya.


🍂


Sementara di sebuah ruangan, seorang pria tengah bingung dengan raut muka yang sulit digambarkan. Bahkan dia sendiri bingung harus bersikap seperti apa setelah mendapatkan kabar terkini. Ia bahagia karena orang tuanya membaik. Namun ia harus memikirkan jalan keluar untuk hidupnya mendatang, yang dirasa mungkin akan semakin rumit.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2